Rabu, 06 April 2016

Supernova: Gelombang by Dewi Lestari

Serial Supernova pertama yang saya baca sampai habis adalah Partikel. Its so damn good that I reread it multiple times. The storyline, the dialogue, even the cliffhangers only second to ES Ito’s novels. Selanjutnya, saya membaca Ksatria, Putri,dan Bintang Jatuh. Walau dialog dan plot twist nya menarik, tapi tidak sebagus Partikel. Supernova terbaru, Gelombang, pun baru terbaca setelah perpustakaan lokal menyediakannya. Saya tidak  membeli satu pun serial Supernova karena perpustakaan daerah menyediakannya, dan sering tidak terbaca.
Jika Partikel menyajikan realita pahit, Ksatria, Putri,dan Bintang Jatuh mengangkat imajinasi dua manusia, maka Gelombang mengangkat tema mimpi. Tokoh utama, Alfa Sagala, terlalu sempurna sehingga hanya bisa ditemui di dunia mimpi. Ia punya segalanya: tampan, tinggi, kaya, baik. Tall, dark, handsome, rich. Tapi ia selalu mencari cara agar tidak tertidur, agar tidak perlu masuk ke dunia mimpi. Pencarian Alfa akan makna mimpinya menjadi benang merah cerita setebal 562 halaman ini.

Dibandingkan Partikel, atau Petir, Gelombang masih kalah. Rangkaian ceritanya tidak semulus Ksatria, Putri,dan Bintang Jatuh. Dialog, kejutan cerita, dan alur nya terlalu mudah ditebak. Alfa Sagala adalah Jordan Belfort yang diadaptasi ke budaya dan nilai-nilai Indonesia. Jika sudah pernah menonton Wolf of Wall Street, Margin Call, atau The Big Short, jalan hidup Alfa tampak biasa saja. Pengaruh novel Before I Go To Sleep sangat terasa di awal-awal cerita,
Kekuatan Gelombang yang menonjol adalah penuturannya yang sederhana. Tata bahasanya tidak njlimet. Untuk ukuran buku setebal 562 halaman, Gelombang bisa diselesaikan dalam waktu 3.5 jam. Gelombang juga serial Supernova yang paling market-friendly. Cerita yang mudah dicerna, twist sederhana, dan tokoh yang terlalu sempurna adalah racikan tepat menjual novel kepada generasi teenlit dan FTV.

Walaupun menarik, saya rasa Gelombang bukanlah novel yang tepat untuk dikoleksi atau dibaca berulang kali. Ia seperti sinetron yang terlalu biasa yang cukup sekali ditonton lalu dihapus dari memori. 3 dari 5 bintang untuk Gelombang. 

0 komentar: