Kamis, 07 Februari 2013

Pajak Prancis



6 bulan terakhir ini berita-berita di televisi Eropa dipenuhi dengan segala hal yang berhubungan dengan kenaikan Pajak di Prancis. Mulai dari kaburnya artis dan pengusaha Prancis ke negara lain, kenaikan pajak impor sawit hingga 300% (yang pasti memotong keuntungan pabrik-pabrik sawit di Indonesia), migrasi Sumber Daya Manusia mereka ke negara lain, dan migrasi olahragawan mereka ke China dan Timur Tengah.

Dibandingkan dengan pajak perorangan di Jerman (65%), Inggris (35%) atau Amerika (24%), pajak di Prancis terbilang besar, yaitu 75%. Bedanya, pajak ini hanya diterapkan kepada kaum superkaya dengan penghasilan lebih dari 1 juta Euro.
Walaupun pengadilan konstitusi memutuskan untuk membatalkan pajak orang kaya tersebut karena bertentangan dengan konstitusi, tetap saja sejumlah milyuner berpindah kewarganegaraan. Yang paling heboh adalah kepindahan Bernard Arnault (Pemilik Grup Louis Vuitton) ke Belgia dan Gerard Depardieu (aktor dan pengusaha restoran) ke Rusia.
Pemerintah Prancis memang tengah berusaha meningkatkan pemasukan dari pajak guna membiayai defisit neraca dan membayar obligasi Pemerintah yang akan jatuh tempo. Dibandingkan dengan tetanggaya Jerman, Prancis perlu berjuang ekstra keras guna mengembalikan perekonomian yang tengah terpuruk. Prancis tengah terbelit masalah pengangguran yang meningkat, berkurangnya pemasukan negara, penurunan kinerja industri, dan lain-lain. Produk-produk made in France kalah bersaing dengan made in China, apalagi China sekarang sudah mulai mengejar ketertinggalan di bidang kualitas.
Industri otomotif Prancis gagal bersaing dengan mobil-mobil mewah buatan Jerman di pasar Asia. Industri fashionnya berhasil meningkatkan penjualannya di pasar China, tapi besarnya biaya produksi dan operasional memangkas margin keuntungan mereka. Berkurangnya laba industri berarti menyusutnya pajak yang akan disetor industri ke pemerintah. Tidak heran Pemerintah Prancis berupaya meningkatkan penerimaan dari pajak.
Kriteria pendapatan di atas 1 juta Euro justru membuat kalangan terpelajar, teknisi dan manajerial ikut memilih hengkang ke mancanegara. Mereka beranggapan lebih baik hidup di negara-negara Skandinavia atau Jerman dengan fasilitas umum memadai dan kesejahteraan terjamin daripada hidup di Prancis yang rawan kerusuhan buruh dan fasilitas umum kurang memadai. Akibat hengkangnya SDM berkualitas membuat deindustrialisasi di Prancis semakin parah. Sebaiknya Pemerintah Prancis memikirkan cara sosialisasi kenaikan pajak ke warga negaranya dengan lebih komunikatif dan menarik.
Pajak terbaru yang akan mereka terapkan adalah pajak internet. Pajak ini akan dibebankan kepada raksasa internet seperti Google dan Facebook. Mereka beranggapan bahwa Pemerintah berhak menarik bayaran atas informasi pribadi yang sudah diberikan warga negara kepada Google dan Facebook. Sejauh ini usulan pajak internet masih dalam tahap rancangan, tapi bisa diperkirakan kalau sebagian besar kalangan industri akan menolak karena menganggap promosi melalui social media atau Google AdWords.

0 komentar: