Jumat, 11 Oktober 2013

Government Shutdown di Amerika

Sudah seminggu lebih kita diributkan dengan berita goverment Shutdown di Amerika Serikat sana, sampai-sampai Obama membatalkan kunjungannya ke APEC dan Asia Tenggara. Tapi apa sebenarnya goverment shutdown?

Goverment shutdown berarti kegiatan pemerinta Amerika Serikat berhenti total. Layanan masyarakat, Polisi, Tentara, FBI, CIA, DEA, dll libur sementara. Kenapa? Karena APBN Amerika Serikat tidak disetujui Parlemen di sana. Kenapa Parlemen menolak menyetujui? Karena mereka berada di partai lawan presiden, Republikan, yang menolak penyediaan asuransi untuk kaum tak mampu (biasa disebut ObamaCare) DAN menolak kenaikan pajak DAN menolak menaikkan batas hutang pemerintah Amerika Serikat. Jangan kaget, Republikan di Amerika Serikat memang berpola pikir sama dengan kelompok Islam garis keras (FPI, HTI, FUI) dan organisasi kemahasiswaan ekstrem kanan (KAMMI) di Indonesia.
Di Indonesia, kalau APBN tidak disetujui oleh Parlemen (dalam hal ini DPR) maka pemerintah akan memakai APBN tahun sebelumnya. Amerika Serikat tidak punya keistimewaan seperti itu. Makanya pemerintah betul-betul mandeg saat APBN tidak disetujui. Di Bumi ini, yang bisa mengalami shutdown hanya pemerintah Amerika Serikat saja.
Apa pengaruhnya bagi negara lain? Belanja pemerintah Amerika Serikat jadi berkurang atau bahkan hilang. Padahal banyak negara atau perusahaan yang bergantung pada mereka, seperti perusahaan penyedia jasa keamanan dan persenjataan atau negara yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat. Pemerintah Meksiko masih bergantung pada Amerika Serikat untuk memberantas mafia narkoba dan perdagangan manusia. Pendapatan perusahaan senjata Lockheed Martin sangat bergantung pada pemerintah Amerika Serikat karena merekalah konsumen utamanya.
Pengaruh kedua yang lebih mengerikan adalah pemerintah Amerika Serikat terancam gagal membayar hutang pokok obligasinya yang jatuh tempo 17 Oktober 2013 alias default. Departemen Keuangan Federalnya saja tutup, bagaimana mau mentransfer dana milyaran dolar? Saat tulisan ini dibuat, sudah ada beberapa bank raksasa yang menjual obligasi “celaka” tersebut. Di dunia finansial, pemerintahan dengan obligasi berperingkat AAA sampai gagal bayar itu sampai gagal bayar sungguh memalukan dan menurunkan kepercayaan publik. Bisa-bisa obligasi Amerika Serikat tidak ada yang mau membeli lagi.
Surat utang Amerika Serikat paling banyak dipegang oleh China dan Jepang. Kalau pemerintahan tetap tutup sampai 17 Oktober, bisa-bisa duit senilai hampir US$ 3 Triliun milik kedua negara tersebut lenyap. Jika China dan Jepang kehilangan uang sebesar itu, bisa diperkirakan mereka akan mengurangi investasi ke negara lain, termasuk Indonesia. Hal inilah yang paling ditakutkan pelaku pasar dan pemerintahan Indonesia.
Pengaruh goverment shutdown bagi bursa saham sebetulnya sangat kecil. Hanya emiten-emiten yang belanjanya tergantung pada pemerintah Amerika Serikat yang merana. Fluktuasi Dow dan Nasdaq nyaris tidak dipengaruhi goverment shutdown .

0 komentar: