Minggu, 16 Oktober 2011

Weekend Vacation

     Pada hari Minggu tanggal 9 Oktober 2011 kemarin saya dan seorang teman berinsiatif untuk menjelajah kota Surakarta. Sekedar infosaja , pada weekend biasanya saya melancong ke Yogyakarta (still my very own city) atau pulang kampung ke Magelang atau bersih-bersih kamar. Karena pada hari itu teman saya ingin berbelanja kaus khas Solo jadilah kami berencana menjelajah Solo.
     Perjalanan hari itu dimulai dari kos ke Solo Balapan menjemput teman saya. Jalanan sepi karena masih sangat pagi dan kendaraan yang lewat hanya sedikit. Saya bisa berjalan atau berlari dengan bebas. Stasiun Solo Balapan seperti biasa masih sepi, beberapa orang tukang becak dan sopir taksi bersaing menawarkan jasanya dengan gigih kepada calon penumpang.

     Dari Balapan kami naik angkutan umum (PO. Atmo) ke arah Jl. Slamet Riyadi dimana sedang dilangsungkan Car Free Day (CFD). Event CFD diadakan pada hari Minggu pukul 05.00-09.00. CFD biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul, berolahraga, sekedar jalan-jalan menyusuri trotoar, dan lain-lain. Beberapa perusahaan dan organisasi memanfaatkan CFD untuk mempromosikan agenda kegiatan mereka. Contohnya Pasoepati yang mengusung isu damai antar suporter, Perpustakaan Umum yang berusaha meningkatkan budaya membaca, dan organisasi-oraganisasi lain yang berusaha menarik perhatian ribuan orang yang berkumpul di CFD.
    Sebagai sarapan kami menikmati nasi liwet yang cukup ramai dikunjungi. Nasi liwet ialah makanan khas Solo yang terdiri dari nasi yang dimasak dengan santan, telur dadar, sayur jipang pedas, dan ditaburi dadih kelapa yang kental dan bawang goreng. untuk menikmatinya kita cukup membayar IDR 3000-8000, tergantung tambahan yang kita minta. Tambahan ini mencakup daging ayam ,telur ayam, hati ayam, dan ceker ayam.
     Selesai makan nasi liwet kami berjalan-jalan di seputaran Loji Gadrung dan Stadion Sriwedari. Loji Gandrung merupakan rumah besar bergaya kolonial yang dipakai untuk rumah dinas walikota Solo. Sriwedari adalah stadion di pusat kota Solo yang hanya berisi lapangan sepakbola, tapi lebih sering dipakai untuk konser dangdut. Untuk berolahraga masyarakat lebih suka memakai Stadion Manahan yang terletak di dekat kota barat karena fasilitasnya lebih lengkap. Di Manahan disediakan fasilitas lapangan sepak bola, kolam renang, dan lapangan tennis yang membuat masyarakat lebih menikmati kegiatan olahraga.
    Di Sriwedari kami mencicipi DimSum dari Roda. Walaupun harganya agak mahal (antara IDR 12000-16500) tapi rasanya gurih dan orisinal. Saya memesan hakau, dan udangnya terasa tekstur, rasa dan baunya. Satu porsi berisi 4 buah dimsum. Selain berbagai variasi dim sum Roda juga menyediakan bubur ayam (IDR 7500) dan berbagai minuman yang mencakup teh poci, es teh, jeruk wedang dan aqua. Dim sum di Roda diklaim buatan sendiri. Tidak heran harganya agak mahal.
     Selesai mencicipi dim sum kami bergegas ke Pusat Grosir Solo dengan menelusuri trotoar. Trotoar yang tersedia di jalan slamet riyadi lebarnya sekitar 3 meter. Sangat lega bagi pejalan kaki dan motor-motor nekat yang berseliweran mencaplok jatah pejalan kaki.
     Di PGS kami berbelanja kaos dengan desai batik dan wayang (bisa dilihat di projectsfashion.com). Bahan kausnya diklaim 100% katun asli. Harga kaus yang ditawarkan berkisar IDR 35000-50000. Ada kaus-kaus obral yang dijual seharga IDR 13000-15000. Kaus reguler yang tersedia terdiri dari ukuran S,M,L dan XL. Baik kaus lengan pendek, lengan panjang (kerah dan tanpa kerah) dan kaus lengan panjang yang dilengkapi jumper tersedia di sini. Saya membeli kaus yang dijual dengan harga obral. Rasanya panas saat dipakai karena tidak menyerap keringat dengan baik.
     PGS adalah tempat belanja produk-produk garmen dan tekstil yang relatif murah. Bisa ditemui berbagai kain batik, kain, baju batik (tulis dan cap), baju impor, dan pakaian-pakaian jahitan tangan. Tersedia juga sepatu, tas dan berbagai aksesoris. Tempat ini sudah dilengkapi foodcourt dan mushola. Kalau di Jakarta, PGS mirip ITC.
    Selanjutnya kami menuju Solo Square dengan moda angkutan BatikTrans alias TransSolo. SoloSquare menurut saya adalah versi kecil dari Ambarrukmo Plaza, agak sedikit lebih luas daripada Galeria di Jogja. Tennant-tennant yang ada di ketiga tempat ini hampir sama. Bahkan desain bangunan. interior, elevator, lift, dan toilet juga mirip. Makanan di SoloSquare sebetulnya biasa-biasa saja, tapi suasananya mendukung untuk berkumpul dan mengobrol. Tidak heran makanan yang dipesan terus bertambah.
     Sesudah berkeliling selama 7 jam di kota Solo kami menuju ke Stasiun Purwosari, dimana teman saya akan pulang ke Yogyakarta. Ternyata stasiun ini di waktu siang sangat penuh. Orang-orang sibuk berpindah antar kota (Solo, Jogja, Madiun, Kutoarjo) karena akhir pekan. Loket yang tersedia hanya 2 buah. Maka terjadilah antrean yang panjang. Untung tidak butuh waktu lama bagi teman saya untuk mendapatkan tiket.
     Setelah seharian berjalan-jalan di Solo saya menyimpulkan bahwa untuk sebuah tempat wisata Solo cukup bagus untuk dikunjungi dalam jangka waktu pendek. Tapi untuk wisata jangka panjang agak membosankan. Obyek wisatanya memang banyak, namun angkutan umum yang tersedia sering tidak mampu menjangkaunya. Kita tetap harus menyewa kendaraan bila ingin berwisata ke Grojogan Sewu, Kemuning, Danau Sarangan, atau museum-museum seantero Solo.

3 komentar: