Senin, 18 Maret 2013

Berita buruk di Bursa



Jika kita rajin membaca berita tentang bursa di surat kabar maupun internet, pasti ada saja berita buruk dari mancanegara maupun domestik yang menghantui bursa. Dari dalam negeri ada gosip naiknya harga bahan bakar bersubsidi, naiknya tarif listrik, langkanya komoditas bumbu dapur, dan ketidakbecusan pemerintah menangani investasi pabrik. Dari luar negeri juga beragam berita buruk menerpa. 2008 ada krisis KPR macet di Amrik (subprime mortgage), 2009-2011 soal kolapsnya Yunani, 2012 masih soal Yunani ditambah hutang Amerika yang membumbung, dan 2013 tentang kolapsnya perbankan Siprus. Entah berita apa lagi yang esok datang. Media tidak pernah lelah membombardir kita dengan berita buruk.

Banyaknya berita buruk dari mancanegara sebetulnya wajar karena lebih dari 60% dana yang beredar di bursa berasal dari investor mancanegara. Porsi investor lokal, apalagi investor ritel perorangan lebih kecil.
Kalau menuruti berita dan prediksi yang mengakhiri setiap berita, sepertinya Indonesia bakal runtuh kapan saja. Tetapi perekonomian Indonesia selama tahun 2009-2012 termasuk salah satu yang terkuat di dunia dan terus tumbuh. Investor asing bersedia berinvestasi di bursa saham dan obligasi (SUN,SBI,SBSN, FR) adalah bukti kuatnya perekonomian Indonesia.
Dibanding menaruh dana di Eropa atau Jepang yang hanya memberi imbal hasil 0-1.5% per tahun, berinvestasi di Surat Utang Negara Indonesia dengan kupon 3-4% setahun jelas lebih menguntungkan. Berinvestasi di Bursa Efek Indonesia yang mampu memberi keuntungan 10-20% pun sangat menggiurkan. Jangan kaget kalau sebagian besar pembeli obligasi negara dan saham-saham blue chip adalah pihak asing. Kalau pihak asing saja percaya dengan kekuatan perekonomian Indonesia, kenapa warganya sendiri tidak?
Ekonomi Indonesia mampu tumbuh 6% selama 2011-2012 dengan bertumpu pada konsumsi dan investasi. Kawasan-kawasan industri terus berkembang, tidak hanya di Jakarta saja tapi juga ke provinsi-provinsi lain seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur (terimakasih atas kenaikan UMP Jakarta). Apartemen dan perumahan terus dibangun dan laris bak kacang goreng. Wirausaha-wirausaha lokal dan muda bermunculan hingga ke daerah-daerah. Perekonomian maju tidak hanya di Jawa, tapi juga merambah ke pulau-pulau lain.
Bursa saham menggambarkan kondisi awal perekonomian Indonesia, sehingga sering disebut leading indicator perekonomian negara. Hingga Maret 2013 saja bursa sudah menguat lebih dari 13% dan terus rajin mencetak rekor-rekor baru. Indikasi awal ini membuat beberapa pihak (birokrat, pebisnis, analis) percaya bahwa Ekonomi Indonesia di 2013 benar-benar berputar kencang.
Berita buruk selalu ada di pasar, perekonomian, bursa dan dimana saja. Mereka mengimbangi (walau kadang menutupi) berita buruk yang ada. Tinggal kita menyikapi, mau fokus pada berita buruk atau percaya pada berita baik yang ada di depan kita. Karena kalau terlalu percaya pada berita buruk, bisa saja kita ditinggal saham incaran yang harganya naik terlalu tinggi sampai tak terjangkau :)

0 komentar: