Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Aruna dan Lidahnya

Salah satu film dengan dialog dan cerita paling relatable, enak dilihat, menambah perbendaharaan kuliner dan wisata penontonnya, jalan cerita berasa keseharian banget karena sederhana dan tidak ribet adalah Aruna dan lidahnya. Film ini sukses membuat saya senyum-senyum sendiri sepanjang film. Ketika film berakhir, saya pun jadi lapar dan nggragas . Rasa-rasanya semua makanan mau dibeli dan dilahap. Aruna dan lidahnya juga ada versi video nya di Youtube channel Palari Films, yang berjudul NadEats. Di video ini, Nadezhda (Hannah Al-Rasyid) mengajak penonton mengunjungi tempat-tempat makan enak di seantero Jakarta, mulai dari Glodok, Kota, sampai Condet. Saya pernah mengunjungi salah satu restorannya, Wong Fu Ki, yang ternyata antriannya sangat panjanggg, bisa sampai sejam saja untuk mendapatkan bangku, belum termasuk menunggu makanannya. Akibat dari menonton serial NadEats ini, saya jadi tahu ada vlog Yudhis dan Lala (dari film Posesif) yang sukses membuat saya yang jomblo akut

Rich People Problems by Kevin Kwan

Oke, buku ini kocak abis. Daya tarik sekaligus kelemahan utamanya ada pada penyebutan merk-merk dari Eropa yang mencapai 30% dari narasi novel, misalnya X mengenakan jas bottega veneta, yang dipadu dengan sepatu adidas superboost, jam philippe patek, dan ikat pinggang louis vuitton. Walaupun sebagian besar pembaca belum pasti kenal siapa itu ermenegildo zegna, atau dior, tapi penyebutan merk eropa seolah menaikkan gengsi penulis cerita dan membangkitkan rasa penasaran pembacanya (kalau bingung dengan bentuk fisik dari mereka yang ditulis, datang saja ke Plaza Indonesia, niscaya kita akan paham). Dari segi pengembangan karakter, buku ketiga dari seri Crazy Rich Asians ini sangat berhasil. Pembaca dihadapkan dengan konklusi dari kisah Rachel dan Nick. Kita juga diperkenalkan lebih lanjut dengan sosok Ah Ma, patron keluarga besar Young, cerita beliau di masa lalu, serta polah tingkah sanak-saudaranya saat ia berhadapan dengan maut.

Bad Blood: Secrets and Lies In A Silicon Valley Startup by John Carreyrou

Apa yang terlintas di benak teman-teman ketika membaca judul buku ini di Periplus? Apakah langsung terbayang Taylor Swift and the gang? :D Sebelum membaca buku ini, terus terang saya tidak tahu tentang Theranos dan Elizabeth Holmes. Saya pernah membaca tulisan tentang Holmes di Fortune (yang sangat bombastis, sampai saya curiga apakah tulisan tersebut merupakan editorial), tapi tetap tidak tertarik. Ide alat sederhana untuk mengetes ratusan penyakit memang menarik, tapi alat super besar dan superlengkap saja sering salah, apalagi alat yang kecil. Selain itu industri kesehatan diregulasi dengan sangat ketat, mimpi saja kalau mau menerobos itu semua. Bad Blood menceritakan investigasi wartawan Wall Street Journal, John Carreyrou, terhadap Theranos, suatu perusahaan teknologi yang mengklaim memiliki alat yang dapat mengetes ratusan jenis penyakit hanya dengan setetes darah. Cerita dimulai dengan beberapa karyawan yang mencium adanya ketidakberesan dalam alat dan operasional Therano

The Trials of Apollo: The Dark Prophecy

Pasca berakhirnya serial Heroes of Olympus, saya rasa Riordan belum menemukan ramuan cerita terbaiknya lagi. Serial Percy Jackson masih menjadi favorit pembaca. Serial Kane (mitologi Mesir) dan Magnus Chase (mitologi Nordik) kurang menjual. Kali ini ia memilih untuk melanjutkan cerita Heroes of Olympus dengan seri Trials of Apollo. Setelah terungkap sebagai biang kerok bencana dalam Heroes of Olympus, Apollo dihukum menjadi manusia bernama Lester Papadopoulos dan harus menjalani misi yang ditetapkan Zeus, yaitu membebaskan kelima Oracle (peramal) kuno dari Triumvirate (tiga kaisar Romawi kuno) dan ular raksasa Delphi. Buku dari seri pertama, The Hidden Oracle, terasa datar dan terlalu bergantung pada karakter Percy Jackson. Pada buku pertama tersebut Riordan mencoba mengenalkan pembaca barunya akan karakter-karakter lama. Hidden Oracle bertumpu pada kenangan pembaca akan tokoh Percy, sama seperti seri ketiga Magnus Chase: Ship of The Dead, yang dibuka dengan adegan Percy me

Movie: Shoplifters

Bagaimana rasanya tinggal bersama keluarga yang tidak ada hubungan darah satu dengan yang lain? Inilah pertanyaan yang muncul saat saya membaca sinopsis Shoplifters. Dipicu oleh rasa penasaran, saya putuskan untuk membeli tiket film ini yang diputar saat penutupan Festival Film Jepang 2018. Shoplifters adalah cerita sebuah keluarga yang didera kemiskinan kronis sehingga harus mengutil (mencuri barang di toko) agar dapat bertahan hidup. Cerita diawali dengan Osamu (ayah) dan Shota (anak laki-laki) yang sedang mengutil di sebuah toko swalayan. Dalam perjalanan pulang, mereka menemukan balita/gadis kecil yang sedang bermain di luar. Malam yang sangat dingin membuat mereka memutuskan membawa balita tersebut pulang. Saat akan mengembalikannya ke rumah orang tua kandungnya, Osamu dan Nobuya (ibu) mendengarkan pertengkaran orangtua balita tersebut. Mereka pun memutuskan untuk merawat balita bernama Juri tersebut, dan mengganti namanya menjadi Rin. Dari sinilah cerita keluarga pengutil