Jumat, 29 Mei 2015

TV Series : Intelligence (2014)

Bagaimana rasanya punya prosesor (chip komputer) yang ditanam di otak? Chip yang bisa mengakses berbagai data pemerintah dengan cepat, bisa melakukan olah TKP sendiri, dan bisa melacak lokasi lawan atau kawan dimanapun mereka berada? Gabriel Vaughn (Josh Holloway) tahu rasanya, karena ia punya prosesor itu di otaknya. Ia bisa melakukan semua hal di atas, bahkan lebih, berkat kemampuan chip tersebut, ditambah pengalamannya sendiri saat bertugas sebagai tentara Delta Force.

Apakah chip tersebut membuat hidupnya lebih mudah? Sebagian kecil, ya. Ia tidak usah pusing memikirkan gaji, komisi, pajak, tetangga, sosialisasi, dan lain-lain. Hidupnya amat berkecukupan karena statusnya sebagai aset nasional. Tapi ia tidak bisa mencegah kematian istrinya, atau friksi dengan sahabatnya. Sederhananya, chip tersebut hanya membantu karirnya, bukan kehidupannya. Emosi manusiawinya teradang membuat otaknya rentan dibajak teroris, atau mendadak mengalami amnesia, atau depresi akut. Seperti komputer, ia harus terus menerus memperbarui antivirus, firewall, dan upgrade software. Berbagai potensi pembajakan itu membuat Agen Riley Neal ditugaskan mengawal dan menjaganya 18 jam sehari.
Kesan pertama yang muncul saat menonton episode pilot Intelligence adalah : this is what happen when Google transplanted to a human. Gabriel bagaikan Google yang bisa tahu segala sesuatu hanya dengan masuk ke internet. Prosesor di otaknya bisa berjalan dengan listrik bervoltase rendah dari tubuhnya. Ia bisa terus menerus mengakses internet dan menggali data tanpa perlu terhubung dengan kabel. Google, Big Data, Data Mining, Data Cruncher, Data Warehous, Decision Making, semua bisa dilakukan oleh satu orang, dalam waktu sesingkat-singkatnya. Scary.
Berapa banyak lapangan kerja yang bakal menghilang jika ada satu saja orang seperti itu? Sangat banyak. Manusia dengan prosesor di otaknya ini juga melanggar privasi dan hak kerahasiaan. Dalam Intelligence, penonton disadarkan hilangnya privasi dan hak-hak mereka saat mesin bisa mengambil data pribadi mereka sewaktu-waktu.
Sebagai sebuah cerita, Intelligence dikemas baik. Gabriel digambarkan tidak sekadar mesin, tapi tentara terlatih dengan perikemanusiaan tinggi. Riley, walau dingin, mampu menstabilkan suasana yang kadang memanas. Lilian, kepala USCom, pawai bermain politik dan peduli dengan kondisi staf-stafnya, termasuk ketika Riley harus mencari Gabriel yang depresi ditinggal istrinya.
Alur Intelligence cenderung lambat, tidak secepat NCIS atau CSI Cyber, tapi tidak membosankan dan tetap enak dinikmati. Pengembangan karakternya gradual, dan masuk akal. Ada daya tarik yang meminta penonton tetap setia mengikuti ceritanya. Humor antar karakternya terbangun baik. Penonton tersadar bahwa semua orang dalam USCom peduli satu sama lain. Worth watching for binge watching or a mere refreshing.


0 komentar: