Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label tvprograms

Netflix Binge Watching on Januari-Februari 2019

Setelah memutuskan untuk memperbarui langganan Netflix dan meninggalkan Viu, saya kembali ke kebiasaan lama, yaitu binge watching - menonton film secara maraton di Netflix. Serial pertama yang menarik perhatian saya adalah Dragons: Race to the Edge. Serial TV dari How To Train Your Dragons ini mengisi kekosongan waktu antara film pertama dan keduanya. Di serial ini dikisahkan Hiccup dan Dragon Riders (sahabat-sahabat Hiccup: Astrid, Fishlegs, Snotlout, Ruffnut dan Tuffnut) berhadapan dengan pemburu naga yang ingin menangkap dan menjual naga.

Anime : A Netflix’s Guide

A side from great documentaries and reality shows, Netflix also have some great anime. Namely: Castlevania, Fate/Apocrypha, or Sinbad. Even if some of non Netflix’s Originals is quite good, like Shokugeki no Souma, Haikyu!!, or Tokyo Ghoul. I’m not an hardcore otaku or anime fan, rarely watched them. The latest anime I watched the whole season was Fate/Stay Night unlimited blade works. It is so good i watched it ten times. First anime i watched at netflix was the Garden of Words. Its a story about a student who freqiently visit a woman on a garden only when its rain. They wil exchange words about daily life, food, or simply dreams. Slowly but sure, the student fell for the woman. Then one day, he finds out that the woman is an outgoing teacher at his school. The story of this movie is quite simple. How to scarred soul discover and heal each other. The most distinguished one about this movie is how good its animation. Its like 2D animation shot in 3D camera. The distance betwee...

My Take On Netflix

For the last 3 month I’m addicted to Netflix. First it was Chef’s Table (season 1), then Mindhunter, followed by Midnight Diner, The Big Family Cooking Showdows, Girlboss (not my taste but I keep on watched it until 6th episode), Kantaro the sweet toot salaryman, then banck to chef’s table (season 2). What really captivate my attention is how clean and beautiful Netflix’s show their scenes, and how fresh their stories are. Take for example Midnight Diner. Its stories are quite short per episode, only 21 minutes long. Yet every story offer down to earth, familiar, but different take on everyday problem. And it was refreshing, simple. Nothing is too dramatic nor bland. The Big Family Cooking Showdown is another enjoyable reality show. It is deemed boring by some critic, but I found some amusement in watching families cooking together, sharing love, laughter, and demonstrating teamwork between them. The champion wins because of the taste, which makes it unsurprising when an immi...

Midnight Diner

      Midnight Diner adalah sebuah warung yang hanya buka dari tengah malam hingga jam 7 pagi. Warung ini dikelola oleh Master (tida disebutkan spesifik namanya). Durasi tiap episode Midnight Diner pendek, hanya 30menit tiap episode. Cerita dalam tiap episode nya adalah cerita pendek tentang seseorang yang dikaitkan dengan makanan yg dipesannya di Midnigt Diner       Contohnya di episode Ham Cutlet. Seorang pengacara tua yg hampir pensiun, menemukan adik tirinya yg sudah puluhan tahun berpisah, dan berusaha membantu si adik memecahkan masalahnya. Di akhir episode, kakek pengacara tsb tetap menutup kantornya, tapi ia tetap menawarkan jasanya secara lepas (freelance).      Serial ini ringan, mudah dipahami, dan relatable. Kita pasti pernah berada dalam beberapa situasi seperti yg tergambar dalam cerita Midnight Diner. Misalnya berhadapan kembali dengan masa lalu, refleksi masa lalu, bertengkar dengan orang tua, kehila...

The Last Ship

Sebuah virus yang lebih mematikan dari Ebola dan lebih menular dari SARS menyerang penduduk bumi. Belum ada vaksinnya. Penduduk dunia yang tewas karena virus bertambah dengan cepat dari hari ke hari. Harapan terakhir ada di pundak virolog Dr. Rachel Scott dan awak kapal USS Nathan James. Mereka berjuang mencari vaksin virus tersebut agar dapat segera diberikan kepada orang-orang yang terinfeksi. The Last Ship adalah tontonan yang tepat bagi wanita pencandu ketegangan tapi tidak ingin kehilangan hiburan wajah-wajah tampan. Marinir-marini kapal USS Nathan James adalah gambaran ideal pasukan angkatan laut. Taktis, kuat, gesit, lincah, serba bisa, dan lumayan punya rasa humor. Bagi para wanita, inilah salah satu serial yang memanjakan mata.

CSI Cyber

Hollywood tidak henti-hentinya menelurkan serial baru bagi penonton televisi. Setelah deretan CSI, CSI New York, CSI Miami, NCIS, NCIS Los Angeles, Criminal Minds, kemudian muncul CSI Cyber. Hampir sama dengan Criminal Minds dan CSI, CSI Cyber bercerita tentang divisi FBI yang menganalisis, memburu, dan menangkap pelaku kejahatan dunia maya.

TV Series : Devious Maid

Apa yang terjadi bila seorang profesor universitas terkemuka alih profesi menjadi pembantu rumah tangga ( maid )? Ia menjadi maid impian semua keluarga. Efisien, efektif, multifungsi. Mampu membersihkan semua sudut rumah dengan cermat. Tangkas menghalau masalah. Cerdas memecahkan konflik. Plus, bisa menjadi teman yang sempurna bagi keluarga majikannya. Itulah yang dilakukan Prof. Marisol Suarez. Dosen sastra Inggris di salah satu universitas di California ini memilih banting setir menjadi maid karena anaknya dituduh membunuh. Dengan menyamar sebagai maid, ia berharap bisa menemukan pembunuh sebenarnya.

TV Series: Crisis

How far would you go for your children? Kalimat ini adalah tagline yang sempurna untuk serial televisi ini. Bercerita tentang sekelompok teroris yang membajak bus wisata SMA berisi anak-anak tokoh penting dan berpengaruh, menyandera mereka, dan memaksa orangtua mereka membunuh, mencuri, dan menyiksa orang lain dengan imbalan kebebasan putra-putri mereka.

Netflix’s House of Cards

Politik selalu menarik karena melibatkan drama yang bisa ditonton semua orang. Saat pemilu atau pembuatan undang-undang baru, selalu muncul kebingungan tentang apa yang sebenarnya dilakukan para wakil rakyat itu. Di saat itu, beberapa forum diskusi terkadang menyinggung serial televisi atau tontonan yang memberi penontonnya hiburan sekaligus pemahaman tentang politik. Saat ini, ada 3 serial televisi yang terkadang disinggung saat perdebatan politik memanas, yaitu: The West Wing, Hous of Cards, dan Veep. Pangeran Siahaan, seorang komentator sepakbola pernah menulis: di The West Wing, powerful people melakukan hal-hal baik. Di House of Cards, powerful people melakukan hal-hal mengerikan. Di Veep, powerful people melakukan hal-hal bodoh. Indonesia, sialnya, lebih menyerupai Veep. Saya sudah menonton ketujuh season serial The West Wing, dan setuju dengan pendapat di atas. Sasaran binge-watching selanjutnya adalah House of Cards.

TV Series: The West Wing (1999-2006)

Bagaimana menyeimbangkan kekuasaan? Bagaimana bernegosiasi dengan tepat? Bagaimana menyalurkan aspirasi politikus dan masyarakat dengan baik? Dan, bagaimana mengelola sebuah rumah tangga raksasa bernama negara dengan efektif? Serial televisi lawas berjudul The West Wing menyajikannya. Serial yang memotret keseharian presiden Amerika Serikat beserta staf-staf kepresidenannya di awal tahun 2000an ini menunjukkan kepada penontonnya, seperti apa kehidupan seorang presiden di negara (bekas) superpower? West Wing menunjukkan bahwa seorang presiden dan staf kepresidenan tidak harus secerdas profesor, tapi ia harus pandai berkomunikasi. Dalam serial ini, karakter yang harus serba tahu adalah kepala-kepala staf. Mereka harus hafal ribuan perangkat dan aturan hukum, sejarah, dan relasi politik antar tokoh penting.

TV Series : Intelligence (2014)

Bagaimana rasanya punya prosesor (chip komputer) yang ditanam di otak? Chip yang bisa mengakses berbagai data pemerintah dengan cepat, bisa melakukan olah TKP sendiri, dan bisa melacak lokasi lawan atau kawan dimanapun mereka berada? Gabriel Vaughn (Josh Holloway) tahu rasanya, karena ia punya prosesor itu di otaknya. Ia bisa melakukan semua hal di atas, bahkan lebih, berkat kemampuan chip tersebut, ditambah pengalamannya sendiri saat bertugas sebagai tentara Delta Force.

BBC State of Play by Paul Abbott

Di tahun 2010, ada sebuah film drama psychology-thriller  yang mencuri perhatian penikmat film. Jalan cerita dan endingnya sulit ditebak, tapi dialog dan latar belakang suasananya menggigit. Film tersebut punya premis: the one you’re ready to be taken a bullet for, sometimes is the one behind the gun. Walau didukung oleh sederet bintang papan atas seperti Helen Mirren, Russel Crowe dan Ben Affleck, film ts terasa membosankan. Setting suasananya terasa ketinggalan jauh dibanding dialognya. Suasana mencekam semakin luntur di akhir cerita. Film tersebut berjudul State of Play.

The Men Who Built America

Sewaktu sedang iseng-iseng browsing di Youtube, saya temukan rangkaian video yang sangat inspiratif, informatif, sekaligus menghibur, berjudul The Entrepreneur Who Built America. Video berdurasi hampir 2 jam ini ternyata adalah gabungan dari beberapa episode The Men Who Built America, salah satu program unggulan di saluran televisi History Channel yang ditayangkan 2012 lalu. Karena penasaran, saya pun memutuskan meminjam DVD nya dan menonton di kos.

Serial TV : The Libarians

Waktu saya kecil, pernah ada satu franchise film petualangan yang sangat membekas di benak, yaitu Indiana Jones. Sejak terakhir kali rilis di 2009, belum ada lagi studio film yang tergerak menggarap Indiana Jones. Meningkatknya tren adaptasi komik/novel ke film juga turut berkontribusi terhadap menurunnya minat terhadap Indiana Jones. Untunglah stasiun televisi TNT dengan sigap merilis serial yang punya premis mirip dengan Indiana Jones, yaitu The Librarians. Librarians bercerita tentang sekelompok pustakawan dengan keahlian spesifik yang mengumpulkan benda-benda sihir dari seluruh dunia sambil berperang melawan Serpent Brotherhood yang ingin menguasai dunia lewat sihir. Bagi penggemar manga, premis ini sangat familiar karena sudah banyak sekali komik/manga yang dibuat berdasar premis “menyelamatkan dunia” ini.

TV Series: 24

Ada satu serial lawas yang masuk watch list serial televisi saya di 2014, yaitu 24. Sebelumnya saya pernah menonton serial ini di 2008, tapi saat itu tidak terlalu tertarik karena tokohnya terlalu keras, tidak berperikemanusiaan, menghalalkan segala cara, plotnya mudah ditebak dan minim dialog. So, I skipped it. Di tahun 2014, setelah membaca review sana sini, dan banyaknya rekomendasi “must watch”, akhirnya saya putuskan untuk menontonnya, tentu setelah satu season usai tayang. Sejumlah review membandingkan 24 dengan The Bourne Tetralogy, sebagian membandingkannya dengan Captain America.

Pelajaran Dari Kesuksesan Polyglu Di Bangladesh

Melihat kesuksesan PolyGlu di Bangladesh, saya jadi berpikir, mungkinkah hal yang sama bisa dilakukan di Indonesia? Atau di proyek-proyek sosial lain? Selama ini proyek bantuan sosial kurang sustainable karena masyarakat yang jadi sasaran tidak dilibatkan. Pemberi bantuan (LSM & Pemerintah) merasa sebagai pihak yang lebih tahu dan lebih tinggi, menganggap penerima bantuan sebagai pihak pasif. Jika memakai pendekatan bisnis, pihak sekitar ikut dilibatkan. Mereka harus membayar, entah dengan uang, hasil pertanian, atau waktu untuk mendapatkan bantuan. Pemberi bantuan bertanggung jawab memberi penjelasan bahwa pertukaran ini jauh lebih murah dan bermanfaat bagi penerima bantuan atau masyarakat dibanding saat belum ada bantuan. Bahkan jika fasilitas fisik sudah terbangun, penduduk sekitar bisa diberdayakan untuk menyebarkan manfaat bantuan tersebut.

Social Business: PolyGlu di Bangladesh

Setiap hari minggu, NHK Jepang menayangkan program yang menginspirasi. Minggu lalu, 21 Desember 2014, mereka menayangkan program CSR yang dilakukan PolyGlu di Jepang. PolyGlu adalah perusahaan penyedia serbuk penjernih air. Hanya dengan 1 gram serbuk PolyGlu yang dilarutkan ke 1 liter air, kita bisa menjernihkan air tersebut hingga layak minum.

2014’s TV Series

Di tahun 2014 ini ada sejumlah serial televisi baru yang rutin ditonton tiap minggu. Di samping White Collar, NCIS:LA, Criminal Minds, Hannibal dan Newsroon, sejumlah serial televisi lain masuk ke daftar weekly watch list. Di antaranya: The Flash, Gotham, How To Get Away With Murder, Fargo, Cosmos, dan Merlin. 

Game of Thrones vs Mahabharata

Saya sama sekali tidak punya ide untuk membandingkan kedua acara televisi yang sedang ngetop di Indonesia ini sampai muncul sebua tweet yang intinya berbunyi “George RR Martin akan memperkenalkan 140 karakter dan membunuh mereka satu per satu”. Di saat itulah saya teringat Mahabharata. Baik Mahabharata maupun Game of Thrones punya ratusan karakter, baik karakter utama maupun karakter pembantu. Jumlah karakter di Mahabharata jelas lebih banyak. Kurawa, Pandawa dan masing-masing sekutunya saja berjumlah lebih dari 200 orang, belum termasuk anak-anak mereka. Karakter di Game of Thrones sepintas tidak sampai 60 orang. Yang rutin muncul di tiap season kurang lebih cuma 20an karakter. Sesuai dengan tweet guyonan di atas, karakter-karakter di Game of Thrones memang dibunuh satu per satu. Di season keempat ini saja lebih dari 3 karakter utama sudah tewas. Beda dengan Mahabharata yang separuh lebih karakternya baru tewas di episode 210 ke atas, saat perang Bharatayudha. Tewasnya kar...

MAHABHARATA

Apa acara tv impor terfavorit saat ini? Kalau ditanya ke remaja-remaja putri dan ibu-ibu rumah tangga, pasti Mahabharata jawabannya. Kalau penggemarnya anak-anak usia sekolah SD dan SMP di Jawa dan Bali saya masih bisa paham. Mereka harus menonton acara ini untuk materi pelajaran muatan lokal. Tapi remaja putri dan ibu rumah tangga? Sejujurnya saya tidak menyangka.