Kamis, 04 Februari 2016

Siti by Eddi Cahyono

 Awalnya saya ragu menonton film terbaik 2014 versi FFI ini. Pertama: tone film ini hitam putih. Kedua: sutradara dan rumah produksinya kurang dikenal. Ketiga: ini film festival, yang berarti bakal membosankan atau terlalu mbulet. Tapi rasa penasaran mengalahkan keraguan. Bioskop dekat rumah pun menyediakan film ini walau hanya satu layar. Di Jogja, yang menjadi setting cerita ini, tiga merk bioskop mempersembahkan total 5 layar.
Berbekal tiket seharga Rp 30ribu, es teh, pizza, dan tisu, saya memantapkan hati untuk menonton Siti. Dalam satu ruangan berkapasitas 200 penonton, cuma ada 10 orang yang menonton Siti. Layar sebelah yang menayangkan Surat Dari Praha agak lebih baik, ada 15 orang yang menonton, walau masih kalah jauh dibanding Single yang siang itu berhasil menarik puluhan anak SMP, atau Atlantos yang ditonton tiga puluhan anak TK beserta guru mereka.
Siti sanggup menyajikan pesan yang dalam melalui dialog-dialog yang diucapkan wajar tapi terasa menusuk, dan interaksi antar tokohnya. Akibat suami yang lumpuh total setelah kecelakaan, Siti harus menanggung biaya hidup keluarganya plus dituntut melunasi hutang suaminya. Ketika ia memutuskan menjadi pramuria karaoke tepi pantai Parangtritis, suaminya mogok bicara. Usaha Siti berjualan peyek jingking hanya menghasilkan Rp 15ribu/hari. Putus asa, ia meminjam uang ke kenalan lama yang sudah lama naksir dirinya.
Bagi teman saya, kekuatan utama film ini terletak pada banyaknya cowok-cowok tampan yang bertebaran. Bagi saya, kekuatan utama Siti terletak pada gambar-gambar hitam putih yang sangat artistik, musik dan tata suara yang menyentuh, serta diaolog yang tajam tapi nyata. Semua orang di Jogja mengenal Siti-Siti lain yang biasa ditemui di pantai Baron, Krakal, Parangkusumo, Kukup, Depok, atau di kawasan wisata Kaliurang. Kami semua tahu kerasnya kehidupan mereka. Tapi tidak pernah saya merasa tertampar seperti saat menonton Siti. Mereka ada di sekita kita, mereka butuh pertolongan, tapi kita memilih mengamati mereka dari jauh karena taku menjadi kotor, atau terlalu sibuk dengan gaya hidup kita, sehingga alpa memperhatikan Siti- Siti lain.
Film ini terlalu nyata, sangat realistis (saya mengesampingkan fakta bahwa Siti, suaminya, dan selingkuhannya tampak seperti supermodel nyasar di Parangtritis). Saking riilnya, tidak ada satu pun anggota keluarga dan tetangga saya yang berminat menontn Siti. Kedua orang tua saya saja memilih menonton Surat Dari Praha.

Siti sesuai bagi penyuka cerita kehidupan. Walaupun alurnya mengalir lambat, penonton tetap bisa menikmati dengan utuh. Sinematografi dan dialognya sungguh luar biasa. Sangat layak menjadi film terbaik 2015. 

0 komentar: