Minggu, 21 April 2013

Impor dan Perannya dalam Kreativitas Industri



Melanjutkan tulisan saya tentang Swasembada, kali ini saya ingin mengupas keuntungan impor. Sisi baik impor, industri kreatif dan dunia perdagangan Indonesia mampu berkembang sehingga bisa menambah nilai (added value) pada industri tekstil dengan meniru dan memodifikasi produk buatan mancanegara.

3 macan Asia (Cina, Jepang, dan Korea) mengembangkan industrinya dengan cara meniru. Sesudah kalah Perang Dunia 2, Jepang segera membenahi negaranya yang hancur. Salah satu industri yang berpikir out of the box adalah industri manufaktur, terutama Sony dan Toyota. Mereka mulai meniru berbagai produk otomotif dan elektronik buatan Amerika dan Eropa, dan mengekspornya. Awalnya penduduk Amerika dan Eropa memandang remeh buatan Jepang, berpikir mereka barang yang mudah rusak (seperti persepsi kita akan produk China sekarang). Melalui modifikasi dan perbaikan terus menerus, akhirnya produk manufaktur Jepang bisa diterima masyarakat dunia. Era kejayaan produk Jepang dimulai tahun 70an hingga awal abad 21.
China dan Korea (lebih spesifik: Korea Selatan) melihat Jepang mampu menguasai dunia dengan dua cara itu, tertarik menggunakannya juga. Mereka pun meniru dan memodifikasi produk manufaktur Jepang. Korea memodifikasi dengan cara membuat variasi yang lebih banyak daripada produk Jepang. China memodifikasi dengan membuat versi murah dan terjangkaunya.
Memang pada awalnya kedua negara tersebut adalah sasaran impor manufaktur Jepang. Tapi mereka berhasil membuat produk sejenis yang lebih bervariasi dan murah, dan membanjiri pasar di seluruh dunia. Sekarang China tersohor sebagai Pusat Manufaktur Dunia.
Kedua negara tersebut membuktikan bahwa dengan sedikit sentuhan kreativitas, kita bisa menciptakan produk yang mirip tapi beda dan disukai pasar. Mereka tidak alergi impor. Nilai impor Jepang ke China mencapai miliaran yuan. Hanya produknya saja yang bergeser. Kalau dulu Jepang mengirim produk otomotif dan manufaktur ke China, sekarang mereka kebanyakan mengirim produk tekstil dan makanan sehat ke China.
Hubungan dagang ini juga tetap menguntungkan Jepang, terutama industri pariwisatanya. Turis China dan Korea lebih suka berlibur ke Jepang yang udaranya relatif lebih bersih daripada negara mereka dan transportasinya lebih aman dan nyaman. Pemasukan dari industri pariwisata terbukti lebih mampu menyejahterakan penduduk mayoritas Jepang dibanding industri otomotif dan manufaktur.
Indonesia juga bisa meniru langkah 3 Macan Asia tersebut. Kita bisa menjual paket wisata pedalaman yang belum tersentuh manusia, wisata kerajinan tangan, atau wisata menonton ikan (di Indonesia Timur).

0 komentar: