Minggu, 08 Desember 2013

Ignorant Youth : When Mandela Left



Nelson Mandela meninggal. Madiba telah pergi. Pejuang dan ikon persamaan hak asasi manusia itu akhirnya beristirahat dengan tenang. Ia akan dimakamkan 17 Desember besok di kota kelahirannya. Selamat jalan Madiba.

(Hampir) Seluruh dunia berkabung dan menangisi kepergiannya. (Hampir) Semua surat kabar, media cetak dan mediaonline memberitakan perjuangan Mandela, penderitaannya, belas kasihnya, kepemimpinannya, dan keahlian berdiplomasinya. Ia dipuji karena kesabaran dan keberaniannya. (Hampir) Semua masyarakat internasional mengenal dan menangisinya.
Hampir? Ya. Karena ternyata generasi muda, terutama mereka yang berusia kurang dari 24 tahun dan sebagian media Indonesia tidak peduli sama sekali. Mereka tidak tahu (dan tidak mau tahu) kalau berkat perjuangan hak-hak kemanusiaan Mandela lah mereka bisa mengenyam pendidikan dan hidup berkecukupan. Mereka bahkan menyamakan Madiba dengan motivator tv lokal. Ignorant. Kalaupun tidak tahu, mereka tidak mau repot-repot membuka internet (Google? Wikipedia?) walau punya akses internet 24 jam. Mereka lebih memilih merayakan keacuhan dan kebodohan mereka di media sosial. Mereka bahkan memposting gambar Morgan Freeman yang disangka Mandela lewat media sosial (Instagram, Twitter, Facebook, Path). Oh..generasi alay.
Media Indonesia, baik sekelas Kompas maupun tv.oon pun setali tiga uang. Alih-alih menyoroti perjuangannya melawan Apartheid mereka justru mengomentari baju batik yang dipakai Mandela. Seolah-olah berkat batik Madiba mampu berjuang. Dia tidak butuh batik. Batiklah yang butuh Mandela.
Seharusnya saya tidak gemas, marah atau sedih dengan kebodohan dan keacuhan generasi muda sekarang. Bukankah acara tv dipenuhi infotainment dan sinetron belasan kali sehari? Bukankah stasiun berita lebih suka menayangkan drama politik dibanding diskusi perdagangan, inovasi sains terbaru atau statistik kemanusiaan? Bukankah saya sering diejek karena menolak menonton tv lokal yang dangkal dan tidak ada isinya? Jadi kenapa harus marah?
Ignorant youth dan kedangkalan media adalah kewajaran di Indonesia. Mereka lah aliran utama. Pengamat ekonomi, penikmat budaya atau geek di keseharian adalah alien yang kurang diterima tatanan masyarakat. Kalau ingin diterima di pergaulan, wajib hukumnya menonton Indonesia Lawyers Club atau sinetron. Oh..Endonesa

0 komentar: