Kamis, 30 Agustus 2012

Margareta Astaman : Fresh Graduate Boss

Buku ini dirangkum dari kumpulan curhat Margareta Astaman di margarittta.multiply.com. Berisi 29 cerita Margie selama bekerja dan berkarir di berbagai perusahaan media dan advertising. Suka duka menjalani karir dan pengalaman dengan teman-teman kantor, atasan maupun bawahan diceritakan dengan bahasa yang lugas dan ringan.
Dari berbagai cerita di buku ini kita bisa mengenal berbagai suka duka dunia kerja, baik di kantor besar maupun kantor kecil. Mulai dari kesulitan memutuskan tempat berkarir, proses adaptasi, berurusan dengan teman kerja atau suasana kantor yang kurang sesuai, diskriminasi ras atau gender dari lingkungan dan berbagai hal lain.
Margie menulis buku ini dengan gaya bahasa percakapan sehari-hari dan apa adanya. Membaca buku ini kita seperti sedang mendengarkan Margie curhat mengenai dunia kesehariannya dan apa pendapatnya mengenai masalah yang menimpanya. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi sederhana yang menggambarkan cerita-cerita penulis.
Dari buku ini saya jadi tahu bahwa masalah seperti diskriminasi gender/ras, percintaan, motivasi kerja ataupun pergaulan adalah hal biasa yang bisa ditemukan di manapun. Begitu pula dengan masalah pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa. Tergantung kepintaran kita menyikapi. Kalau materi merupakan tujuan utama, tahan-tahankan saja bekerja di tempat yang tidak disukai. Toh gajinya besar. Tapi kalau aktualisasi diri atau kebahagiaan adalah tujuan utama kita bisa memilih karir kita sendiri. Risikonya mungkin saja gaji yang terlalu kecil. Yang penting kita bahagia dan ikhlas menjalani karir itu.
Fresh Graduate Boss merupakan karya ketiga Margie sesudah After Orchard dan Excuse Moi. Kedua karya awalnya sudah sold-out dan jarang ditemukan di toko-toko buku di Solo dan Jogjakarta. Fresh Graduate Boss bisa dibeli dengan harga IDR 42000.
Menurut saya, Fresh Graduate Boss sangat layak dibaca. Bahasanya ringan, mudah dipahami, lucu dan membumi (dekat dengan keseharian). Sejenis dengan chicklit. Tapi ceritanya lebih nyata dengan kehidupan kita dan bisa saja sudah (atau kelak) kita alami.

2 komentar: