Senin, 03 November 2014

Flash Boys: A Wall Street Revolt By Michael Lewis

Sejujurnya, baru kali ini saya terharu sampai menitikkan air mata pasca membaca buku keuangan. Meski data yang disampaikan kurang akurat, tapi kemampuan Michael Lewis merangkai cerita, meramu tragedi dan akhir bahagia dalam satu cerita utuh patut diacungi dua jempol. Ia mampu menggabungkan sejumlah tokoh nyata dari berbagai profesi di Wall Street dan merangkai kisah hidup mereka menjadi sebuah cerita utuh yang membuat pembacanya ketagihan, tidak bisa berhenti membaca buku ini sebelum menamatkannya. Walau awalnya ia menambahkan satu per satu tokoh di setiap bab, tapi di akhir bagian jalan hidup setiap orang saling terkait dan berhubungan dengan cerita yang disusunnya.

Brad Katsuyama terkejut. Hampir semua order (pesanan) sahamnya menghilang seketika. Tidak hanya kali ini saja, sudah berbulan-bulan ia mengalami hal yang sama. Ronan Ryan berambisi menjadi trader Wall Street, namun ia malah mengetahui hal-hal busuk tentang Wall Street dari dalam. John Schwall, kepala bagian Bank of America yang merasa loyalitasnya dimanfaatkan perusahaan tempatnya bekerja untuk melakukan hal-hal yang merugikan investor, memutuskan resign. Bertiga, mereka bekerja sama mencari tahu apa yang sedang terjadi di Wall Street.
Beberapa tokoh pendukung lain dimunculkan satu persatu, di antaranya Rob Park, Francis Chung, Brad Aisen, Dan Bollerman, Constantine Sokoloff, Allen Zhang, dan Billy Zhao. Diselipkan pula tragedi yang menimpa Sergey Aleynikoff, programmer handal imigran Rusia, mantan karyawan Goldman Sachs, yang dituntut perusahaannya sendiri karena mengirim kode pemrograman ke email pribadi.
Michael Lewis pernah mengungkapkan daam salah satu wawancara bahwa ia menulis Flash Boys karena terinspirasi tragedi yang dialami Aleynikoff. Kisah Aleynikoff disini terasa bagai sebuah paradox, karena saat Brad dan sekondannya berhasil mewujudkan hal yang mereka impikan selama ini, Aleynikoff justru harus mendekam di penjara untuk kejahatan yang ia, jaksa dan hakimnya sendiri tidak paham.
Antagonis dalam Flashboys adalah para High Frequency Traders, bank-bank raksasa dan bursa-bursa efek. HFT mengeruk uang investor dengan memanipulasi informasi beli dan jual saham yang diinginkan investor (informasi ini hanya bank dan broker dealer yang mengetahui). Broker dealer dan perbankan menjual informasi tentang investor dengan nilai ratusan juta dollar per tahun. Bursa-bursa efek (Nasdaq, NYSE, BATS, dan lain-lain) dengan sukarela menjua aliran order investor kepada HFT. Dunia dalam Flashboys adalah zero-sum-game, dimana HFT, bank, broker dealer(di Amerika Serikat, bank juga memiliki divisi broker dealer), dan bursa-bursa efek mengeruk tabungan dan investasi investor dengan serakah.
Yang paling buruk di antara bank/broker dealer adalah Goldman Sachs, bank yang juga mempekerjakan Sergey Aleynikoff. Goldman Sachs, bersama Credit Suisse, UBS, Morgan Stanley, Citibank, dan sejumlah bank raksasa lain menciptakan rimba perdagangan saham bernama dark pools dimana investor kehilangan kendali informasi atas order saham mereka. Tiap bank memiliki dark pool tersendiri. Sigma X adalah dark pools milik Goldman Sachs, MS Pool dimiliki Morgan Stanley. Dark pool terbesar dimiliki Credit Suisse, yang dinamai Crossfinder.
Flashboys dipenuhi dengan jargon dan istilah yang sebagian besar hanya dimengerti oleh pelaku aktif pasar modal. Kata-kata sepperti gap, order, buy, sell, middle price, slice, routing order bertebaran di sepanjang cerita. Lewis sudah berusaha sebaik mungkin untuk memberi penjelasan dan catatan kaki agar pembaca yang bukan berasal dari dunia keuangan bisa paham. Sayangnya, tidak ada kamus singkat di bagian akhir buku.

Baru kali ini saya membaca buku tentang dunia perdagangan saham yang sama sekali tidak membosankan dan mampu mempermainkan emosi saya. Hebatnya lagi, hampi semua tokoh (paling tidak, 2/3 tokoh yang digoogling) adalah tokoh nyata. 5 dari 5 bintang untuk Michael Lewis dan Flashboysnya.

0 komentar: