Selasa, 30 September 2014

The Sherlockian By Graham Moore

Sebetulnya tidak ada ekspektasi apapun saat meminjam The Sherlockian. Dari slogannya, “pengakuan rahasia Conan Doyle”, sudah bisa ditebak bahwa Moore memakai tokoh Sir Arthur Conan Doyle protagonisnya. Seusai membaca Sherlockian, bisa disimpulkn bahwa kisah ini bukanlah cerita yang isitimewa. 
Alurnya tercampur antara flashback dengan linear. Ada 2 plot utama, plot masa kini dan plot masa lalu. Penggambaran Moore terhadap kedua tokoh protagonisnya tidak terlalu mengesankan, bahkan cenderung stereotip. Sherlockian saya nilai cukup dengan 1 dari 5 bintang, mengingat kehambaran dan kebosanan yang menyertainya.

Arthur Conan Doyle sudah bosan dengan tokoh rekaannya, Sherlock Holmes. Holmes sudah merenggut seluruh waktu, perhatian dan energinya. Ia “membunuh” Holmes. Namun bom asap kiriman seorang pembaca yang kecewa menuntunnya ke sejumlah pembunuhan berantai. Dan ia tertarik untuk “menghidupkan” Holmes kembali.
Harold White adalah seorang anggota Laskar Baker Street yang baru saja dilantik. Di malam pasca pelantikannya, seorang anggota senior Laskar terbunuh. Dibantu oleh seorang wartawati lepas, ia berusaha mencari siapa pembunuhnya.
Ada 2 protagonis disini, Arthur dan Harold, yang memerankan diri mereka sebagai “Sherlock Holmes”, detektif ulung yang menyelidiki pembunuhan. Watson diperankan oleh Bram Stoker (penulis Bram Stoker’s Dracula) dan Sarah Lindsay si wartawati.

Berbeda dengan kebanyakan premis novel detektif dimana pelakunya adalah orang-orang terdekat korban,  Sherlockian menganut jalan cerita ala sinema televisi CSI atau Criminal Minds. Arthur dan Harold harus berhadapan dengan ruwetnya birokrasi kepolisian, proses manual pencarian petunjuk, hingga mewawancarai calon tersangka satu per satu. Persis seperti yang dilakukan Hercule Poirot. Kedua tokoh utama ini disadarkan bahwa proses penyelidikan di dunia nyata tak semudah fiksi Sherlock Holmes. 

0 komentar: