Langsung ke konten utama

Postingan

Movie: One Cut of The Dead (OCoTD)

Walaupun tidak termasuk film yang ditayangkan di Festival Film Jepang, OCoTD berhasil menarik penonton untuk memenuhi bioskop. Bahkan beberapa aktornya bersedia datang ke Indonesia demi mengadakan meet and greet . Film horor/komedi ini memang sangat-sangat lucu, saya masih tertawa kalau mengingat ceritanya. Film dibuka dengan sekelompok kru film yang dikejar-kejar zombie saat mereka sedang syuting. Beberapa kru bahkan berubah menjadi zombie. Aktor utama wanita yang dikejar-kejar zombie harus berjuang bertahan hidup, termasuk memenggal kekasihnya yang berubah jadi zombie. Itulah cerita 30 menit pertama.

Movie: One Week Friend

One Week Friend (OWF) adalah film kedua dari Festival Film Jepang yang saya tonton. Tema utama: cinta. Kaori hilang ingatan setiap hari senin. Ia menjauhi semua orang yang mencoba berteman dengannya. Yuki, teman sekelasnya, berusaha mendekati dan membantunya mengingat dengan bertukar buku harian. Perlahan-lahan, Kaori bisa mengingat kejadian atau orang yang ditemuinya dari minggu-minggu sebelumnya. Yuki senang sekali. Namun, teman dan kekasih dari masa lalu Kaori datang. Kaori memperoleh kembali ingatan masa lalunya, dan melupakan Yuki.

Movie: Parks

Selama 7-16 Desember 2018, CGV Grand Indonesia menghelat acara Festival Film Jepang. Film pertama yang kutonton adalah Parks. Saat itu, sutradara Parks ikut hadir dan mengisi diskusi (dengan dibantu penerjemah). Cerita Parks berpusat pada mahasiswa semester akhir Jun (Ai Hashimoto) yang berjuang menyelesaikan tesis pasca putus dari pacarnya. Suatu hari ia berjumpa dengan Haru yang sedang mencari kekasih ayahnya. Mereka sepakat untuk bersama-sama mencari wanita bernama Sachiko tersebut. Motif Jun: menjadikan Sachiko sebagai tema tesisnya. Haru ingin menulis novel tentang Sachiko.

Circe by Madeline Miller

Kalau anda bosan dengan cerita adaptasi mitologi berbau petualangan alar Rick Riordan atau Neil Gaiman, tapi masih kepengen mencari cerita berbau mitologi Yunani, Circe bisa menjadi pilihan. Berbeda dengan kisah mitologi ala dua pengarang di atas yang temponya cenderung cepat dan penuh kejutan, jalan cerita Circe lebih lambat. Konflik yang disajikan datar. Pembaca yang terbiasa dengan cerita mitologi yang penuh kejutan dan petualangan yang dibatasi waktu bisa merasa santai saat membaca Circe. Tidak ada humor mengocok perut. Tidak ada pahlawan yang dikejar batas waktu. Tak ada tokoh yang tiba-tiba muncul dari antah berantah. Tenang. Buku ini adalah novel/biografi Circe, seorang Titan yang memiliki waktu hidup nyaris tak terbatas. Mengikuti jalan hidup Circe dari lahir sampai melepaskan keabadiannya merupakan sebuah pengalaman yang tenang, seperti menyesap teh tubruk pelan-pelan di sore hari. Di buku ini, pembaca disuguhi bagaimana seorang Titan (pendahulu dewa dewi Yunani) m...

Chef: Three Star School Lunch

Seperti apa rasanya menikmati makan siang dari sekolah yang dimasak dan disajikan oleh koki ( chef ) yang meraih 3 bintang Michelin? Hoshino Mitsuko baru saja dipecat dari restorannya sendiri karena menyebabkan keracunan makanan pada seorang kritikus makanan. Dalam kondisi kesulitan uang, ia menerima tawaran seorang produser TV untuk menjadi koki di SD Mitsuba. Di situ ia tidak bisa seenaknya menentukan menu makanan. Ia harus patuh pada ketentuan harga dan gizi sesuai dengan Undan-Undang Makan Siang Sekolah. Sembari bekerja sebagai koki sekolah, di malam hari Mitsuko membuka warung tenda nya sendiri.

LT Pro Long Lasting Matte Lip Cream

My search for the perfect and wearable lipcream haven’t finished yet. From some beauty vlogger I found out that a local make up brand, LT Pro, make a line of lip cream thats wearable and affordable. Comparing to Sariayu’s or Make Over’s, it is relatively cheap. We can get it for IDR 70-90k at local cosmetic shop. It has amazing lasting power. I can wear it for almost 12 hours without fading, or 8 hours if I eat in between. Its packaging relatively simple. Not too extravagant, not shiny, but no ugly, too. This Lip Cream is so amazing for a less than 100k product, its a shame that not many women know or wear it. I think La Tulipe must intensify its marketing effort in order to galvanizing its sales. For every girls and women out there, if we can get a great local product for 80k, why would we bother on spending IDR 200k on some so so lip cream with french name on it?

Crazy Rich Asians (Movie Version)

             Minggu lalu saya berkesempatan menonton salah satu film tentang orang-orang kaya Asia Tenggara yang diproduksi Hollywood dan semua aktor/aktrisnya memiliki darah Asia. Film yang termasuk genre komedi satir ini mengisahkan Rachel Chu yang pergi ke Singapura untuk berkenalan dengan orang tua kekasihnya. Di Singapura, ia menemukan bahwa keluarga kekasihnya sangat kaya (untuk ukuran Asia Tenggara) dan memiliki budaya yang berbeda dengan budaya China di Amerika tempat Rachel dibesarkan.     Buat yang pernah membaca novelnya tapi tidak tahu seperti apa pakaian/sepatu/tas/rumah yang dideskripsikan (30% isi novel Crazy Rich Asian adalah penyebutan merk rumah mode ternama Eropa dalam berbagai hal yang dipergunakan tokoh-tokohnya), maka dapat bersyukur saat melihat versi filmnya. Akhirnya kita bisa tahu seperti apa baju klasik 80an atau arsitektur Art Deco. Tone warna film yang lembut dan colourfull membantu penonton mengapresiasi ...