Senin, 01 Februari 2016

Suite Francaise Dan Sisi Lain Perang

Pada hari Rabu, 6 januari 2016, harian cetak Kompas memuat sebuah berita menarik. Berita yang menyebutkan sambutan hangat rakyat Suriah terhadap kedatangan tentara rusia tersebut membuka sisi lain sebuah perang. Suriah yang diporak-porandakan perang saudara, dihancur leburkan ISIS, menyambut baik kedatangan pasukan Rusia. Rusia dipandang membantuk stabilitas dan menggerakkan perekonomian Suriah yang berbulan-bulan sekarat. Tentara Rusia tidak hanya menghalau ISIS dan Front Al Nusra, mereka membawa uang dan kemampuan belanja (purchasing power) yang sangat dibutuhkan menggerakkan roda bisnis Suriah. Sejak batalyon dan skuadron tentara Rusia datang, rakyat Suriah kembali bergairah memproduksi barang dan jasa, serta berdagang. Mereka kembali memproduksi makanan, minuman, hiburan, jasa, dan sandang untuk dijual kepada tentara Rusia. Setelah berbulan-bulan hidup dalam keputus asaan akan perang tiada akhir, rakyat Suriah kembali memiliki tujuan hidup.

Kondisi ini mengingatkan saya akan sebuah film bertema perang berjudul Suite Francaise. Film ini berkisah tentang romansa seorang mayor Nazi dengan gadis penduduk sekitar. Mayor yang juga seorang komposer itu dimanfaatkan sang gadis untuk mendisiplinkan tentara-tentara Nazi yang kerap ribut dengan penduduk desa, dan menjaga para manula dari penindasan letnan-letnan bawahan si Mayor. Walau agak berbeda dengan tentara Rusia di Suriah, Suite Francaise menyorot perlunya perilaku mengayomi dan disiplin tentara pendatang terhadap warga area yang ditempatinya.
Dari kedua peristiwa nyata dan fiksi di atas, terlihat bahwa perang yang berkepanjangan justru membawa akibat buruk, seberapapun “mulia”nya niat memulai perang itu. Demokrasi yang dipromosikan Amerika Serikat justru membawa bencana berkepanjangan bagi rakyat Suriah. Supremasi bangsa Arya yang diproklamirkan Hitler menimbulkan penderitaan di seantero Eropa. Perang membawa akibat berantai seperti kelaparan, kematian, ketakutan, dan pemberontakan.
Di sisi lain, perang yang diikuti datangnya sepasukan tentara membawa berkah bagi penduduk asli yang mampu mencium peluang. Penduduk di Suite Francaise dan warga kota-kota di Suriah berlomba-lomba memberikan layanan dan kebutuhan dasar bagi tentara-tentara yang bermukim sementara. Desa yang tadinya sepi menjadi ramai dan hidup. Kota-kota yang tadinya sunyi bagai kuburan kembali berdenyut. Persahabatan, simpati, dan romansa pun muncul dalam interaksi lanjutan warga-tentara tersebut.

Amerika Serikat jelas mengutuk kehadiran tentara Rusia di Suriah. Inggris mengecam kehadiran tentara Nazi di desa-desa Prancis. Tetapi kehadiran tentara di desa terpencil atau kota mati jelas membawa kehidupan dan perputaran uang yang memberi setetes limpahan kemakmuran bagi penduduk desa dan kota yang terkoyak perang. 

0 komentar: