Senin, 16 Januari 2012

Pembatasan Subsidi BBM

     Mulai bulan april 2012 pemerintah berencana mencabut subsidi bbm,terutama premium. Banyak pihak menyayangkan keputusan ini karena menganggap sebagian besar rakyat indonesia masih membutuhkan subsidi premium. Efek yang muncul setelah subsidi premium dihapus adalah harga-harga naik (karena ongkos transportasi naik),inflasi meroket,dan ditakutkan angka kemiskinan ikut naik.

     Namun jika melihat data statistik,dapat diketahui bahwa lebih dari 60% konsumsi premium justru dinikmati kalangan menengah. Konsumsi oleh kalangan miskin dan kendaraan umum justru lebih rendah.
     Kalau dipikir-pikir,kebanyakan kaum miskin justru tidak punya kendaraan pribadi. Mereka lebih sering bepergian dengan kendaraan umum. Mobilitas mereka terbatas. Bepergian bukan prioritas utama mereka. Jadi sebetulnya subsidi premium tidak menyentuh mereka. Padahal subsidi dimaksudkan untuk mempermudah hidup kaum miskin. Apa gunanya subsidi kalau tidak menyentuh sasaran?
     Pihak-pihak yang tidak menyetujui penghapusan subsidi berargumen hal itu bisa meningkatkan inflasi. Betul. biaya transportasi pasti naik. Inflasi tahun lalu yang cuma 3.9% bisa menembus 6%. Tapi dana IDR 170T hasil penghematan subsidi bisa dipakai untuk belanja infrastruktur dan melunasi hutang yang jatuh tempo. Hutang pemerintah bisa dikurangi dan beban anggaran berkurang. Kalau pembangunan infrastruktur lancar, pertumbuhan ekonomi meningkat dan lapangan kerja bertambah, justru penghapusan subsidi premium bermanfaat dalam jangka panjang.
     Kalangan yang langsung terpukul dengan dihapuskannya subsidi premium adalah kalangan menengah, yaitu orang-orang dengan penghasilan lebih dari IDR 2 juta (Jawa) atau IDR 4 juta (luar Jawa) sebulan. Mereka biasanya memiliki kendaraan sendiri walau masih menumpang tinggal di rumah orang tua dan tidak bisa menabung. Penghapusan subsidi diperkirakan mampu membuat skala prioritas belanja mereka bergeser. Alokasi bahan bakar mereka bertambah, sedangkan kebutuhan gaya hidup mereka dikurangi.
     Usaha Kecil dan Menengah (UKM) diperkirakan ikut terpukul dihapuskannya subsidi. Biaya transportasi pasti melonjak. Mereka harus lebih kreatif menyusun anggaran agar tidak rugi. Konsekuensi yang mungkin muncul antara lain pengurangan jam kerja, pemutusan hubungan kerja, konsolidasi usaha inti, dan kenaikan harga jual.

0 komentar: