Senin, 18 Februari 2013

Saham Defensif



Teorinya, saham defensif adalah saham yang pergerakan relatif atau koefisien korelasinya terhadap IHSG kurang dari 0.5. Istilah kerennya, β ≤ 0.5. Pergerakan saham defensif tidak atau kurang dipengaruhi IHSG.


Dulu, tahun 2000an, saham defensif identik dengan sektor konsumer, mencakup Unilever, Gudang Garam, Indofood Grup (ICBP dan INDF). Tapi sejak mereka ramai-ramai membangun pabrik baru dan pendapatan naik puluhan persen, mereka justru jadi penggerak index. Pernah dalam satu hari ICBP (Indomie) dan Unilever naik bebarengan sebesar 300 rupiah dan membuat IHSG naik ke zona hijau dari sebelumnya minus 20 poin.

Kalau menurut beberapa tulisan yang saya baca, kata defensif pada saham defensif mengacu pada sifat industrinya yang memproduksi bahan-bahan pokok penunjang hidup alias sembako. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dan belum semua kebutuhannya tercapai membuat perusahaan-perusahaan yang memproduksi kebutuhan pokok terus naik penjualannya walau sedang krisis sekalipun.

Dalam kondisi banjir atau gunung meletus, mi instan dan biskuit sangat dibutuhkan (haloo…Indofood grup). Kalau stres, kaum pria cenderung merokok. Bahkan dalam suasana mapan dan bahagia, konsumsi makanan dan rokok tetap jalan. Mau sehat atau sakit, orang tetap minum vitamin atau suplemen makanan. Singkatnya, saham defensif adalah saham sektor konsumer yang kebal krisis.

Karena kebal krisis, saham defensif kerap dipersepsikan sebagai saham yang aman dan tidak pernah turun. Tapi benarkah demikian? Untuk jangka panjang, lebih dari 3 tahun hal ini mungkin ada benarnya. Saham sektor konsumer yang defensif nilainya cenderung naik puluhan persen dalam 2 tahun. Tapi kalau dilihat harian, saham defensif tetaplah saham normal yang fluktuatif. Saham defensif juga tidak luput dari aksi jual besar-besaran.

Pada 12 dan 13 Desember 2012, saham Unilever dijual besar-besaran hingga turun dari 25800 ke 22750 karena ada berita kenaikan royalti ke induknya di Belanda sana. Setiap kali Indofood dan Indomie mencetak rekor harga tertinggi, mereka cenderung turun dan stuck di posisi yang sama selama berminggu-minggu. 
Saham Defensif yang masuk LQ 45 Edisi Februari-Juli 2013 antara lain : Unilever (UNVR), INDF (Indofood), ICBP (Indofood CBP alias Indomie), GGRM (Gudang Garam), KLBF (Kalbe Farma). Di luar LQ45 ada KAEF (Kimia Farma), INAF (Indofarma), HMSP (HM Sampoerna), AISA (TPS Food), STTP (Siantar Top). 

Kesimpulannya, saham defensif memang aman selama niat kita memilikinya adalah berinvestasi dan mengejar dividen. Untuk trading saham defensif, dibutuhkan kesabaran ekstra besar karena pergerakannya betul-betul lambat.

0 komentar: