Rabu, 06 Januari 2016

‘71

Di Indonesia dulu dan sekarang, area pemberontakan dan separatisme selalu menjadi ajang adu nyawa bagi tentara. Hampir tiap bulan selalu ada tentara yang terluka atau tewas karena konflik. Poso, Aceh, Ambon, Wamena, Tolikara adalah sebagian tempat konflik yang selalu menelan korban. Sebagian besar, jika tidak bisa dikatakan semua, berita selalu berfokus pada kejadian versi pihak berwenang dan mencari kambing hitam. Mereka tidak pernah berfokus pada kondisi mental dan psikologis tentara-tentara yang diterjunkan ke lapangan, seperti yang dilakukan film ’71.

’71 adalah cerita tentang seorang prajurit Inggris British dalam penugasan pertamanya di wilayah pemberontak di Irlandia Utara. Di hari pertama saja, ia sudah harus berhadapan dengan demonstrasi kaum separatis yang berakhir dengan baku tembak. Ia terpisah dari pasukannya karena ngotot menolong temannya yang terluka. Saat ia terpisah inilah ia berhadapan dengan pemberontak-pemberontak yang masih remaja dan anak-anak. Gary Hook sang tentara pun dipaksa menghadapi realitas bahwa masih ada anggota separatis yang masih mau menolong dirinya yang terluka, di saat sekutu-sekutunya sendiri tidak peduli. Dalam kondisi terluka dan tercerabut dari kehidupan damai di Pulau Britania, ia menjalani kehidupan penuh konflik dan prasangka di Irlandia Utara.
Proses perjalanan Gary Hook si tentara dalam menemukan balatentaranya kembali dan interaksinya dengan berbagai pihak yang berkonflik adalah bagian paling menarik di ’71. Dialog-dialog yang cenderung pendek membuat penonton bisa mengerti cerita tanpa melirik subtitle. Suasana, pencahayaan, ekspresi, dan bahasa tubuh aktor-aktornya yang sangat baik membuat penonton betah menikmai ’71. Walau alurnya lambat, tapi konstan, tidak tiba-tiba dipercepat atau diperlambat. Walau mampu meninggalkan kesan yang mendalam bagi penonton (I still think about it 3 month later), ’71 hanya enak ditonton 2-3 kali. Berbagai pertanyaan yang muncul pasca menonton film ini menuntun saya menonton film-film bertema perang lain, seperti The Monuments Men yang tonenya lebih cerah, Timbuktu, dan Inglorius Basterds.

’71 merupakan salah satu film yang bagus ditonton bagi teman-teman yang ingin belajar dialog dan pengucapan ala Britania Raya. Dialog dan kalimat pendek, kata-kata yang mudah dipahami tanpa subtitle, banyaknya dialog tipe banter (2-3 orang berseberangan pendapat) membuat film sangat dianjurkan bagi kita yang ingin belajar logat English British. 

0 komentar: