Senin, 06 Juni 2011

Kuliner versus Kelangkaan Hewan

    Kita semua pasti suka makan. Makan atau pangan adalah salah satu kebutuhan primer manusia selain sandang dan papan. Manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa makan. Makan makanan enak lebih disukai. Enak dan mengenyangkan bagi tiap orang sifatnya relatif. Tapi kebanyakan orang Indonesia menyukai makanan yang rasanya bervariasi antara manis, gurih dan asam dengan porsi yang relatif banyak.
    Di sekitar kita saat ini bertebaran berbagai pilihan lokasi kuliner yang menawarkan hidangan yang bervariasi. Mulai dari soto pinggir jalan, kue kering di warung kecil, roti isi bakery kenamaan, makanan laut di restoran mewah dan sebagainya. Bahkan makanan yang dulu tergolong mewah seperti burger dan takoyaki sekarang bisa dinikmati di kaki lima. Berbagai tempat makan tersebut menawarkan menu yang berbeda-beda. 

    Beberapa restoran bahkan menawarkan menu hewan langka yang hampir punah untuk disantap. Sup kura-kura, sup sirip ikan hiu, sate daging harimau, ketam kenari bakar, sate daging ular atau tarsius bakar adalah beberapa menu hewan langka yang disediakan di tempat-tempat makan tertentu. Menu-menu itu biasanya merupakan menu yang harganya sangat mahal, diklaim memiliki manfaat tertentu (membuat awet muda, meningkatkan kejantanan) yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah tapi peminatnya sangat banyak.
    Ambil contoh sup daging kura-kura yang ramai diperjualbelikan. Menurut CITES, kura-kura adalah hewan langka yang dilindungi (appendix I) sehingga segala bentuk perdangannya yang mengambil dari habitat aslinya akan ditolak dunia internasional. Kenyataannya kura-kura sangat sedikit mendapat perlindungan dari predator terkejam bumi,manusia. Usaha konservasi di beberapa lokasi seolah tidak berpengaruh terhadap peningkatan populasi karena jumlah kura-kura yang terjaring jala nelayan atau mati akibat bom nelayan juga banyak. Kerakusan manusia menggiring kura-kura menuju kepunahan.
    Populasi tuna sirip biru dan tuna ekor kuning pun menyusut drastis. Tuna adalah sumber makanan yang penting karena mengandung berbagai mineral, protein dan asam lemak esensial. Tidak heran permintaan tuna di seluruh dunia terus melonjak dari tahun ke tahun. Akibatnya terjadi overfishing (penangkapan ikan yang berlebihan) dan populasi tuna terus menurun. Memang populasinya belum sesedikit paus atau hiu, tetapi jika overfishing terus dilakukan kelak tuna menjadi hewan langka.
    Kegiatan makan memang penting dan perlu, tetapi perhatikan apa yang akan dimasukkan ke dalam mulut kita. Apakah berbagai klaim tentang daging hewan langka itu benar atau cuma sugesti saja, karena semakin banyak orang yang menginginkan makanan berbahan dasar hewan langka, semakin sedikit populasi hewan tersebut karena terus diburu.
    Sebaiknya ketika makan kita berpikir lebih dulu darimanakah asal makanan kita, bagaimana cara pengolahannya, apakah makanan yang kita makan kelak berguna bagi tubuh dan tidak sekedar mengenyangkan, dan apakah kegiatan makan kita mengganggu ekosistem di bumi. Walaupun makanan yang kita makan menyehatkan dan mengenyangkan saat ini, bisa saja hal itu berkorelasi langsung terhadap kelangkaan populasi satwa. Jangan heran kalau beberapa tahun ke depan hewan yang kita makan saat ini hanya dapat ditemui di ensiklopedia.

0 komentar: