Minggu, 30 November 2014

LUPA

Lupa. Saya tidak sedang berbicara mengenai serigala legendaris pengasuh Romus dan Romulus, saya sedang membahas salah satu kekhilafan manusia. Saat ini saya punya kesulitan mengingat hal-hal kecil,seperti tanggal kadaluarsa roti dan lauk, tempat menaruh jepit rambut, siapa yang meminjam komik saya, atau siapa nama kenalan baru. Akibatnya makanan tersebut mubazir dan dibuang, terpaksa membeli jepit baru, komik tersebut hilang dan dicibir teman karena lupa namanya. Saya juga kalap saat ada obral buku sehingga membeli buku yang sudah dimilki. Untunglah perpustakaan daerah mau menerima sumbangan buku sehingga buku-buku tersebut ga mubazir-mubazir amat.
Lupa acap dialami saat pikiran sedang penuh, melompat-lompat, dan kurang fokus. Lupa juga terjadi saat kita kurang/tidak tertarik pada sesuatu, sedang lapar atau mengantuk. Akibat lupa pun bermacam-macam, bisa “sederhana” seperti buang-buang makanan , hingga pertengkaran dan renggangnya relasi.

Seiring dengan banyaknya penyebab lupa, pencegahan dan penanggulangan lupa pun bervariasi. Kita bisa memanfaatkan reminder di handphone, post-it yang ditempel di tembok,atau membuat asosiasi atau merepetisi hal yang ingin diingat. Jika sudah terlanjur lupa, obat paling manjur pastilah minta maaf (dari lubuk hati yang terdalam, ga usah pake “tapi”), memperbaiki kerusakan yang terjadi, dan berjanji untuk tidak mengulangi dan mencoba berhati-hati di masa depan.

Lupa adalah salah satu mekanisme pertahanan diri manusia. Kita tidak mungkin mengingat semua hal sekaligus. Kita pun tidak mungkin mengingat berbagai hal. Ada kalanya, kita perlu melupakan sejumlah hal, agar kita bisa maju dan meneruskan hidup. 

0 komentar: