Rabu, 03 Juli 2013

Game of Thrones


    Di suatu benua di dunia antah berantah, tersebutlah benua Westeros. Benua ini hampir selalu dilanda perang antar suku atau antar keluar untuk mendapatkan sumber daya (makanan, air) atau meraih kekuasaan.
     Ada 4 keluarga utama yang sering disebut di Westeros. Mereka adalah Baratheon (disimbolkan dengan Rusa), Lannister (Singa), Stark (Serigala), dan Targaryen (Naga). Keluarga minornya antara lain : Greyjoy, Tully, Arryn, Tyrell dan Frey.
     Cerita dibuka dengan Robert Baratheon, raja Westeros saat itu, yang mengunjungi kawan lamanya, Lord Eddard “Ned” Stark untuk memintanya menjadi tangan kanan raja (Hand of The King) guna melawan intrik dalam kerajaan terkait kematian Jon Arryn, anggota Dewan Penasihat Raja. Kepergian Ned Stark ke ibukota Westeros, acap disebut King’s Landing, menjadi tonggak awal bergulirnya cerita Game of Thrones.
    GoT diangkat dari novel fiksi karangan George R.R Martin yang berjudul A Song of Ice and Fire. Selain Game of Thrones, novel fiksi ini juga diadaptasi menjadi game laris Minecraft di OS Android dan iOS. Karena merupakan adaptasi, jangan kaget kalau cerita dalam novelnya berbeda dengan versi televisinya. Walaupun sama-sama seru, tapi A Song of Ice and Fire agak membosankan. Alurnya lambat dan ruwet. Berbeda dengan menonton Game of Thrones atau bermain Minecraft dimana kita disajikan kejutan terus menerus.
    Sampai tulisan ini dibuat, Game of Thrones sudah menyelesaikan Season 3 dan sudah menewaskan beberapa karakter yang masih hidup di versi novelnya. Mereka yang di”bunuh” mencakup Ned dan Robb Stark, Viserys Targaryen dan Robert Baratheon. Season 1 Game of Thrones mendapat serangkaian pujian dan penghargaan. Season 2 nya meraup kritik dari kritikus yang sadar popularitas. Semua episode Game of Thrones laris manis dibajak.
    Latar waktu, tempat dan kostum dalam Game of Thrones diadaptasi dari Eropa abad Pertengahan. Saat pertama menontonnya, saya tercengang mendapati kemiripannya dengan sejarah Eropa Pertengahan. Jerman diwakili keluarga Stark dan Tully, Bavaria oleh Lannister, Prancis oleh Baratheon, Inggris oleh Greyjoy, Italia oleh Tyrell, dan Skandinavia oleh Targaryen.
   Porsi nudity dan seks dalam Game of Thrones cukup besar. Di season 1 dan 2, tiap 2 episode hampir selalu ada adegan seks dan nudis. Kalau tidak suka, saya anjurkan lihat versi DVD di laptop karena kita bisa skip atau meminimalkan gambar tanpa kehilangan dialog.
   Porsi kekerasan lebih besar lagi, sesuai dengan tag nya yang berbunyi : You Win or You Die. Kita hampir setiap menit disuguhi perdebatan, umpatan atau pertempuran. Dalam satu season, minimal ada 2 tokoh yang dipenggal.
    Di luar perang dan seks, Game of Thrones mengajarkan pemirsanya agar memahami politik dan bagaimana memainkan politik dengan cantik dan aman melalui tindakan dan perkataan. Kita bisa lihat bagaimana Daenerys Targaryen, Robb Stark dan adik-adiknya Jon Snow dan Arya Stark, serta Tyrion Lannister berjuang mempertahankan idealisme dan nilai yang mereka anut sambil berkelit dari maut dan ancaman. Daenerys agak beruntung karena dia punya naga dan pengikut setia, tapi Stark sekeluarga kurang beruntung karena kawanan serigala tidak sekuat naga dan anggota keluarga mereka tidak bisa bersatu.
   Kita belajar bagaimana memanfaatkan “pion” untuk mencapai tujuan pribadi atau keluarga dari Tywin Lannister. Salah bertindak atau mengambil keputusan, bisa berujung maut seperti yang dialami Ned dan Robb Stark.
    Sebetulnya saya tidak terlalu suka menonton Game of Thrones, tapi dialog-dialog yang diucapkan serta jalan cerita yang sulit ditebak membuat saya ketagihan menonton sampai season 3. Game of Thrones bukan jenis serial TV yang saya lihat berulang kali seperti CSI, The Newsroom atau White Collar. Namun Game of Thrones mengajarkan politik dengan cara yang kejam sekaligus elegan bagi saya.

Dracarys!! ^o^

0 komentar: