Kamis, 21 November 2013

Nobel, will Indonesia get it?

           
Seorang teman pernah bertanya,”anak-anak sekolah sekarang sudah bisa memenangkan nobel sains, kenapa Indonesia tidak pernah menang Nobel betulan?”
           Oh well, for me the question sounds naive. So I answered “ di Nobel mata pelajaran, anak-anak itu sudah disediakan pertanyaan,  yang perlu mereka lakukan hanyalah menjawabnya. Diperlukan imajinasi terbatas sesuai konteks dan kemampuan matematika hebat. Mereka bahkan sudah terlatih menjawab soal-soal tersebut selama berbulan-bulan. They have prepared for what’s coming next."
            Beda dengan penghargaan Nobel betulan. Disitu, seorang ilmuwan atau ahli harus mengamati dinamika masyarakat sekitar, mengidentifikasi masalah, menentukan metode pemecahan masalah yang paling mudah diaplikasikan saat itu, dan menawarkan solusinya. Dan bukan masalah atau solusi yang sangat fantastis atau remeh, tapi solusi tersebut harus bisa meletakkan dasar pemecahan masalah yang revolusioner dan bermanfaat bagi umat manusia.
            Solusi yang ditawarkan atas masalah umat manusia oleh para pemenang Nobel Sains kadang terlihat absurd di mata mayoritas media dan orang Indonesia. Seperti behavioral analysis, model molekul DNA, struktur molekul kimia, partikal super nano, dll. Kita yang belum akrab dengan teknologi molekuler jelas bingung kenapa hal-hal di luar nalar bisa dapat Nobel.
            Untuk meraih penghargaan Nobel seseorang harus terlatih mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Bagi penggila podcast mungkin tahu Freakonomics, siaran ekonomi mikro yang dikemas menyenangkan, sederhana dan mudah dimengerti. Atau jurnal-jurnal keluaran Max Planck Institute, fasilitas penelitian sains terkemuka di Jerman yang rajin mempublikasikan hasil riset-riset yang dilakukannya.
            Freakonomics atau Max Planck mungkin terlihat sederhana dan remeh, tapi justru dari sinilah calon laureate-laureate Nobel baru bermunculan. Bermula dari hal-hal sederhana dan melangkah ke masalah mendasar kemudian menemukan solusi yang revolusioner.
            Jujur saja, Indonesia belum punya itu semua. Sains masih dipandang sebelah mata. Profesi ilmuwan dan peneliti kurang dihargai. Dorongan untuk memperbanyak riset nyaris tidak ada. Ilmuwan-ilmuwan lokal yang betul-betul brilian lebih memilih hijrah ke mancanegara karena disini tidak ada yang menghargai atau memakai jasa mereka.
            Fasilitas penelitian dan dorongan untuk meneliti sains sangat minim. Jangankan dengan China atau Jepang, dibandingkan dengan Malaysia saja kita masih kalah. Jargon-jargon universitas riset masih menjurus pada bidang sosial, belum menyentuh sains.
            Akui saja, budaya meneliti di Indonesia masih sangat rendah. Jarang ada orang yang bersedia mengalokasikan waktunya untuk riset. Mungkin karena memang bukan budaya bangsa ini untuk meneliti. Kita lebih suka langsung menerima jawaban daripada berusaha mencarinya sendiri.
            Last but not least, umur Harvard University setara dengan kerajaan Demak. Ketika Harvard berdiri, Majapahit di ambang keruntuhan (saya sengaja tidak membandingkan dengan universitas di Eropa karena mereka sudah berdiri sejak abad pertengahan, dan masih berdiri sampai saat ini). Artinya: budaya belajar dan meneliti sudah ada sejak 500 tahun yang lalu di benua Amerika. Indonesia masih harus melalui jalan panjang kalau ingin meraih penghargaai Nobel.

            Kita bermimpi meraih Nobel. Namun perlu diingat bahwa untuk meraih mimpi butuh perencanaan dan kerja keras, bukan sekedar iri hati dan merasa jadi korban. 

0 komentar: