Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label movie

How To Train Your Dragon: The Hidden World

Awal Januari 2019 ini, industri bioskop di Indonesia dimeriahkan dengan film-film bagus yang tidak klise, seperti Keluarga Cemara, Milly dan Mamet, serta Lagi Lagi Ateng. Kali ini saya ingin bercerita tentang naga kesayangan yang lucu dan menggemaskan, Toothless dan penunggangnya, Hiccup. Mereka hadir lagi pada seri ketiga How To Train Your Dragon.

Isle of Dogs

Kemarin waktu terbang dari Palu ke Jakarta saya iseng-iseng menonton Isle of Dogs. Saya tertarik pada film ini karena sutradaranya, Wes Anderson, terkenal akan kesukaannya terhadap gambar-gambar yang indah dan tertata rapi. Walau diakui bahwa karya-karyanya kurang sukses di pasaran, tapi ia menuai banyak pujian. Ia adalah tipe sutradara yang mengedepankan cerita dan sinematografi, tapi tidak didukung dengan usaha pemasaran yang meluas.

Belok Kanan Barcelona

Film lokal minggu ini yang terpilih untuk ditonton adalah Belok Kanan, Barcelona. Kenapa? Karena saya pernah membaca novelnya waktu kuliah, and it so damn funny. Ketika novel tersebut diadaptasi dalam bentuk film, saya antusias menontonnya. Bayangan yang ada, film ini mungkin akan punya cerita yang mirip dengan Negeri Van Oranje (karena jalan cerita novelnya juga mirip).

Movie: Shoplifters

Bagaimana rasanya tinggal bersama keluarga yang tidak ada hubungan darah satu dengan yang lain? Inilah pertanyaan yang muncul saat saya membaca sinopsis Shoplifters. Dipicu oleh rasa penasaran, saya putuskan untuk membeli tiket film ini yang diputar saat penutupan Festival Film Jepang 2018. Shoplifters adalah cerita sebuah keluarga yang didera kemiskinan kronis sehingga harus mengutil (mencuri barang di toko) agar dapat bertahan hidup. Cerita diawali dengan Osamu (ayah) dan Shota (anak laki-laki) yang sedang mengutil di sebuah toko swalayan. Dalam perjalanan pulang, mereka menemukan balita/gadis kecil yang sedang bermain di luar. Malam yang sangat dingin membuat mereka memutuskan membawa balita tersebut pulang. Saat akan mengembalikannya ke rumah orang tua kandungnya, Osamu dan Nobuya (ibu) mendengarkan pertengkaran orangtua balita tersebut. Mereka pun memutuskan untuk merawat balita bernama Juri tersebut, dan mengganti namanya menjadi Rin. Dari sinilah cerita keluarga pengutil ...

Movie: One Cut of The Dead (OCoTD)

Walaupun tidak termasuk film yang ditayangkan di Festival Film Jepang, OCoTD berhasil menarik penonton untuk memenuhi bioskop. Bahkan beberapa aktornya bersedia datang ke Indonesia demi mengadakan meet and greet . Film horor/komedi ini memang sangat-sangat lucu, saya masih tertawa kalau mengingat ceritanya. Film dibuka dengan sekelompok kru film yang dikejar-kejar zombie saat mereka sedang syuting. Beberapa kru bahkan berubah menjadi zombie. Aktor utama wanita yang dikejar-kejar zombie harus berjuang bertahan hidup, termasuk memenggal kekasihnya yang berubah jadi zombie. Itulah cerita 30 menit pertama.

Movie: One Week Friend

One Week Friend (OWF) adalah film kedua dari Festival Film Jepang yang saya tonton. Tema utama: cinta. Kaori hilang ingatan setiap hari senin. Ia menjauhi semua orang yang mencoba berteman dengannya. Yuki, teman sekelasnya, berusaha mendekati dan membantunya mengingat dengan bertukar buku harian. Perlahan-lahan, Kaori bisa mengingat kejadian atau orang yang ditemuinya dari minggu-minggu sebelumnya. Yuki senang sekali. Namun, teman dan kekasih dari masa lalu Kaori datang. Kaori memperoleh kembali ingatan masa lalunya, dan melupakan Yuki.

Movie: Parks

Selama 7-16 Desember 2018, CGV Grand Indonesia menghelat acara Festival Film Jepang. Film pertama yang kutonton adalah Parks. Saat itu, sutradara Parks ikut hadir dan mengisi diskusi (dengan dibantu penerjemah). Cerita Parks berpusat pada mahasiswa semester akhir Jun (Ai Hashimoto) yang berjuang menyelesaikan tesis pasca putus dari pacarnya. Suatu hari ia berjumpa dengan Haru yang sedang mencari kekasih ayahnya. Mereka sepakat untuk bersama-sama mencari wanita bernama Sachiko tersebut. Motif Jun: menjadikan Sachiko sebagai tema tesisnya. Haru ingin menulis novel tentang Sachiko.

Chef: Three Star School Lunch

Seperti apa rasanya menikmati makan siang dari sekolah yang dimasak dan disajikan oleh koki ( chef ) yang meraih 3 bintang Michelin? Hoshino Mitsuko baru saja dipecat dari restorannya sendiri karena menyebabkan keracunan makanan pada seorang kritikus makanan. Dalam kondisi kesulitan uang, ia menerima tawaran seorang produser TV untuk menjadi koki di SD Mitsuba. Di situ ia tidak bisa seenaknya menentukan menu makanan. Ia harus patuh pada ketentuan harga dan gizi sesuai dengan Undan-Undang Makan Siang Sekolah. Sembari bekerja sebagai koki sekolah, di malam hari Mitsuko membuka warung tenda nya sendiri.

Crazy Rich Asians (Movie Version)

             Minggu lalu saya berkesempatan menonton salah satu film tentang orang-orang kaya Asia Tenggara yang diproduksi Hollywood dan semua aktor/aktrisnya memiliki darah Asia. Film yang termasuk genre komedi satir ini mengisahkan Rachel Chu yang pergi ke Singapura untuk berkenalan dengan orang tua kekasihnya. Di Singapura, ia menemukan bahwa keluarga kekasihnya sangat kaya (untuk ukuran Asia Tenggara) dan memiliki budaya yang berbeda dengan budaya China di Amerika tempat Rachel dibesarkan.     Buat yang pernah membaca novelnya tapi tidak tahu seperti apa pakaian/sepatu/tas/rumah yang dideskripsikan (30% isi novel Crazy Rich Asian adalah penyebutan merk rumah mode ternama Eropa dalam berbagai hal yang dipergunakan tokoh-tokohnya), maka dapat bersyukur saat melihat versi filmnya. Akhirnya kita bisa tahu seperti apa baju klasik 80an atau arsitektur Art Deco. Tone warna film yang lembut dan colourfull membantu penonton mengapresiasi ...

Detective Conan: Zero The Enforcer

Setelah sekian lama, hampir 3 tahun, abstain menonton anime di bioskop, akhirnya minggu ini saya memutuskan untuk menonton Detective Conan: Zero The Enforcer. Movie Detective Conan yang ke-22 ini adalah anime pertama yang diputar jaringan bioskop CGV setelah 4bulan yang lalu sempat menayangkan One Piece. Tidak ada versi 3Dimensi untuk anime ini, jadi cukup dinikmati di layar biasa. Anime ini tidak diputar di jaringan 21. Sepengetahuan saya, jaringan bioskop yang memutarnya antara lain CGV (dulu Blitz), Cinemaxx, dan Platinum. Conan: Zero The Enforcer adalah film yang dapat membuat penontonnya melupakan handphone dan jam tangan. Cerita mengalir dengan kecepatan yang bervariasi. Emosi dan rasa penasaran penonton ditumbuhkan pada setiap adegan. This movie is so good we can’t breathe. An action packed movie wrapped in tangled mistery. Every layer of its story will make you curious. Consistent with its predecessors, Conan Movie always highlights one of Tokyo or Japan’s lan...

Star Trek Beyond

         Aksi laga, pencarian makna hidup, dan arti keluarga adalah tema utama yang diangkat dari Star Trek Beyond. Dari segi jalan cerita dan greget, Beyond kalah jauh dibandingkan Star Trek: Into Darkness. Krall terlihat sangat inferior jika dibandingkan dengan Khan. Singkat kata: Beyond tidak meninggalkan kesan mendalam seperti Into Darkness. Tidak ada dialog mendalam. Tidak ada akting mengesankan dari pemeran protagonis maupun antagonis. Tidak ada duel tangan kosong yang memukau.

Talak 3 by Ismael Basbeth dan Hanung Bramantyo

Pertama kali tertarik menonton trailer Talak 3 ialah saat menunggu film Ngenest tayang. Waktu itu bioskop CGV Blitz baru saja dibuka di Jwalk, dan harga tiket nontonnya lumayan murah, IDR 20ribu untuk film lokal dan IDR 30ribu untuk film Hollywood. Saya tidak begitu tertarik menonton Ngenest, tapi itu adalah satu-satunya film lokal yang tayang jam 11.00. Sambil menunggu filmnya tayang, penonton disuguhi trailer-trailer film selama 10 menit. Dari sekian banyak trailer yang diputar, Talak 3 lah yang paling menohok. Pesan moral pernikahan yang terburu-buru, birokrat yang mudah disogok, dan pemandangan pedesaan Sleman yang cantik. I’m sold at the moment . Sesungguhnya trailer Talak 3 jauh lebih menarik dan membekas di ingatan dibanding Ngenest yang datar, membosankan, nyaris tanpa konflik, dan langka humor.

Album Musik dan Film Terbaik 2015

Musim penghargaan sudah tiba. Seperti biasa, bulan Februari adalah waktunya berbagi award di dunia seni akting. SAG, Golden Globe, Critic’s Choce, dan diakhiri dengan Oscar. Bagi saya, film terbaik tahun ini masihlah Mad Max: Fury Road dan The Intern. The Bigh Short, karena baru rilis di bulan Januari 2016, saya anggap film keluaran 2016, bukan 2015.         Saya bukan penggemar kronis film, lebih condong menghabiskan waktu mendengarkan album-album musik yang baru rilis, atau mendengarkan radio. Dan album yang paling saya sukai dan paling sering dimainkan di Media Player adalah EMOTION karya Carly Rae Jepsen (diputar 140 kali) dan Every Open Eye dari CHVRCHES (18x). Ada juga 25 dari Adele (6x) dan Taifun dari Barasuara (5x). Tapi saya kurang cocok dengan komposisi musik 2 album terakhir, dan segera bosan sesudah mendengarnya untuk kelima kali. Saya merasa sangat cocok dengan lagu-lagu Carly Rae Jepssen di EMOTION karena alunan nada-nadanya membawa kemb...

Siti by Eddi Cahyono

  Awalnya saya ragu menonton film terbaik 2014 versi FFI ini. Pertama: tone film ini hitam putih. Kedua: sutradara dan rumah produksinya kurang dikenal. Ketiga: ini film festival, yang berarti bakal membosankan atau terlalu mbulet. Tapi rasa penasaran mengalahkan keraguan. Bioskop dekat rumah pun menyediakan film ini walau hanya satu layar. Di Jogja, yang menjadi setting cerita ini, tiga merk bioskop mempersembahkan total 5 layar. Berbekal tiket seharga Rp 30ribu, es teh, pizza, dan tisu, saya memantapkan hati untuk menonton Siti. Dalam satu ruangan berkapasitas 200 penonton, cuma ada 10 orang yang menonton Siti. Layar sebelah yang menayangkan Surat Dari Praha agak lebih baik, ada 15 orang yang menonton, walau masih kalah jauh dibanding Single yang siang itu berhasil menarik puluhan anak SMP, atau Atlantos yang ditonton tiga puluhan anak TK beserta guru mereka.

The Intern

    Benarkah saat seseorang memasuki masa pensiun ia menjadi tidak berguna, hanya menjadi beban anak cucunya? Bagaimana jika di usia pensiunnya ia masih mampu beraktivitas normal, bahkan lebih produktif dibanding pekerja-pekerja seumuran cucunya? Bagaimana jika sang senior ini bekerja di perusahaan yang sangat kekinian, sebagai karyawan magang senior? Itulah yang dilakukan Ben Whittaker. Pensiunan wakil presiden perusahaan pencetak buku telepon ini bosan dengan hidupnya yang hambar. Ia sudah bertahun-tahun pensiun, sudah 2 tahun ditinggal mati istrinya, dan anak-anaknya sibuk dengan keluarga masih-masing. Ia merindukan rutinitas masa produktifnya. Maka saat ada lowongan dari salah satu perusahaan rintisan dekat tempat tinggalnya, ia memutuskan melamar. “Experience never get old” adalah tagline yang dipasang The Intern. Dalam film ini diceritakan bagaimana Ben beradaptasi dan berinteraksi dengan sesama karyawan dan bos barunya. Walau pertama-tama ia sempat diacuhkan, p...

Begin Again Dan Lonceng Kematian Compact Disc (CD)

Baru-baru ini saya menonton Begin Again, film musikal tentang idealisme dunia musik. Greta James yang patah hati akibat pacarnya selingkuh bertemu produser musik yang melarat dan tidak produktif. Berdua, mereka membuat sebuah album musik yang direkam secara langsung di ruang terbuka ( outdoor music ). Rencananya, album yang sudah selesai itu akan diserahkan pada sebuah label untuk dipoles dan didistribusikan. Setelah mengetahui bahwa ia dan bandnya hanya mendapat 10% dari harga penjualan sebuah CD, Greta memutuskan mendistribusikan sendiri albumnya lewat internet. Hanya dalam 24 jam, 10 ribu orang membeli albumnya. Begin Again sebenarnya sebuah film tentang keluarga dan kehidupan. Bagaimana bangkit setelah terpuruk, bagaimana berdamai dengan masa lalu, dan bagaimana menghargai orang-orang terdekat. Dialognya sederhana, karakterisasi dan evolusi tiap tokohnya mulus nyaris tanpa hambatan. Latar belakang cerita yang menyorot industri musiklah yang membuat Begin Again menarik...

Suite Francaise Dan Sisi Lain Perang

Pada hari Rabu, 6 januari 2016, harian cetak Kompas memuat sebuah berita menarik. Berita yang menyebutkan sambutan hangat rakyat Suriah terhadap kedatangan tentara rusia tersebut membuka sisi lain sebuah perang. Suriah yang diporak-porandakan perang saudara, dihancur leburkan ISIS, menyambut baik kedatangan pasukan Rusia. Rusia dipandang membantuk stabilitas dan menggerakkan perekonomian Suriah yang berbulan-bulan sekarat. Tentara Rusia tidak hanya menghalau ISIS dan Front Al Nusra, mereka membawa uang dan kemampuan belanja ( purchasing power ) yang sangat dibutuhkan menggerakkan roda bisnis Suriah. Sejak batalyon dan skuadron tentara Rusia datang, rakyat Suriah kembali bergairah memproduksi barang dan jasa, serta berdagang. Mereka kembali memproduksi makanan, minuman, hiburan, jasa, dan sandang untuk dijual kepada tentara Rusia. Setelah berbulan-bulan hidup dalam keputus asaan akan perang tiada akhir, rakyat Suriah kembali memiliki tujuan hidup.

‘71

Di Indonesia dulu dan sekarang, area pemberontakan dan separatisme selalu menjadi ajang adu nyawa bagi tentara. Hampir tiap bulan selalu ada tentara yang terluka atau tewas karena konflik. Poso, Aceh, Ambon, Wamena, Tolikara adalah sebagian tempat konflik yang selalu menelan korban. Sebagian besar, jika tidak bisa dikatakan semua, berita selalu berfokus pada kejadian versi pihak berwenang dan mencari kambing hitam. Mereka tidak pernah berfokus pada kondisi mental dan psikologis tentara-tentara yang diterjunkan ke lapangan, seperti yang dilakukan film ’71.

Predestination (2014)

Apa keuntungan menonton film di DVD? Bisa playback   sepuas hati. Film layar perak macam apa yang sesuai dilihat lewat DVD? Predestination jawabnya. Setelah menonton film ini sebanyak 3kali, barulah saya memahami jalan cerita yang disampaikan. Film yang dibuat khusus bagi penggemar konspirasi dan time travel ini menampilkan dialog yang mudah dipahami, jalan cerita yang tampaknya linearm kisah yang mengharukan, dan aksi yang tidak berlebihan. Jalan cerita yang tampaknya lurus-lurus saja ini baru terasa ganjil di akhir cerita, yang membuat penonton penasaran dan rela menonton ulang dari awal.

Fantastic Four (2015)

Satu lagi cerita superhero dari Marvel yang mengangkat tema keluarga dan persahabatan. Family should help each other. You can not leave your friends suffer . Itulah inti cerita Fantastic Four. Kedua pesan moral yang dibungkus kisah pencapaian ambisi dan perwujudan mimpi untuk menemukan dimensi lain yang berisi planet yang dapat dihuni manusia.