Selasa, 10 April 2012

Membuka Akun Reksadana

    Hari ini iseng iseng saya mengulik informasi soal pembukaan rekening reksadana di sekuritas. Sekedar informasi, pembelian reksadana bisa dilakukan di bank dan di sekuritas.  Kali ini saya bandingkan pembelian reksadana di Danareksa dan Schroders berdasarkan informasi yang didapat dari call center keduanya.
     Pertama Schroders. Sekuritas asal Inggris yang mengklaim sudah berpengalaman selama 200 tahun. Mereka (sayangnya)hanya menjual reksadana melalui bank-bank yang ditunjuk. Fee yang dibebankan hanya fee jual beli. Untuk reksadana saham dan campuran fee maksimal 2%. Reksadana pendapatan tetap maksimal 1%. Proses pembelian atau penjualan cukup mengisi formulir yang disediakan disertai fotokopi KTP dan NPWP. Proses pembuatan rekening investor relatif cepat, hanya 10 menit (di salah satu bank BUMN). Sesudah mengisi formulir tabungan akan didebet di teler. Satu rekening investor per bank bisa dipakai untuk membeli bermacam-macam reksadana.

    Kedua, Danareksa Investment Management. Ada dua macam pembukaan akun reksadana di DIM, yaitu Reguler dan IMD. Proses pembukaannya sama. Cukup mengisi formulir yang disediakan dengan menyertakan fotokopi KTP, NPWP dan cover depan buku tabungan. Proses verifikasi memakan waktu kurang lebih 3-7 hari kerja.
    Rekening IMD disediakan bagi investor yang ingin berinvestasi secara berkala tiap bulan. Di bagian keterangan investor dalam formulir pembukaan, investor cukup mengisi pesan “autodebet dari bank xxx dg no.rekening xxx sebesar Rp xxx setiap bulan selama x tahun”. Setelah itu investor wajib berkoordinasi dengan bank tempat ia membuka tabungan untuk fasilitas auto debetnya.
    Biaya yang dibebankan antara lain biaya pembelian 1%, biaya transfer antar bank tiap transaksi auto debet, dan fee penjualan kalau penarikan kurang dari 3 bulan. Reksadana yang bisa dibeli lewat rekening IMD hanya reksadana saham dan campuran. Untuk rekening IMD tidak bisa melakukan penyetoran awal (lump sum). Hanya bisa auto debet dengan jumlah yang sama tiap bulan. Misal Rp 200 ribu per bulan.
    Rekening Reguler proses pembukaannya sama dengan rekening IMD. Kelebihannya investor bisa melakukan pembelian dan pencairan kapan saja melalui situs mrdo.danareksaonline.com. Disediakan juga fasilitas autodebet (tapi harus berkoordinasi dengan bank investor). Nasabah reksadana Reguler bisa membeli semua macam reksadana dan melakukan penyetoran awal (lump sum). Investor juga bisa membeli atau mencairkan reksadana di SID Danareksa dengan mengisi formulir yang disediakan.
     Dari hasil wawancara singkat dengan 2 call center ini saya mendapat kesan bahwa proses jual/beli reksadana di bank lebih praktis dan cepat. Cukup datang dengan membawa KTP,NPWP dan buku tabungan kita bisa membeli reksadana. Waktu yang dibutuhkan hanya 10 menit (kalau mati listrik bisa 30 menit). Nominal pertama pembelian mulai dari 100ribu. Dengan fee pembelian yang sama bisa mendapat pelayanan lebih cepat. Kelemahannya kita tidak dapat memantau perkembangan nilai investasi per unit tiap hari. Kita cuma mendapat laporan bulanan yang dikirim tiap bulan.
    Proses di sekuritas lebih lama, bisa mencapai 7 hari kerja. Fee yang dibebankan masih ditambah biaya transfer antar bank bila bank investor berbeda dengan bank kustodian reksadana yang berkaitan. Kita hanya bisa membeli reksadana yang diterbitkan sekuritas yang bersangkutan. Kelebihannya, perkembangan investasi reksadana bisa dipantau tiap hari. Kita bisa jual beli reksadana setiap saat.
    Keterangan yang bisa dilihat di situs keduanya cukup informatif. Schroders menyertakan keterangan proses jual/beli dan switching reksadana dengan baik. Prospektus dan kinerja bulanan diperbarui setiap saat. Tampilan situsnya relatif bersih dan bersahabat.
     DIM juga menyediakan kinerja dan proses pembukaan akun. Sayangnya proses pembukaannya lama dan prosedurnya berbelit-belit. Fee yang dibebankan juga tidak sinkron antara situsnya dan call center. Situs DIM menyatakan kalau nasabah dibebaskan dari semua biaya. Sedangkan call center mengatakan nasabah dibebani biaya 1% dari nilai pembelian.
    Saran saya, untuk investasi jangka panjang dan lebih mengutamakan keamanan sebaiknya membuka akun reksadana di bank. Investor tidak tergoda untuk mengecek nilai investasi setiap hari dan proses auto debet lebih mudah dan tidak merepotkan.  
     Akun reksadana online lebih berguna untuk investasi jangka pendek dengan jangka waktu 3 bulanan (jangka waktu minimal tidak terkena fee penjualan).Ketika reksadana sudah naik 8% bisa dijual. Investor yang tertarik dengan saham tapi masih takut dengan fluktuasinya juga bisa mencoba reksadana online. Fluktuasi reksadana tidak seliar saham walau imbal hasilnya juga lebih kecil.
  

0 komentar: