Senin, 25 November 2013

Perlukah Berhutang untuk Membiayai Kuliah?




Sudah 2 tahun ini berita tentang student debt menarik perhatian pers. Jumlah student debt sangat fantastis, mencapai $1 triliun. Beban bunga pada student debt mencapai 8%, bunga yang “rendah” untuk ukuran negara Indonesia (saat tulisan ini dibuat, BI rate di angka 7.5%) tapi mencekik leher bagi sebagian besar penduduk USA. Standar bunga (suku bunga dasar kredit) di sana hanya 2.5% (sumber: time.com).

Di Indonesia, berhutang untuk membiayai pendidikan masih sangat jarang ditemui. Kredit konsumsi, perumahan dan kendaraan lebih sering ditawarkan. Bahkan kaum millennials lebih suka mengambil kredit tinggi untuk membiayai pesta pernikahan daripada mencari kredit pendidikan. Padahal kalau menurut hitung-hitungan kasar, berhutang untuk pendidikan bisa meningkatkan nilai pendapatan di masa depan.
Daripada memaksakan anak untuk kuliah di Universitas kota kecil dengan SPP sekitar 200ribu per semester, bukankah lebih baik anak disekolahkan di Universitas di Ibukota provinsi atau di kota-kota besar di Pulau Jawa, yang walaupun mahal tapi menawarkan kualitas pendidikan lebih baik dan jaringan alumni mumpuni? (Sengaja saya kesampingkan faktor kecerdasan dan ketekunan, saya hanya berfokus pada sudut pandang finansial).
Kalau seorang anak bersekolah di Universitas Muhammadiyah atau sekolah tinggi agama yang tersebar di kota-kota kecil, jenjang karirnya cenderung mampet selama 10 tahun pertama. Mungkin lulusan STAINU dan UnBraw akan masuk di posisi yang sama dengan gaji yang setara. Tapi berkat kemampuan melihat peluang, meningkatkan kompetensi dan memperluas pergaulan, si alumnus UnBraw akan lebih cepat maju, entah dengan cara promosi, pindah ke perusahaan lain atau punya usaha sendiri. Sedangkan si lulusan STAIN akan tertahan di posisi yang sama karena sudah merasa nyaman.
Bayangkan kalau seorang anak memilih untuk bersekolah di Universitas Negeri di Pulau Jawa. Ia akan mendapatkan pergaulan lebih luas, pola pikir terbuka, jaringan alumni kuat dan etos kerja lebih baik (karena Universitas Negeri biasanya saling bersaing satu sama lain dan menetapkan standar pemahaman lebih tinggi agar bisa bersaing). Orang tuanya yang tidak bisa membiayai bisa memilih untuk berhutang ke bank. Biaya pendidikan S1.universitas negeri di Solo sampai lulus (di luar biaya hidup dan senang-senang) hanya 10-25 juta. Universitas Negeri di Purwokerto dan Malang mematok biaya 15-40 juta (dengan perkecualian fakultas kedokteran dan kedokteran gigi). Misalkan mereka berhutang 30 juta untuk membiayai pendidikan si anak di Malang, dengan bunga 15% per tahun, dengan jangka waktu 15-20 tahun. Kedua orang tua bisa mencicil biaya pendidikan tersebut per bulan. Kelak, ketika si anak sudah bekerja, ia bisa mengambil alih cicilan tersebut dengan namanya sendiri dan melunasinya.
Dengan mendiskusikan hutang biaya pendidikan dengan anaknya, orang tua bisa memberi edukasi finansial sekaligus mendorong si anak memanfaatkan waktunya sebaik mungkin ketika kuliah. Jika ia bisa lulus selama 4 tahun dan meraih pekerjaan segera setelah lulus, ia bisa meringankan beban orang tua sekaligus latihan bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri.
Sayangnya, asumsi-asumsi yang saya pakai di atas hanyalah mimpi L . Student debt masih dikategorikan Kredit Tanpa Agunan. Bunganya mencapai 28%, plafon yang diberikan maksimal IDR 200 juta (ga bakal cukup membiayai kuliah kedokteran di UI, UGM atau Unair), jangka waktunya cuma 3 tahun dan pemohon (orang tua pelajar) harus punya kartu kredit dengan plafon di atas 5 juta. Reality bites.
Bank-bank di Indonesia masih menganggap pendidikan bukanlah investasi. Kalau plafonnya sama-sama 400juta, mereka lebih suka menyalurkannya ke KPR daripada membiayai sekolah. Kredit pendidikan masih dikategorikan berisiko tinggi, lihat saja bunganya yang mencapai 28% setahun.
Sulitnya kredit pendidikan ini mungkin mencerminkan pola pikir masyarakat yang lebih suka mengkonsumsi gadget dibanding membiayai pendidikan. Kepuasan akan gadget bisa dinikmati saat ini, sementara investasi pendidikan baru bisa dinikmati 5-10 tahun mendatang.

0 komentar: