Rabu, 06 April 2016

Bride Wannabe by Christina Juzwar

Novel-novel chicklit yang dilabeli ulang dengan nama wedding lit sepertinya mulai merambah rak-rak buku Togamas dan Gramedia. Setelah My Wedding Dress dan Pre-Wedding Chaos (yang tidak terlalu istimewa tapi sangat ringan dibaca), saya tertarik membaca Bride Wannabe. Novel satu ini mengangkat tema online dating.
Sascha sudah 8 tahun pacaran dengan Ben, tapi tidak kunjung dilamar. Mereka putus setelah Ben memukul Sascha sampai babak belur. Atas saran sahabatnya, Sascha mencoba mencari pacar lewat internet (online dating). Ia berjumpa Oliver di salah satu situs perjodohan online. Setelah melalui sejumlah drama dan air mata, mereka pun memutuskan menikah di Inggris.

Tokoh Sascha di sini sangat mirip dengan Abby dalam My Wedding Dress, tapi dengan dosis emosional yang lebih tinggi dan sosok pria idaman yang tidak sempurna. Kelebihannya: cerita dalam Bride Wannabe terasa lebih nyata. Kita pasti pernah bertemu dengan pasangan yang suaminya sederhana dan tidak terlalu menarik sementara istrinya teramat emosional dan cerewet.
Online dating juga hal yang lumrah di abad 21. Hampir semua wanita dan pria karir pernah menggunakannya, mulai dari yang gratis macam Setipe dan Tinder, sampai yang berbayar. Bride Wannabe membeberkan kelebihan dan kekurangan online dating melalui bingkai cerita hubungan Oliver dan Sascha. Bagian paling menghibur dari novel ini adalah saat Sascha menemui teman-teman kencan online nya satu per satu. Bagian lain, seperti drama dengan pacar-pacarnya, terasa biasa dan tidak signifikan.

Dilihat dari tema yang diangkatnya, Bride Wannabe membidik pasar wanita karir yang siap menikah tapi belum bertemu pasangan yang tepat. Drama yang dihadirkan mampu mengingatkan pembacanya bahwa hidup itu tidak sempurna. Tiga dari 5 bintang untuk Bride Wannabe. 

0 komentar: