Sabtu, 15 November 2014

Crazy for Coats

       Baru-baru ini saya bersih-bersih lemari, menyeleksi pakaian apa saja yang layak dilungsurkan, dan mana yang sebaiknya dipertahankan. Pakaian saya tidak banyak. Satu lemari ukurang 1m x 0.5m x 1,8m bisa menampung semua baju plus elektronika, beberapa set sprei dan perlengkapan sholat. Yang agak mengejutkan justru saat saya mendaftar jenis pakaian yang ada. Di samping blus dan kaos (sebagai pakaian default), ternyata saya punya coat (diterjemahkan kasar jadi jas panjang, karena jika diterjemahkan jadi mantel bahannya kurang tebal). Ada lebih dari 10 jas panjang (coat) yang menumpuk di lemari, 8 di antaranya rutin dipakai sehari-hari.
         Fakta ini bagi saya agak mengejutkan karena saya tidak ingat seberapa sering membeli sejumlah jas panjang itu. Jas (coat) paling baru yang dimiliki dibeli tahun 2012, 2 tahun yang lalu. Tapi coat lain? Lungsuran/warisan dari saudara dan teman. Sepertinya mereka sadar sekali dengan preferensi saya akan satu jenis pakaian itu, makanya mereka rajin melungsurkan coat.
         
Kenapa saya begitu doyan mengoleksi jas (coat)? Kenapa bukan dress atau rok panjang seperti wanita umumnya? Kalau diingat-ingat, itu akibat komik-komik yang dibaca sedari balita. Tokoh komik karya Clamp, kelompok komikus favorit saya, acap memakai jas/coat dalam berbagai kesempatan. Bahkan android (robot mirip manusia) juga digambarkan kerap memakai coat. Lama-lama,saya jadi senang melihat gambar-gambar jas di majalah wanita. Beberapa baju milik ibu yang kekecilan pun dipermak menjadi jas panjang yang muat dengan ukuran mungil tubuhku. Setelah bekerja dan punya duit sendiri, akhirnya saya bisa memuaskan hasrat belanja coat sendiri.
Apa yang membuat jas/coat terasa begitu spesial? Mungkin karena kesan resmi yang ditimbulkannya. Saat memakai jas, lawan bicara atau orang sekitar akan menganggap kita lebih serius dan memperhatikan ucapan kita. Mereka tidak akan mempertanyakan kemampuan kita dan menganggap kita ada di level yang lebih tinggi.

     Memilih coat/jas yang bagus sangat tergantung dengan suasana kantor atau kelas kuliah kita. Semasa masih kulaih di S1, saya lebih suka coat/ jas tipis dari bahan batik atau katun yang menyerap keringat, karena ruang kelas dan laboratorium tidak dilengkapi AC. Sesudah bekerja, coat/jas resmi dari bahan kain menjadi pilihan utama, karena ruangan kantor sangat dingin dan kebanyakan aktivitas dilakukan di dalam ruangan. Walau demikian, coat/jas batik tetap bisa dipakai di hari Jumat. 

0 komentar: