Kamis, 27 Mei 2010

The Black Magician

  Yup, skali lagi aku menulis tentang bacaan. Sejak jadi pengangguran aku jadi jarang membaca sihhh. Penyebabnya tentu saja karena di dekat rumahku tidak ada rental komik yang lengkap. Beda dengan di Jogja, tiap RW minimal ada satu rental komik. Walhasil aku semakin sering kabur ke Jogja cuma buat meminjam komik dan novel dan dvd. Kenapa aku juga meminjam film? Karena bias memperkaya khasanah bahasa dan budayaku (cieeeeee…bahasanya).
  Novel terakhir yang kupinjam kemarin adalah serial Penyihir Hitamnya Trudi Canavan. Serial ini memiliki 3 novel yang ceritanya terus bersambunng. Unfortunately, di rental komik langgananku cuma ada buku pertama, Magician’s Guild dan buku ketiga, The High Lord. Buku kedua, The Novice, dipinjam terus dan tidak kunjung dikembalikan. Tokoh utama serial novel ini adalah Sonea, gadis jalanan yang menemukan bahwa dirinya memiliki kekuatan sihir.

  Di Magician’s Guild diceritakan awal mula Sonea menemukan kekuatan sihirnya dan petualangannya hingga akhirnya ia masuk ke Persekutuan Penyihir di negaranya, Kyralia. Sonea memiliki teman setia, Ceryni (biasa dipanggil Cery), yang selalu mendampinginya di saat senang,susah, sedih dan sulit. Di Persekutuan Penyihir Sonea menjadi bimbingan Rothen, penyihir bijak ahli alkimia. Tokoh antagonis di Magician’s Guild adalah Fergun, penyihir congkak yang menentang masuknya gelandangan ke Persekutuan Penyihir. Ia menyekap Cery dengan harapan Sonea bersedia berulah sehingga ditolak masuk Persekutuan Penyihir. Sayangnya Akkarin, Pemimpin Tertinggi Persekutuan Penyihir menemukan Cery dan membuat Fergun diadili dan diasingkan.
  Karena aku tidak membaca buku kedua, maka dari cuplikan kilas balik  di buku ketiga kutarik kesimpulan bahwa di buku kedua Sonea menghadapi konflik dengan teman-temannya sesama siswa Akademi Penyihir yang tidak menghendaki kehadirannya di Akademi. Juga bahwa hak pendidikannya dialihkan dari Rothen ke Akkarin karena Akkarin tahu bahwa Sonea pernah menyaksikan dirinya mempraktekkan sihir terlarang.
  The High Lord menyuguhkan akhir yang tidak terduga. Di buku ketiga ini Sonea memutuskan belajar sihir hitam setelah mengetahui alasan Akkarin menggunakan sihir hitam adalah untuk membunuh musuh-musuh Kyralia. Namun karena suatu sebab, mereka berdua malah diasingkan ke Sachaka (negeri musuh Kyralia). Di pengasingan cinta mereka tumbuh satu sama lain. Ketika penyihir-penyihir Sachaka menyerang Kyralia, mereka kembali dan berperang membela Negara mereka dengan bantuan kaum Pencuri. Di pertempuran terakhir Akkarin terbunuh. Akhir cerita, Sonea menjadi Penyembuh yang mendedikasikan hidupnya untuk rakyat miskin dan anak Akkarin dalam kandungannya.
  Untuk soal plot alias jalan cerita, serial Penyihir Hitam ini cukup bagus. Jalan ceritanya cukup mengejutkan walaupun ada beberapa yang bisa ditebak. Kemampuan Canavan untuk bertutur menjadi salah satu kekurangannya. Bahasa dan kata yang dipilihnya cenderung datar dan kurang menarik. Tidak adanya unsur kejutan juga merupakan salah satu kekurangan, mengingat ini adalah serial novel fantasi. Hewan-hewan dan makhluk hidup fantasi juga sedikit. Tidak ada sihir kejutan seperti di Harry Potter. Unsur dewasa juga sudah dimasukkan pada buku ketiga, dimana Sonea hamil setelah menghabiskan waktu 4 bulan bersama Akkarin. Serial Penyihir Hitam ini agak susah dipahami bahasa dan jalan ceritanya, jadi lebih cocok untuk kalangan umur 15 tahun keatas.

0 komentar: