Minggu, 21 Juni 2015

Unexpected Pay-Off

Di tanggal 15 Juni 2015 kemarin Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden No. 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Harga Kebutuhan Pokok dan Barang Penting. Inti Perpres tersebut adalah melarang menyimpan barang penting di gudang ketika terjadi kelangkaan barang, gejolak harga, atau bila terjadi hambatan lalu lintas perdagangan barang. Pemerintah berhak menetapkan harga acuan barang penting, wajib menjamin pasokan, dan stabilisasi harga barang kebutuhan pokok dan barang penting. Barang penting yang dimaksud adalah hasil pertanian (beras, kedelai, cabaing, bawang merah), hasil industri (gula, minyak goreng, tepung terigu), hasil peternakan (daging sapi, ayam ras, telur ayam ras), hasil perikanan (ikan segar bandeng, kembung, tongkol, tuna,cakalang), dan lain-lain (benih padi, jagung, kedelai, pupuk, elpiji 3 kg, tripleks, semen, besi baja konstruksi, dan baja ringan).
Sejumlah pertanyaan yang muncul adalah: bagaimana caranya? Apakah Perpres sebagai payung hukum cukup untuk melakukan pemaksaan pembongkaran gudang? Apakah pemerintah memikirkan dampaknya terhadap pedagang, dan jalur distribusi barang?

Moneyball by Michael Lewis

When in doubt, go for Lewis or Cabot. Ini pepatah personal yang selalu dipegang bila saya bingung hendak berbelanja buku apa di TogaMas atau Play Store atau Periplus. Moneyball adalah buku yang didapat saat perburuan galau di Play Store.
Jika sering menonton siaran olahraga di saluran televisi khusus bisnis seperti Nikkei, CNBC, atau Bloomberg, sering sekali mendengar Moneyball dirujuk sejumlah anchor news, koresponden, wartawan, manajer tim, pelatih tim, atau pemilik klub. Moneyball semacam buku wajib yang harus dibaca mereka, terutama pemilik klub dan manajer tim yang ingin memaksimalkan keuntungan klub dengan belanja pemain yang tepat dan murah menggunakan analisis statistik yang tepat. Memaksimalkan keuntungan belum tentu meraih gelar juara, yang penting persentasi sekian puluh persen margin keuntungan terpenuhi.

Jumat, 19 Juni 2015

Original Motion Picture Soundtrack Movie and Games

Sudah enam tahun belakangan ini saya mengurangi pembelian album musik artis populer dan beralih ke album musik dan lagu pengiring musik dan game (soundtrack). Penyebabnya? Pertama tidak semua lagu dalam satu album musisi pop sesuai dengan selera saya (Alicia Keys and Taylor Swift yes, Beyonce and Iggy Azalea nay). Kedua: kebanyakan lagu yang enak didengar diputar oleh sejumlah stasiun radio favorit dan kerap direkomendasikan oleh Youtube. Jadi buat apa membeli satu album. Terakhir, jenis musik dalam album musik populer tidak menarik lagi didengarkan setelah beberapa bulan. Dulu album BackStreet Boys atau M2M bisa didengarkan berminggu-minggu. Sekarang baru seminggu mendengarkan satu album Katy Perry atau Lana Del Rey, Kendrick Lamar atau Madonna merilis album baru dengan musik, lirik dan komposisi instrumen yang berbeda. Album baru terdengar lebih menarik dibanding album lama.
Kembali ke album OST Film dan Game. Ada beberapa alasan album jenis ini lebih enak didengar. Dalam satu set album biasanya terdapat dua keping CD. Keping CD pertama berisi lagu (musik dan lirik) pengiring suatu film atau game. Keping kedua berisi musik pengiring (hanya instrumentasi dan vokal pengiring, tanpa lirik). Jika sedang belajar atau menghafal, keping kedua lebih sesuai didengarkan. Kita bisa menyesuaikan musik dengan materi yang dipelajari, misal mengisi sendiri liriknya dengan sejarah romawi. Keping pertama yang berisi lagu sesuai didengarkan di saat santai. Lagu-lagu di dalam keping pertama jarang ada yang masuk tangga lagu radio, tapi tetap enak didengarkan. Misalnya Undiscovered (OST 50 Shades of Grey) atau Image (OST Xenosaga II).

TV Series: The West Wing (1999-2006)

Bagaimana menyeimbangkan kekuasaan? Bagaimana bernegosiasi dengan tepat? Bagaimana menyalurkan aspirasi politikus dan masyarakat dengan baik? Dan, bagaimana mengelola sebuah rumah tangga raksasa bernama negara dengan efektif? Serial televisi lawas berjudul The West Wing menyajikannya.
Serial yang memotret keseharian presiden Amerika Serikat beserta staf-staf kepresidenannya di awal tahun 2000an ini menunjukkan kepada penontonnya, seperti apa kehidupan seorang presiden di negara (bekas) superpower? West Wing menunjukkan bahwa seorang presiden dan staf kepresidenan tidak harus secerdas profesor, tapi ia harus pandai berkomunikasi. Dalam serial ini, karakter yang harus serba tahu adalah kepala-kepala staf. Mereka harus hafal ribuan perangkat dan aturan hukum, sejarah, dan relasi politik antar tokoh penting.

Jumat, 05 Juni 2015

Fast Food Nation by Eric Schlosser

Fast food Nation adalah buku industri makanan olahan ke tiga yang saya baca tahun ini, setelah Salt Sugar Fat dan Pandora’s Lunchbox. Jika kedua buku sebelumnya berfokus pada kandungan bahan-bahan kimia (ingredients) dalam makanan olahan (processed food), maka dalam Fast Food Nation, Eric Schlosser memusatkan perhatiannya pada operasional industri restoran dan food processing, terutama kondisi karyawan, kebersihan daging yang diolah, dan perilaku amoral pendiri dan eksekutif perusahaan-perusahaan pemasok bahan mentah makanan olahan.

Jumat, 29 Mei 2015

Tabula Rasa by Ratih Kumala

Awalnya saya tertarik meminjam buku ini karena mengira isinya adalah versi novel dari film keluarga/memasak berjudul sama. Namun ternyata beda. Novel ini berkisah tentang pertemuan dan perpisahan.
Dari sisi estetika, sampul Tabula Rasa ini sangat menarik. Bergambar tiga buah boneka matryoshka yang berjejer. Cover buku ini tepat sekali menggambarkan garis besar cerita di dalamnya, yaitu kisah seseorang yang kehilangan kekasih, menemukannya sepuluh tahun kemudian, dan kehilangannya lagi. Ia jatuh cinta dua kali kepada dua orang yang serupa tapi berbeda. Walalu mereka punya paras dan kepribadian yang mirip, tapi mereka punya jiwa dan luka dan berbeda. Namun, ia, Galih, tidak menyesal, karena hidupnya jadi lebih berwarna.