Rabu, 03 Februari 2016

The Intern

   Benarkah saat seseorang memasuki masa pensiun ia menjadi tidak berguna, hanya menjadi beban anak cucunya? Bagaimana jika di usia pensiunnya ia masih mampu beraktivitas normal, bahkan lebih produktif dibanding pekerja-pekerja seumuran cucunya? Bagaimana jika sang senior ini bekerja di perusahaan yang sangat kekinian, sebagai karyawan magang senior?
Itulah yang dilakukan Ben Whittaker. Pensiunan wakil presiden perusahaan pencetak buku telepon ini bosan dengan hidupnya yang hambar. Ia sudah bertahun-tahun pensiun, sudah 2 tahun ditinggal mati istrinya, dan anak-anaknya sibuk dengan keluarga masih-masing. Ia merindukan rutinitas masa produktifnya. Maka saat ada lowongan dari salah satu perusahaan rintisan dekat tempat tinggalnya, ia memutuskan melamar.
“Experience never get old” adalah tagline yang dipasang The Intern. Dalam film ini diceritakan bagaimana Ben beradaptasi dan berinteraksi dengan sesama karyawan dan bos barunya. Walau pertama-tama ia sempat diacuhkan, pelan tapi pasti ia berhasil menyesuaikan diri dan mendapat kepercayaan di kantor barunya. Ia bahkan menjadi tempat mencari solusi bagi teman-teman sekantornya yang rata-rata berusia sepertiga dirinya. Mereka berkonsultasi masalah keluarga, kantor, dan hubungan sosial mereka kepadanya.

The Intern mengisyaratkan bahwa: walaupun ada hal-hal yang terus berubah, beberapa hal tetap berlaku. Seseorang mungkin sudah menua, tapi pengalamannya selama puluhan tahun tetap relevan. Ia bisa menyesuaikan diri ke kehidupan saat kekinian dengan terus belajar, bertanya, dan berinteraksi. Ia mungkin ditinggal orang-orang yang dicintainya, tapi ia bisa menemukan cinta baru. Teman-temannya mungkin sudah meninggalkannya, tapi ia bisa berteman dengan generasi yang lebih muda.
The Intern adalah salah satu film komedi terbaik 2015. Dialog mengalir, kalimat bermakna, akting luar biasa dari Robert DeNiro sebagai Ben Whittaker, sinematografi yang bersih dan berwarna-warni, ditambah pesan moral yang dalam tapi tidak menggurui, membuat film ini layak ditonton lagi dan lagi, terutama saat kita merasa stres.
Kemampuan DeNiro membangun chemistry dan interaksi antar aktor sungguh luar biasa. Ia mampu membuat akting paling kaku sekalipun menjadi natural. Kita tidak akan menemui Nat Wolff yang kaku seperti di Paper Towns. Hampir semua aktor dan aktris “junior” (selain Anne Hathaway) aktingnya terasa pas di The Intern.

Penonton sangat mudah jatuh cinta pada karakter Ben Whittaker yang diperankan DeNiro. Ia adalah gambaran ideal kakek masa kini. Berpikiran terbuka, mau belajar, mudah berteman, berkomitmen penuh pada pekerjaan, mau mendengar, mampu memberi sejumlah saran yang tepat, dan menghargai kesetaraan gender. Ia juga tidak pikun, pikirannya masih tajam. 4.5 dari 5 bintang untuk The Intern.

0 komentar: