Selasa, 28 Juli 2015

NYPD RED 2 by James Patterson dan Marshall Karp

Saking banyaknya mengoleksi buku-buk investasi, ekonomi, dan sejarah, saya sampai lupa ada beberapa buku fiksi menunggu dibaca di Google Play Books. Salah satunya NYPD RED 2 karya James Patterson dan Marshall Karp. Buku ini termasuk buku yang paling awal dibeli saat Play Books diluncurkan di Indonesia. Saat itu buku setebal 220 halaman ini hanya dijual seharga IDR 101 800. Hingga saat ini versi terjemahannya belum beredar di Indonesia. Jadi bila teman-teman ingin memilikinya, bisa mencari di Periplus, Books & Beyond, atau Kinokuniya. Harganya ±15% dibanding versi digitalnya.
Detektif Zachary Jordan dan Kylie MacDonald dihadapkan dengan pembunuhan berantai. Semua korban-korbannya mengenakan setelan Tyvek (baju terusan yang tidak bisa ditempeli apapun, biasa dipakai di laboratorium kimia), jenazahnya disiram amonium, dan video pengakuan kejahatan mereka sebelum tewas beredar di internet. Semua korban Hazmat Killer adalah pembunuh dan pengedar narkoba. Mereka selalu lolos dari jeratan hukum karena licin mngakali sistem dan punya koneksi kuat. Hazmat Killer memaksa mereka mengakui kejahatan mereka, merekam pengakuan tersebut, dan menyebarkan rekaman tersebut ke publik. Hazmat Killer adalah vigilante, pembalas dendam atas tumpulnya penegakan hukum, yang efisien dan efektif.

Rabu, 22 Juli 2015

NYPD RED by James Patterson dan Marshall Karp

RED adalah sebuah unit khusus di dalam satuan kepolisian New York (NYPD). Tugasnya: melayani permasalahan apapun yang terkait dengan kalangan kaya, berpengaruh, dan berkuasa di New York. Unit khusus yang melayani creme de la creme New York ini biasanya bertugas soal keamanan, privasi, pencurian atau perampokan. Namun tidak kali ini.
Seorang produser dan aktor senior dibunuh dalam waktu 3 jam. Malamnya, seseorang melemparkan bom molotov ke seorang aktor hingga menyebabkan ia tewas dengan luka bakar. Dua detektif RED, Zachary Jordan dan partner barunya, Kylie MacDonald, ditugaskan menangkap si pembunuh secepatnya agar ia tidak punya kesempatan melukai orang lain.

Things I Got On Book

image from magazine.biola.edu
Sebagai seorang kutu buku karatan, ada sejumlah pencerahan yang saya dapat pasca membaca buku-buku, terutama buku bertema investigasi atau sejarah. Berikut hal-hal yang dipelajari dari buku:
1. Negara menarik pajak, membelanjakannya untuk militer dan polisi, baru sisanya dibelanjakan untuk membangun negara. Hampir sebagian besar belanja negara dialokasikan untuk ibu kota (War: Ian Morris).

Minggu, 12 Juli 2015

Krisis Utang Yunani

image belongs to www.visioninconsciousness.org
Pythagoras, Aristoteles, Archimedes, Plato, Pericles. Ilmuwan dan filsuf besar dari Yunani. Meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan filsafat sosial. Mereka akan bersedih melihat kondisi Yunani sekarang, walau tidak terkejut.
Greek invented tragedy. Yunani yang pertama menemukan tragedi. Barangkali kalimat tersebut tepat menggambarkan keadaan Yunani. Pengangguran 26%. Jumlah uang beredar dibatasi. Terjerat hutang, baik pemerintahnya maupun sektor swastanya. Di atas itu semua, Yunani mengemis uang kepada seluruh dunia: Uni Eropa, Jerman, Bank Sentral Eropa, IMF, dan Rusia, tapi tetap ingin mempertahankan gaya hidup santai mereka. Rakyat Yunani enggan bekerja, tapi ingin dibayar. Memaki dan mengutuk rakyat Jerman, tapi meminta pajak rakyat Jerman dan Estonia untuk membiayai gaya hidup mewah mereka.

Jumat, 10 Juli 2015

Kapan Kawin?

Ramadhan berakhir, tibalah Lebaran alias Idul Fitri. Seusai bersalaman saling meminta maaf, muncullah pertanyaan paling mengesalkan, yaitu “kapan kawin?’. Mulai dari nenek, tante, hingga sepupu menanyakan hal itu. Saat saya menunjukkan betapa sengsaranya kehidupan mereka pasca menikah, well,  mereka menjawab sudah takdir.
Kembali ke pertanyaan “kapan kawin/nikah?”, ada satu pola yang saya temui. Hampir semua orang, ±94% orang yang menanyakan kapan kawin punya kehidupan pernikahan yang menyedihkan. Pasangan yang rese, jarang pulang ke rumah, enggan ikut mengurus rumah dan anak, mertua galak, anak yang sulit bergaul, dan lain-lain. Keluarga yang tampaknya sering berdebat tapi kehidupan rumah tangganya stabil dan harmonis justru lebih tertarik menanyakan karir, spesifiknya “kapan naik pangkat?”, atau rencana kehidupan selanjutnya (kapan ambil sertifikasi? Kapan ikut seminar/diklat/pelatihan? Kapan liburan? Kapan beli rumah?). Kelompok ke dua ini tidak pernah  bertanya “kapan kawin?’

Kamis, 09 Juli 2015

War: What Is It Good For? by Ian Morris

Sejarah, paling tidak pelajaran sejarah, kerap menunjukkan perang sebagai sesuatu yang menakutkan. Ratusan ribu orang tewas, kelaparan melanda di area perang, wanita-wanita dibunuh dan diperkosa, lelaki dan anak-anak diperbudak, jutaan orang cacat seumur hidup. Penggambaran perang yang merujuk pada Perang Dunia II dan perang Vietnam inilah yang banyak dirujuk oleh buku-buku sejarah Indonesia dan tayangan televisi.
Ian Morris melihat perang dari sisi lain. Perang pasti membawa bencana, wabah penyakit, dan korban jiwa. Tapi tahun-tahun pasca perang juga membawa kemakmuran dan kesejahteraan. Pihak yang kalah perang menjadi bagian atau subordinat dari pihak pemenang. Mereka dilindungi dan bebas melakukan kegiatan sehari-hari, seperti bertani atau berdagang. Perekonomian berkembang. Taraf hidup meningkat. Ilmu pengetahuan dan filsafat maju. Teknologi baru ditemukan. Populasi manusia pun ikut bertambah. Itu baru dari sisi sosial dan ekonomi.