Rabu, 03 Februari 2016

Begin Again Dan Lonceng Kematian Compact Disc (CD)


Baru-baru ini saya menonton Begin Again, film musikal tentang idealisme dunia musik. Greta James yang patah hati akibat pacarnya selingkuh bertemu produser musik yang melarat dan tidak produktif. Berdua, mereka membuat sebuah album musik yang direkam secara langsung di ruang terbuka (outdoor music). Rencananya, album yang sudah selesai itu akan diserahkan pada sebuah label untuk dipoles dan didistribusikan. Setelah mengetahui bahwa ia dan bandnya hanya mendapat 10% dari harga penjualan sebuah CD, Greta memutuskan mendistribusikan sendiri albumnya lewat internet. Hanya dalam 24 jam, 10 ribu orang membeli albumnya.
Begin Again sebenarnya sebuah film tentang keluarga dan kehidupan. Bagaimana bangkit setelah terpuruk, bagaimana berdamai dengan masa lalu, dan bagaimana menghargai orang-orang terdekat. Dialognya sederhana, karakterisasi dan evolusi tiap tokohnya mulus nyaris tanpa hambatan.
Latar belakang cerita yang menyorot industri musiklah yang membuat Begin Again menarik. Label yang sekarat mencari artis baru tapi memperlakukan mereka seperti budak, proses produksi lagu yang ternyata dapat dilakukan di mana saja, musikus-musikus aliran klasik yang muak memainkan Vivaldi setiap hari (lalu memilih kerja sampingan di jalur indie), kesemuanya menggambarkan industri musik saat ini. Tidak ada batas yang jelas antara satu aliran musik dengan aliran lain. Lagu dan musik sudah terdemokratisasi, dapat diciptakan,dimainkan dan dinikmati siapa saja, sehingga pada ujungnya ia menjadi komoditas.

Banyak sekali kanal untuk memperoleh musik. Lagu-lagu mainstream masih mendominasi, tapi orang-orang mulai membeli musik dari aliran indie. Pendapatan musikus tidak hanya dari penjualan CD saja, tapi juga dari unduhan (iTunes atau LangitMusik), streaming, Youtube (dan Youku), serta tur konser musik keliling dunia. Tur inilah yang menyumbang pendapatan terbesar para musikus.
Penjualan CD justru semakin menyusut. Iming-iming kualitas suara yang mumpuni tidak mampu membuat orang tertarik membelinya. Di Indonesia saja, label-label berebutan menjual CD lewat gerai ayam goreng KFC dan CFC.
Dalam Begin Again, penjualan versi digital album milik Greta menembus 10ribu kopi dalam 24 jam. Orang lebih suka membeli file digital berkualitas tinggi dalam format FLAC ataupun kualitas rendah (.mp3) lewat internet. Penjualan file digital yang cukup tinggi untuk artis-artis baru ini secara langsung mengkanibal penjualan CD Greta yang belum diedarkan. Greta menang besar, semua uang penjualan musik diraup ia dan bandnya. Label kesal, karena kehilangan pemasukan dari penjualan CD. Jika dibuat sekuelnya, mungkin Begin Again 2 mengisahkan kehidupan Greta sebagai penulis lagu dan produser.
Bagi pendengar, CD tidak menarik karena besar dan tidak praktis. Bagi musisi, CD tidak menarik karena mereka hanya mendapat 10% dari nilai penjualan CD. Format CD hanya menarik bagi label dan distributor besar macam BMG atau Sony. Pendapatan terbesar musisi didapat dari tur konser, bukan dari CD. Peran CD bergeser menjadi pengenalan portofolio lagu-lagu musisi atau artis, plus alat promosi di radio.
Di tahun 2014, hanya Taylor Swift yang berhasil menjual CD hingga jutaan keping. Tahun 2015, kehormatan tersebut mendarat pada Adele. Musisi sekelas Justin Bieber sekalipun sudah bersyukur sekali jika bisa menembus penjualan 500ribu keping CD. Peran CD sedikit demi sedikit tergerus oleh iTunes dan Youtube. Mungkin 5-10 tahun lagu, CD hanyalah koleksi fisik langka yang dipamerkan di museum-museum musik.



0 komentar: