Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

LUPA

Lupa. Saya tidak sedang berbicara mengenai serigala legendaris pengasuh Romus dan Romulus, saya sedang membahas salah satu kekhilafan manusia. Saat ini saya punya kesulitan mengingat hal-hal kecil,seperti tanggal kadaluarsa roti dan lauk, tempat menaruh jepit rambut, siapa yang meminjam komik saya, atau siapa nama kenalan baru. Akibatnya makanan tersebut mubazir dan dibuang, terpaksa membeli jepit baru, komik tersebut hilang dan dicibir teman karena lupa namanya. Saya juga kalap saat ada obral buku sehingga membeli buku yang sudah dimilki. Untunglah perpustakaan daerah mau menerima sumbangan buku sehingga buku-buku tersebut ga mubazir-mubazir amat. Lupa acap dialami saat pikiran sedang penuh, melompat-lompat, dan kurang fokus. Lupa juga terjadi saat kita kurang/tidak tertarik pada sesuatu, sedang lapar atau mengantuk. Akibat lupa pun bermacam-macam, bisa “sederhana” seperti buang-buang makanan , hingga pertengkaran dan renggangnya relasi.

The Moral Case For Fossil Fuels by Alex Epstein

Selama ini kita hanya mendengar dan menyaksikan keburukan dari energi fosil (minyak bumi, gas alam dan batubara). Mulai dari meningkatkan suhu bumi, mempercepat perubahan iklim, hingga menyebabkan bencana alam, seperti yang selalu didengungkan aktivis Greenpeace. Kita lupa mengukur manfaat yang diberikan energi fosil, mulai dari bahan bakar murah, energi listrik melimpah, hingga penyedia energi utama bagi aktivitas manufaktur. Berkat bahan bakar fosil perekonomian tumbuh, jutaan lapangan kerja tercipat, peradaban dunia berkembang, dan teknologi berkembang pesat. Ide atau premis utama dari buku karya Alex Epstein ini adalah keuntungan ( benefit ) yang didapat dari bahan bakar fosil jauh melebihi risiko atau bencana yang ditimbulkannya. Dunia memang menjadi lebih panas, tapi lajunya tidak secepat yang diperkirakan ilmuwan 30 tahun yang lalu. Es di Greenland memang mencair, tapi tidak meningkatkan ketinggian air laut seperti yang diperkirakan ilmuwan lingkungan 20 tahun yang lalu. Pe

Crazy for Coats

        Baru-baru ini saya bersih-bersih lemari, menyeleksi pakaian apa saja yang layak dilungsurkan, dan mana yang sebaiknya dipertahankan. Pakaian saya tidak banyak. Satu lemari ukurang 1m x 0.5m x 1,8m bisa menampung semua baju plus elektronika, beberapa set sprei dan perlengkapan sholat. Yang agak mengejutkan justru saat saya mendaftar jenis pakaian yang ada. Di samping blus dan kaos (sebagai pakaian default), ternyata saya punya coat (diterjemahkan kasar jadi jas panjang, karena jika diterjemahkan jadi mantel bahannya kurang tebal). Ada lebih dari 10 jas panjang ( coat ) yang menumpuk di lemari, 8 di antaranya rutin dipakai sehari-hari.

Istilah Kuliah : Goal Congruence

Fyuhh, kuliah sudah masuk semester 2. Mata kuliah yang dijalani lebih sedikit dibanding semester lalu, dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Semester ini lebih berat bagi otak saya yang sudah terspesialisasi. Ada beberapa mata kuliah yang tidak masuk ke dalam otak karena tidak paham konsepnya. Ada beberapa yang bisa dipahami dengan mudah karena sudah biasa praktek.

Istilah Kuliah : Share Swap (Tukar Saham)

Beberapa minggu yang lalu bursa saham dihebohkan oleh kegiatan share swap yang dilakukan Telkom (melalui anak perusahaannya, Mitratel) dengan Tower Bersama Infrastructure (TBIG). TLKM akan menukar 49% kepemilikannya di Mitratel dengan kepemilikan 5.9% atas TBIG. Detailnya: TLKM (pasca transaksi) punya 5.9% hak kepemilikan atas TBIG, sedangkan TBIG punya 49% kepemilikan di Mitratel. TLKM menyerahkan kepemilikan atas 49% saham Mitratel dengan kepemilikan atas 5.9% saham TBIG.

Flash Boys: A Wall Street Revolt By Michael Lewis

Sejujurnya, baru kali ini saya terharu sampai menitikkan air mata pasca membaca buku keuangan. Meski data yang disampaikan kurang akurat, tapi kemampuan Michael Lewis merangkai cerita, meramu tragedi dan akhir bahagia dalam satu cerita utuh patut diacungi dua jempol. Ia mampu menggabungkan sejumlah tokoh nyata dari berbagai profesi di Wall Street dan merangkai kisah hidup mereka menjadi sebuah cerita utuh yang membuat pembacanya ketagihan, tidak bisa berhenti membaca buku ini sebelum menamatkannya. Walau awalnya ia menambahkan satu per satu tokoh di setiap bab, tapi di akhir bagian jalan hidup setiap orang saling terkait dan berhubungan dengan cerita yang disusunnya.