Senin, 19 Agustus 2013

Timing Investasi

image courtesy of money.cnn.com
Dulu, waktu masih lugu dan polos, belum mengerti dasar-dasar investasi, saya diajari bahwa lebih untung berinvestasi bila rajin masuk-keluar bursa berulangkali. Keuntungan kecil tapi ajeg lebih berharga daripada menunggu saham naik tinggi beberapa tahun kemudian. Untuk menentukan saat masuk dan keluar dari saham atau reksadana pakai analisa teknikal, karena chart tidak bisa bohong.
Saya menuruti nasihat itu. 3 bulan pertama memang mendulang untung, tapi sesudah itu keberuntungan saya habis. Dana saya nyangkut di sejumlah saham “bagus”. Penentuan waktu masuk-keluar pasar modal tidak lagi berjalan sesuai chart.
Sejak saat itulah saya mulai belajar analisa fundamental dengan lebih serius. Buku-buku karangan Benjamin Graham, John Bogle, Mohammed El Erian, Paul Samuelsson, John Maynard Keynes, dan Nassim Taleb saya lahap. Dan saya tersadar bahwa market timing (berulang kali masuk keluar bursa pada saat yang “tepat”) itu omong kosong belaka. Begitu pula dengan idion : informasi tersebar merata di pasar.
Market timing adalah iming-iming yang paling sering diucapkan pialang/marketing kepada investor dan nasabah. Mereka bilang,”dengan market timing kita bisa memaksimalkan keuntungan”. Kalau segampang itu menentukan market timing hanya dengan chart, kenapa tidak masuk bursa sendiri saja? Kenapa harus menyedot dana investor dan nasabah sebanyak mungkin? Apalagi sampai berkelit “tidak ada yang tahu pergerakan market” saat investor menanyakan hasil investasinya yang hilang atau rugi. Padahal investor di awal sudah dijanjikan keuntungan besar dengan market timing.
Dasar pemikiran market timing sederhana : beli saham (masuk) saat harga mulai naik dan jual saham (keluar) saat harga mulai turun. Kedengaran gampang kan? Tapi siapakah pialang sehingga bisa menentukan kapan saham akan mulai rally (naik terus-terusan) dan kapan ia sudah mencapai harga puncak atau malah turun?
John Bogle dan Barry Ritholtz sampai-sampai menertawakan metode market timing nyaris setiap bulan. Di blog dan kolom surat kabar, mereka menyajikan statistik kerugian dari investasi yang mencoba market timing dan keuntungan mereka yang berinvestasi jangka panjang.
Investor yang memakai market timing menanggung keuntungan yang jauh lebih kecil daripada investor jangka panjang karena mereka mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar untuk jual beli saham atau reksadana.
Contoh saham XXX yang antara bulan Juli 2010-Juli 2011 mengalami kenaikan harga 30%. Biaya beli di sekuritas A 0.15%, jual 0.25%. dividen yang dibagikan 2% dari nilai saham. Investor yang mengoleksi saham dalam setahun memperoleh untung kenaikan harga saham + dividen dikurangi biaya beli (30%+2%- 0.15%) sebesar 31.85%. Jika ia berniat menjualnya di bulan Juli 2011 ia untung 31.6%.
Sementara investor atau trader yang bolak-balik beli jual saham XXX 8kali setahun (beli 4x, jual 4x) akan menanggung biaya (0.15+0.25)% x 4 = 1.6%. Keuntungan yang didapatnya ±30.4%. Swing trader yang bisa beli-jual 40x setahun biayanya lebih besar lagi, mencapai 8%. Keuntungannya cuma 24 %.
Ini baru komponen biaya beli-jual. Belum biaya denda margin kalau beli saham dengan berhutang. Belum biaya koneksi internet untuk bertransaksi. Belum biaya pulsa telepon untuk berkonsultasi dengan pialang.
Dan baru satu jenis saham untuk satu tahun. Semakin banyak saham yang dikoleksi dan semakin lama waktu memegangnya semakin besar keuntungan investor. Kerugian trader juga semakin besar kalo ia mengoleksi banyak saham sekaligus dengan sistem masuk-keluar bursa.
Karena besarnya biaya yang harus ditanggung inilah para mahaguru investasi itu jarang yang berani swing trading dan memilih untuk menjadi investor pasif (kecuali Keynes dan Taleb yang memakai swing trading untuk menguji teori dan hipotesis mereka). Padahal mereka mengelola dana miliaran dolar/euro/yen, seperti John Bogle di Vanguard, Mohammed El Erian di Pimco atau Nassim Taleb di Empirica

0 komentar: