Rabu, 06 April 2016

Bride Wannabe by Christina Juzwar

Novel-novel chicklit yang dilabeli ulang dengan nama wedding lit sepertinya mulai merambah rak-rak buku Togamas dan Gramedia. Setelah My Wedding Dress dan Pre-Wedding Chaos (yang tidak terlalu istimewa tapi sangat ringan dibaca), saya tertarik membaca Bride Wannabe. Novel satu ini mengangkat tema online dating.
Sascha sudah 8 tahun pacaran dengan Ben, tapi tidak kunjung dilamar. Mereka putus setelah Ben memukul Sascha sampai babak belur. Atas saran sahabatnya, Sascha mencoba mencari pacar lewat internet (online dating). Ia berjumpa Oliver di salah satu situs perjodohan online. Setelah melalui sejumlah drama dan air mata, mereka pun memutuskan menikah di Inggris.

Supernova: Gelombang by Dewi Lestari

Serial Supernova pertama yang saya baca sampai habis adalah Partikel. Its so damn good that I reread it multiple times. The storyline, the dialogue, even the cliffhangers only second to ES Ito’s novels. Selanjutnya, saya membaca Ksatria, Putri,dan Bintang Jatuh. Walau dialog dan plot twist nya menarik, tapi tidak sebagus Partikel. Supernova terbaru, Gelombang, pun baru terbaca setelah perpustakaan lokal menyediakannya. Saya tidak  membeli satu pun serial Supernova karena perpustakaan daerah menyediakannya, dan sering tidak terbaca.
Jika Partikel menyajikan realita pahit, Ksatria, Putri,dan Bintang Jatuh mengangkat imajinasi dua manusia, maka Gelombang mengangkat tema mimpi. Tokoh utama, Alfa Sagala, terlalu sempurna sehingga hanya bisa ditemui di dunia mimpi. Ia punya segalanya: tampan, tinggi, kaya, baik. Tall, dark, handsome, rich. Tapi ia selalu mencari cara agar tidak tertidur, agar tidak perlu masuk ke dunia mimpi. Pencarian Alfa akan makna mimpinya menjadi benang merah cerita setebal 562 halaman ini.

Menghirup Dunia by Fabiola Lawalata cs

Cerita perjalanan travel blogger semakin banyak yang dibukukan. Setelah Naked dari Trinity dan Garis Batas dari Agustinus Wibowo laris manis di pasaran, semakin banyak cerita perjalanan yang diterbitkan dalam bentuk buku. Salah satunya, Menghirup Dunia dari Fabiola Lawalata cs.

Dibandingkan dengan Naked Traveler, atau The Ho[s]tel, Menghirup Dunia jelas kalah jauh. Gaya penulisannya terlalu datar, emosi penulis seolah terpendam, dan pandangan blogger akan masyarakat di tempat tujuan wisata terlalu dangkal. Menghirup Dunia lebih terasa sebagai jurnal perjalanan, dengan segala petunjuk transportasi dan penginapannya. Foto-foto yang disajikan kurang menarik, buram, dan tidak tajam. Menghirup Dunia terasa ingin menjejalkan banyak cerita dalam satu buku. Spasi antar baris yang hanya satu poin membuat saya kesulitan menikmati buku ini.

Sudut Mati by Tsugaeda

Saya sering bertanya-tanya: adakah novel aksi thriller high octane ala Tom Clancy, atau John Le Carre karya penulis asli Indonesia? Saya pernah membaca dla: Cinta dan Presiden karya Noorca Massardi, tapi ceritanya terlalu bertele-tele. Katastrofa dari Jodhi Giriarso terlalu banyak lubang di ceritanya. Sampai saya menemukan novel Sudut Mati karya Tsugaeda. Novel setebal 344 halaman ini terbit di bulan September 2015 ini mengklaim sebagai sebuah novel thriller korporasi. Sampulnya yang eye-catching dan ringkasan reviewnya yang cukup membuat penasaran membuat saya tertarik membaca Sudut Mati.

Minggu, 27 Maret 2016

Talak 3 by Ismael Basbeth dan Hanung Bramantyo

Pertama kali tertarik menonton trailer Talak 3 ialah saat menunggu film Ngenest tayang. Waktu itu bioskop CGV Blitz baru saja dibuka di Jwalk, dan harga tiket nontonnya lumayan murah, IDR 20ribu untuk film lokal dan IDR 30ribu untuk film Hollywood. Saya tidak begitu tertarik menonton Ngenest, tapi itu adalah satu-satunya film lokal yang tayang jam 11.00. Sambil menunggu filmnya tayang, penonton disuguhi trailer-trailer film selama 10 menit. Dari sekian banyak trailer yang diputar, Talak 3 lah yang paling menohok. Pesan moral pernikahan yang terburu-buru, birokrat yang mudah disogok, dan pemandangan pedesaan Sleman yang cantik. I’m sold at the moment. Sesungguhnya trailer Talak 3 jauh lebih menarik dan membekas di ingatan dibanding Ngenest yang datar, membosankan, nyaris tanpa konflik, dan langka humor.

My Wedding Dress by Dy Lunaly


Sepertinya di akhir tahun 2015 yang lalu penerbit Bentang merilis satu genre bagi generasi wanita muda pembaca Indonesia, yaitu Wedding Lit. Bisa ditebak buku-buku yang masuk genre ini pasti berkaitan dengan pernikahan dan turunannya, entah dari sudut pandang kedua (calon) pengantin, pengiring pria atau wanita, keluarga mereka, atau pihak wedding organizers. Salah satunya My Wedding Dress dari Dy Lunaly.