Jumat, 13 September 2013

Kenaikan BI Rate Menjadi 7.25%

image courtesy of bisnis.liputan6.com
Per 12 September 2013 Bank Indonesia secara resmi menaikkan BI Rate (suku bunga acuan) 25 basis poin menjadi 7.25%. Tujuannya? Meningkatkan daya tarik surat utang negara, menjaga nilai tukar rupiah (agar kembali stabil di kisaran 9-10ribu per US$) dan meperlambat inflasi.

Kebijakan ini jelas menuai protes dari dunia usaha. Kenaikan BI Rate pasti membuat perbankan menaikkan suku bunga kredit. Dilansir Kontan, BCA (yang terkenal dengan kredit murahnya) bersiap menaikkan kredit korporasi ke angka 10-11%. Saat BI Rate masih 5.75% bunga kredit Mandiri dan BRI sudah melebihi 10%. Sekarang, bisa saja naik melebihi 14%.
Kredit yang pertama kali terkena dampak kenaikan BI Rate adalah kelompok kredit konsumsi yang meliputi : kartu kredit, KPR, dan KTA. Nilai kenaikannya bisa mencapai 2-4%. Kredit korporasi diperkirakan tidak akan naik terlalu tinggi, karena tenornya panjang dan bank tidak ingin kehilangan nasabah yang berharga.
Naiknya suku bunga kredit secara langsung mempengaruhi melambatnya laju ekonomi. Konsumsi dan belanja masyarakat pasti menyusut. Sekarang mereka perlu menghitung ulang bunga yang dibebankan jika memakai kartu kredit atau KTA. Wajar jika BI merevisi target pertumbuhan Indonesia menjadi 5.5-5.9% (sebelumnya 5.8-6.2%).
Segi positifnya, kenaikan BI Rate memperlihatkan bahwa Bank Indonesia sedang memperketat kebijakan moneter. Suku bunga acuan yang tinggi memacu orang untuk menabung di bank atau berinvestasi di surat utang sehingga mengurangi jumlah uang beredar. Berkurangnya volume uang berarti memperlambat laju inflasi (asal dibarengi rupiah yang stabil). Laju inflasi bulanan Agustus yang mencapai 1.12% (MoM) dan 7.94% (inflasi tahun berjalan/year to date) menjadi sinyal bahwa BI perlu memperketat peredaran uang.
Naiknya yield surat utang Indonesia dan peringkat surat utang Indonesia yang masih Ba2 (Moody’s) dan BBB- (Fitch) bisa menarik dana asing (dalam bentuk valas) ke Indonesia, yang kemudian akan meningkatkan cadangan devisa BI yang sudah tergerus banyak.
Sebagai investor ritel, kita bisa bersiap untuk membeli ORI yang mungkin rilis November 2013. Kupon lebih dari 7.25% dengan tenor 3 tahun terlalu menggiurkan untuk dilewatkan. Investor saham bisa mulai mengakumulasi saham-saham andalan (diluar multifinance dan perbankan) yang nilainya mungkin masih turun 1-2 bulan ke depan.
Manajer investasi pengelola reksadana pendapatan tetap saat ini pilihan portofolionya mengerucut ke obligasi jangka pendek (tenor kurang dari 5 tahun). Sedangkan pengelola dana asuransi dan dana pensiun bisa menyiapkan uang tunai untuk penawaran SBS yang pastinya menjanjikan imbal hasil tinggi.


0 komentar: