Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label tourism

Kompasiana: Jelajah Negeri Sendiri

        Kompasiana, salah satu platform blog lokal, kembali menerbitkan buku. Kalau sebelumnya tema nasionalisme yang disajikan dalam bentuk naratif yang dibukukan, sekarang perjalanan keliling Indonesia yang disajaikan dalam tema besar Merawat Nasionalisme. Jika kedua buku sebelumnya cenderung menyajikan tema nasionalisme dalam bentuk curhat, maka tema jalan-jalan yang dibungkus nasionalisme ini disajikan dalam wujud narasi deskriptif.        Teman-teman yang pernah membaca DestinASEAN atau TNT Anthology mungkin merasa familiar dengan format buku ini. Sama-sama berisi kumpulan cerita jalan-jalan (traveling), sama-sama ditulis oleh pelancong dan sama-sama kurang promosi. Bedanya, DestinASEAN dan TNT Anthology mengambil pendekatan narasi pengalaman dan perasaan penulisnya saat melakukan perjalanan. Sedangkan Jelajah Negeri Sendiri memilih pendekatan deskriptif.

Pirate Latitudes by Michael Crichton

     A gracious novel by Crichton. Bercerita tentang konflik antar manusia dalam perburuan harta karun di Jamaika antara kapten kapal dengan awaknya, dengan pejabat pemerintah dan dengan pemilik sah harta karun.      Berbeda dengan Prey, Congo, Jurassic Park,atau novel laris Crichton lainnya, Latitudes lebih berfokus pada dialog dan konflik antar tokohnya. Alurnya pun lebih lancar karena sedikit sekali deskripsi sains atau sejarah yang dijabarkan. Latitudes lebih dekat ke Timeline, tanpa sains dan sedikit sekali background sejarah.

Tea&Book

    Saya seorang penggila buku. Dan salah satu tempat yang paling saya sukai untuk membaca buku adalah toko buku itu sendiri. Kenapa tidak? Tempatnya nyaman, sofanya empuk, kadang ada kolam ikan yang dilengkapi gemericik air, musiknya lembut. Sungguh tempat yang sempurna untuk menikmati buku.  Terkadang penjaga toko membiarkan pembaca-pembaca duduk nglesot di lantai. Pemandangan ini paling sering saya jumpai di bagian komik dan bacaan anak.

Batik Trans Solo

    Hari Sabtu, 13 Agustus 2011 kemarin saya berkesempaan mencicipi salah satu moda transportasi kota Solo, yaitu Batik Trans Solo dari stasiun Palur. Moda transportasi ini sejenis dengan TransJakarta dan TransJogja, berupa bus yang dilengkapi AC dan tempat duduk empuk yang melaju melintasi kota Solo. Ada dua koridor yang dilayani oleh Batik Trans, yaitu Koridor 1 dan Koridor 2. Keduanya berawal di Stasiun Palur, Karanganyar dan berakhir di Bandara Adisumarmo Solo.     Ketika saya mencoba menaiki transSolo dari stasiun Palur, kesan yang saya tangkap adalah kumuh. Halte bus transSolo di situ kelihatan kotor dan tidak terawat, petugas transSolo pun lebih banyak yang duduk-duduk sambil mengobrol. Tidak ada sosialisasi mengenai rute-rute yang dilewati transSolo di haltenya sekalipun. Berbeda dengan transJogja dan transJakarta dimana tiap haltenya dilengkapi petugas dan fasilitas hiburan seperti koran dan radio untuk menunggu bus lewat.

Pariwisata Indonesia, Sampah dan Korupsi

     Barusan baca Top 10 Best Value Destinations for 2011 dari LonelyPlanet.com. Sayangnya Indonesia tidak ada di daftar tersebut. Negara dan kota yang dianjurkan dalam daftar antara lain : Filipina, Bangladesh dan Paris.  Salah satu kriteria yang dipakai adalah destinasi-destinasi yang dianjurkan dalam daftar tersebut tetap murah walaupun mata uang kita nilainya terdepresiasi. Karena LonelyPlanet adalah situs yang berbasis di Amerika maka mata uang yang digunakan adalah USD.