Jumat, 10 Juli 2015

Kapan Kawin?

Ramadhan berakhir, tibalah Lebaran alias Idul Fitri. Seusai bersalaman saling meminta maaf, muncullah pertanyaan paling mengesalkan, yaitu “kapan kawin?’. Mulai dari nenek, tante, hingga sepupu menanyakan hal itu. Saat saya menunjukkan betapa sengsaranya kehidupan mereka pasca menikah, well,  mereka menjawab sudah takdir.
Kembali ke pertanyaan “kapan kawin/nikah?”, ada satu pola yang saya temui. Hampir semua orang, ±94% orang yang menanyakan kapan kawin punya kehidupan pernikahan yang menyedihkan. Pasangan yang rese, jarang pulang ke rumah, enggan ikut mengurus rumah dan anak, mertua galak, anak yang sulit bergaul, dan lain-lain. Keluarga yang tampaknya sering berdebat tapi kehidupan rumah tangganya stabil dan harmonis justru lebih tertarik menanyakan karir, spesifiknya “kapan naik pangkat?”, atau rencana kehidupan selanjutnya (kapan ambil sertifikasi? Kapan ikut seminar/diklat/pelatihan? Kapan liburan? Kapan beli rumah?). Kelompok ke dua ini tidak pernah  bertanya “kapan kawin?’

Karena perbedaan yang sangat mencolok ini, saya memutuskan untuk mengobrol secara acak dengan sampel dari kedua kelompok. Saya penasaran, apa yang ada di pikiran mereka? Apa yang membedakan kelompok pertama dengan kelompok kedua?
Sampel dari kelompok pertama menganggap bahwa pernikahan adalah kodrat manusia, yang harus dijalani untuk meneruskan keturunan dan membuat orang tua berbahagia. Bagi mereka, menikah dengan siapa pun tidak masalah asalkan menikah. Suami dan orang tua wajib dihormati. Masalah rumah tangga cenderung dibiarkan hingga menjadi bara dalam sekam. Komunikasi antara suami istri tidak sampai 4 jam sehari. Mereka percaya Allah akan menjaga keutuhan pernikahan mereka. Mereka tidak merasa perlu berbuat sesuatu yang lebih untuk pasangan mereka. Masing-masing merasa sudah melakukan tugasnya, dan tidak ada alasan berusaha lebih. Bila ada permasalahan, mereka cenderung diam, percaya bahwa waktu akan menyelesaikan semuanya. Yang menyedihkan, pandangan mata mereka kosong saat bercerita tentang rumah tangga dan kehidupan mereka (playing Dead Inside by Muse).
Sampel dari kelompok kedua lebih moderat. Mereka menganggap pernikahan adalah kesempatan berkembang menjadi manusia seutuhnya. Mereka terlihat sering berdebat/bertengkar karena mereka tidak takut mengungkapkan pendapat mereka mengenai pasangan atau keluarga mertua. Mereka punya pendapat tersendiri mengenai peran agama dan masyarakat dalam institusi pernikahan. Bagi mereka, single/jomblo lebih baik dibanding hidup seperti neraka bersama pasangan yang tidak cocok lagi. Pasangan dari kelompok kedua ini seperti sahabat yang menikah, dibanding relasi tuan-hamba dari kelompok pertama. Pasangan dari kelompok kedua lebih sering khawatir tentang uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, tapi mereka terbuka membicarakannya dan aktif mengeksplorasi berbagai pilihan. Saat diwawancarai, mereka cenderung bersemangat menceritakan pasangan, keluarga, dan pilihan karir mereka. No hard feelings, only sense of attachment.

Saya tidak hendak membuat kesimpulan, karena tidak ingin terdengar menghakimi. Bagi saya, pernikahan adalah sebuah pilihan, pilihan yang dibuat dengan sadar setelah mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangannya. Setelah membaca obserbasi singkat di atas, saya ingin teman-teman membayangkan, kehidupan seperti apa yang ingin dijalani? Pernikahan seperti apa yang diinginkan? Apakah yang sesuai tekanan masyarakat, agama, atau orangtua? Atau yang sesuai dengan kebutuhan kita?

0 komentar: