Sabtu, 25 April 2015

Gaul: Meraih Lebih Banyak Kesempatan By Eileen Rachman & Petrina Omar

Apa sih pentingnya bergaul? Bagaimana cara bergaul yang efektif? Kapan saja kita memerlukan pergaulan? Kenapa kita butuh bergaul? Di mana saja tempat yang sesuai untuk bergaul? Dengan siapa sajakah kita perlu bergaul? Semua pertanyaan di atas dijawab dengan jelas dan menyenangkan oleh duo konsultan sumber daya manusia terkemuka Eileen Rachman dan Petrina Omar. Tips dan saran bergaul dari mereka berdua disajikan dalam 132 halaman full colour, terkadang dilengkapi ilustrasi gambar untuk memperjelas maksud penulis.
Buku ini amat sangat menyenangkan dibaca. Tulisannya besar-besar dan bervariasi, halaman-halamannya berwarna warni, kertasnya tebal dan tidak mudah sobek, saran-sarannya bisa diterapkan dengan cepat karena sederhana dan applicable, serta uraian argumen-argumennya masuk akal.

Kamis, 02 April 2015

Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Mari Berbelanja Di Toko Atau Pasar Lokal

image belongs to hymunk.blogspot.com
Satu hal yang bisa dipelajari dari membesarnya skala perusahaan (economies of scale) adalah adanya sejumlah hal yang perlu dikorbankan atau ditiadakan (trade-off) saat perusahaan beranjak dari usaha kecil/menengah ke perusahaan besar. Bagi perusahaan makanan dan restoran, hal itu adalah nutrisi dan kualitas makanan. Bagi industri ritel, pengorbanan berarti berkurangnya interaksi penjual atau pramuniaga dengan pembeli. Bagi perusahaan manufaktur, pengorbanan berupa otomatisasi rantai produksi yang berarti berkurangnya jumlah karyawan. Trade off tersebut perlu dilakukan atas nama efisiensi, pertumbuhan penjualan, dan pada akhirnya: keuntungan (laba).
image belongs to goodmorningjakarta.wordpress.com
Dalam perjalanan mencari laba, terkadang perusahaan menggilas lawan-lawan yang jauh lebih kecil. Alfmart melindas pedagang kelontong kecil-kecilan. KFC menggilas warung ayam goreng. Starbucks warung kopi. Direksi perusahaan terkadang enggan melakukannya, terkadang mereka lebih suka berkolaborasi atau kerja sama dengan mitra lokal. Namun, mereka tidak dibayar untuk itu. Mereka dibayar untuk meningkatkan laba perusahaan, yang dijustifikasi oleh laba kuartalan atau laba akhir tahun perusahaan, dan kenaikan harga saham.
image belongs to azayabandungan.wordpress.com
Apakah kita, sebagai konsumen, diam saja melihat warung kelontong dan warung kopi dilindas perusahaan besar? Kita bisa diam, atau kita bisa bertindak. Bertindak tidak selalu berarti demo plus bakar ban dan berteriak-teriak kalap.

Industri Makanan Olahan

image belongs to rebeccaalowe.blogspot.com
Ada sejumlah buku tentang industri makanan olahan yang sudah, sedang dan akan saya baca. Buku yang sudah dibaca baru 2, yaitu Salt Sugar Fat dan Pandora’s Lunchbox. Buku yang sedang direncanakan untuk dibaca ada 2 [juga], yaitu Fast Food Nation dari Eric Schlosser dan Mindless Eating dari Brian Wansink. Sebetulnya ada sejumlah buku lain di perpustakaan yang juga menyoroti industri makanan, tapi sejauh ini hanya 4 buku tersebut yang menarik perhatian saya dan bersedia dibeli. Salt Sugar Fat, Pandora’s Lunchbox dan Fast Food Nation kesemuanya tersedia di Google Play. Jika teman-teman seorang mahasiswa UGM, buku-buku tersebut juga tersedia di Perpustakaan Pusat UGM.
Apa yang ditawarkan keempat buku tersebut? Investigasi menyeluruh terhadap industri makanan olahan! Apa yang membuat mereka menambahkan semakin banyak gula, garam, lemak, vitamin dan mineral buatan? Kenapa mereka melakukannya? Bagaimana mereka menambahkan bahan-bahan tersebut? Bagaimana proses produksinya? Alat dan bahan apa saja yang digunakan? Siapa saja pemain (perusahaan) di industri makanan olahan Amerika Serikat? Dimana mereka mendapat alat dan bahan untuk kelangsungan operasional mereka? Kapan mereka mulai mengembangkan teknologi pengolahan makanan? Hampir semua pertanyaan di atas terjawab oleh ketiga buku tersebut.

Rabu, 01 April 2015

Pandora’s Lunchbox by Melanie Warner

Petualangan saya dalam literature review buku-buku yang menginvestigasi industri makanan dan bahan-bahan makanan yang terkandung dalam makanan olahan ringan (processed food) berlanjut. Setelah puas melahap Salt Sugar Fat saya beralih ke Pandora’s Lunchbox dari Melaniew Warnet. Fokus kedua buku ini masih sama, yaitu bahan-bahan kimia yang terkandung dalam processed food  yang dipasarkan di Amerika Serikat (AS).
Berbeda dengan di Indonesia dimana masyarakat lebih suka membeli makanan yang dimasak di warteg, warung tenda kaki lima atau warung padang, dan masih mempertahankan budaya memasak di rumah, rumah tangga di AS lebih suka membeli makanan beku dan memanaskannya di microwave. Hal ini membuat pangsa pasar makanan olahan terbuka lebar. Kalau anak-anak perkotaan di Indonesia makan Cheetos atau Chitato seminggu sekali, maka anak-anak di AS bisa makan kripik junk food tiap hari. Makanan restoran yang mereka santap didominasi oleh KFC, McD, atau Pizza Hut. Keluarga di Indonesia, lebih suka menikmati urap, pecel dana lele bakar dari warung tetangga. KFC di Indonesia menyediakan nasi organik dan ayam segar, KFC AS menyuguhkan daging ayam yang disembelih minggu lalu.

The Men Who Built America

Sewaktu sedang iseng-iseng browsing di Youtube, saya temukan rangkaian video yang sangat inspiratif, informatif, sekaligus menghibur, berjudul The Entrepreneur Who Built America. Video berdurasi hampir 2 jam ini ternyata adalah gabungan dari beberapa episode The Men Who Built America, salah satu program unggulan di saluran televisi History Channel yang ditayangkan 2012 lalu. Karena penasaran, saya pun memutuskan meminjam DVD nya dan menonton di kos.

Jumat, 27 Maret 2015

Perlukah Memperbarui Aplikasi Smartphone Terus Menerus?

image belongs to www.gaptekupdate.com
Bagi teman-teman pemilik smartphone, baik Android maupun iPhone, pasti akrab dengan permintaan update atau memperbarui versi aplikasi. Hampir setiap minggu ada saja aplikasi yang perlu diperbarui. Mulai dari aplikasi vital macam office dan Whatsapp sampai aplikasi yang ga penting-penting amat seperti Kalkulator.
Kalau aplikasi seperti Whatsapp diperbarui, masih bisa dipahami. Sebagai aplikasi komunikasi terpenting ketiga setelah SMS dan telepon, WhatsApp wajib terus menerus menambal bug (kebocoran,  lubang) yang mungkin muncul dan meningkatkan kualitas aplikasinya. Tapi kalau aplikasi seperti Adobe Reader atau Music Player yang kualitas tampilan dan suaranya sangat bergantung kepada berkasnya, buat apa diperbarui tiap bulan. Sudah menghabiskan kuota internet, memakan memori pula.