Rabu, 03 Februari 2016

The Last Ship


Sebuah virus yang lebih mematikan dari Ebola dan lebih menular dari SARS menyerang penduduk bumi. Belum ada vaksinnya. Penduduk dunia yang tewas karena virus bertambah dengan cepat dari hari ke hari. Harapan terakhir ada di pundak virolog Dr. Rachel Scott dan awak kapal USS Nathan James. Mereka berjuang mencari vaksin virus tersebut agar dapat segera diberikan kepada orang-orang yang terinfeksi.
The Last Ship adalah tontonan yang tepat bagi wanita pencandu ketegangan tapi tidak ingin kehilangan hiburan wajah-wajah tampan. Marinir-marini kapal USS Nathan James adalah gambaran ideal pasukan angkatan laut. Taktis, kuat, gesit, lincah, serba bisa, dan lumayan punya rasa humor. Bagi para wanita, inilah salah satu serial yang memanjakan mata.

Dua episode pertama dari season pertama memang membosankan, untungnya aktor-aktor tampan dan sains berhasil menyelamatkannya. Nyaris tidak ada hal yang berarti terjadi di dua episode pertama. Barulah di episode 3 sampai 10 terasa kekuatan cerita The Last Ship.
Kekuatan serial televisi yang ditayangkan TNT ini terletak pada konflik, ketegangan, dan sinematografi yang bersih, khas Michael Bay yang menjadi produser eksekutif. Ceritanya sendiri sebetulnya biasa dan mudah ditebak. Penonton tidak akan terlalu penasaran menonton episode lanjutan The Last Ship (kecuali sedang berada di masa subur dan butuh materi khayalan). Kelekatannya rendah.

Dibanding serial post-apocalyptic thriller lain semacam The Man In The High Castle atau Power, The Last Ship tidak terlalu menonjol atau menarik. Tapi sebagai tontonan selingan yang enak dinikmati sambil makan nasi atau ngemil mie goreng, serial ini bisa dibilang cukup. The Last Ship lebih sesuai dinikmati lewat Netflix (bagi pengguna non-telkom) atau DVD, karena jika menonton lewat televisi kabel kita mudah lupa cerita episode terdahulu

0 komentar: