Jumat, 19 Juni 2015

Original Motion Picture Soundtrack Movie and Games

Sudah enam tahun belakangan ini saya mengurangi pembelian album musik artis populer dan beralih ke album musik dan lagu pengiring musik dan game (soundtrack). Penyebabnya? Pertama tidak semua lagu dalam satu album musisi pop sesuai dengan selera saya (Alicia Keys and Taylor Swift yes, Beyonce and Iggy Azalea nay). Kedua: kebanyakan lagu yang enak didengar diputar oleh sejumlah stasiun radio favorit dan kerap direkomendasikan oleh Youtube. Jadi buat apa membeli satu album. Terakhir, jenis musik dalam album musik populer tidak menarik lagi didengarkan setelah beberapa bulan. Dulu album BackStreet Boys atau M2M bisa didengarkan berminggu-minggu. Sekarang baru seminggu mendengarkan satu album Katy Perry atau Lana Del Rey, Kendrick Lamar atau Madonna merilis album baru dengan musik, lirik dan komposisi instrumen yang berbeda. Album baru terdengar lebih menarik dibanding album lama.
Kembali ke album OST Film dan Game. Ada beberapa alasan album jenis ini lebih enak didengar. Dalam satu set album biasanya terdapat dua keping CD. Keping CD pertama berisi lagu (musik dan lirik) pengiring suatu film atau game. Keping kedua berisi musik pengiring (hanya instrumentasi dan vokal pengiring, tanpa lirik). Jika sedang belajar atau menghafal, keping kedua lebih sesuai didengarkan. Kita bisa menyesuaikan musik dengan materi yang dipelajari, misal mengisi sendiri liriknya dengan sejarah romawi. Keping pertama yang berisi lagu sesuai didengarkan di saat santai. Lagu-lagu di dalam keping pertama jarang ada yang masuk tangga lagu radio, tapi tetap enak didengarkan. Misalnya Undiscovered (OST 50 Shades of Grey) atau Image (OST Xenosaga II).

Sejumlah album OST film ada yang diisi lagu-lagu lawas yang timeless, tidak lekang oleh waktu. Misalnya OST Kingsman atau OST Guardian Of The Galaxy. Lagu-lagu ini bisa didengarkan bersama kakek-nenek, ayah-ibu, atau om-tante di saat senggang sambil membicarakan kenagan dan peristiwa.
Selera musik di keping CD kedua sangat relatif. Misalnya saya yang tidak terlalu menyukai karya komposer Hans Zimmer atau Ramin Djawadi, lebih tertarik pada karya Patrick Doyle, Henry Jackman, Yasunori Mitsuda atau Yuki Kajiura. Walaupun ada juga album OST yang tetap bagus komposisi dan penjualannya, tidak peduli siapapun komposer atau artis pengisi lagunya. Misalnya OST film-film Disney, atau musik pengiring game dari Square Enix. Sampai saat ini musik dari Brave atau Chrono Cross masih mampu membuat saya terkesima.

Beberapa lagu dari OST terkadang tetap diputar DJ di sejumlah stasiun radio walau permintaannya sedikit. SwaragamaFM kerap memutar We Remain dari OST Catching Fire. GeronimoFM terkadang memutar beberapa lagu dari OST serial televisi, terutama lagu-lagu lama yang didaur ulang. 

0 komentar: