Jumat, 14 November 2014

Istilah Kuliah : Share Swap (Tukar Saham)

Beberapa minggu yang lalu bursa saham dihebohkan oleh kegiatan share swap yang dilakukan Telkom (melalui anak perusahaannya, Mitratel) dengan Tower Bersama Infrastructure (TBIG). TLKM akan menukar 49% kepemilikannya di Mitratel dengan kepemilikan 5.9% atas TBIG. Detailnya: TLKM (pasca transaksi) punya 5.9% hak kepemilikan atas TBIG, sedangkan TBIG punya 49% kepemilikan di Mitratel. TLKM menyerahkan kepemilikan atas 49% saham Mitratel dengan kepemilikan atas 5.9% saham TBIG.

Seperti sudah digambarkan dari peristiwa di atas, share swap adalah pertukaran saham antara 2 perusahaan. Biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek. Namun sebetulnya sering juga dilakukan di sejumlah perusahaan kecil dalam bentuk pernikahan atau pertukaran aset, “saya serahkan anak saya ke perusahaan anda, tapi saya dapat 50% saham di perusahaan anda”. Atau hanya bertukar saham saja seperti TLKM dan TBIG.
Apa keuntungan share swap? Kita ambil contoh saja dari kasus di atas. Bagi Telkom, share swap ini menguntungkan karena mereka jadi punya kepemilikan relatif besar (5.9%) atas salah satu operator BTS (menara pemancar sinyal telepon). Mereka pun bisa fokus pada keahlian inti mereka dalam menghubungkan manusia, dengan melepas kepemilikan atas Mitratel. Bagi TLKM, mengurusi dan mempertahankan Mitratel dirasa semakin memberatkan neraca keuangan perusahaan. Pasca melepaskan Mitratel, Telkom bisa mengarahkan perhatiannya pada pengembangan jaringan optik, perbaikan kualitas sinyal, peningkatan layanan konsumen, dan lain-lain.
Bagi TBIG, akuisisi ini jelas meningkatkan economies of scale mereka. Saat proses akuisisi selesai di Kuartal III 2014 ini, TBIG akan menjadi pemain terbesar di industri pengelolaan menara, mengalahkan Sarana Menara Nusantara (TOWR) dan IBST. Karena punya tower lebih banyak, mereka pun punya daya tawar lebih tinggi saat menegosiasikan kontrak kerja dengan klien-kliennya.
Keuntungan yang diterima oleh Telkom dan TBIG ini mengalahkan kerugian yang mereka terima akibat aksi share swap ini. Telkom rugi karena tidak menguasai (memiliki) ratusan tower lagi(tapi apa gunanya punya banyak tower kalau malah menggerus laba perusahaan?). TBIG rugi karena harus merawat dan meningkatkan kualitas ribuan tower (tetapi mereka mendapatkan tambahan cash flow dari sewa ribuan menara ini).

Kapan share swap dilakukan? Bisa  kapan saja, asalkan kedua pihak yang berencana melakukan pertukaran merasa cocok dan sepakat dengan persyaratan yang diajukan pihak lawan, serta mereka berdua punya kepentingan yang sama. Dalam kasus ini, Telkom tidak dapat meningkatkan laba dari tower mereka, sehingga memilih untuk menjualnya. Kontribusi tower-tower tersebut bagi Telkom ±1,5Triliun di 2013, hanya 2% dari pendapatan Telkom di 2013. Dengan menjualnya ke TBIG, Telkom bisa mendapatkan tambahan uang tunai. TBIG pun berkepentingan memiliki tower-tower tersebut. Selama dikelola Telkom/Mitratel, utilitasnya (tenancy ratio) hanya 1.1x. Jika dikelola oleh TBIG yang berpengalaman di dunia pengelolaan tower, maka tenancy ratio bisa diangkat hingga ke angka 1.7x, memberi TBIG tambahan pendapatan dan laba. 

0 komentar: