Senin, 03 Desember 2012

Big Cap di Reksadana


Selama beberapa tahun mengamati industri reksadana (sebagai pengamat amatir), saya menemukan bahwa sebagian besar reksadana memasukkan big cap untuk sebagian besar portofolio mereka. Big cap mencakup Astra International (ASII), Bank Mandiri (BMRI), BBCA (Bank BCA), HM Sampoerna (HMSP), Unilever (UNVR), Telkom (TLKM), Bank BRI (BBRI), dan Perusahaan Gas Negara (PGAS).  Berdasarkan pengamatan saya, ada beberapa alasan Manajer Investasi memilih big cap.

Pertama: beberapa saham big cap fluktuatif, terutama Astra (ASII) dan bank BRI (BBRI). Fluktuasi mingguannya bisa mencapai ±300 rupiah. Dalam satu hari bisa naik/turun 100 rupiah. Investor asing rajin menperdagangkan Astra, dalam sehari nilai transaksi bisa mencapai 300 milyar rupiah.
Alasan kedua: semua saham big cap fundamentalnya bagus. Mereka adalah perusahaan yang sudah matang, rajin berinovasi, memiliki manajemen baik, mampu mencetak keuntungan konsisten dan punya aset di atas 50 trilyun rupiah. Kalaupun bukan perusahaan matang dan rajin berinovasi, biasanya BUMN yang maju bekat dukungan pemerintah.
Perusahaan yang rajin membagi dividen dalam jumlah besar biasanya bergerak di sektor konsumsi seperti unilever, gudang garam dan sampoerna. Apapun perubahan kebijakan yang disusun pemerintah, mereka nyaris tidak tersentuh. Mereka punya jaringan lobi yang kuat dan berakar di pemerintah dan parlemen.
Keempat, dalam jangka panjang kedelapan perusahaan tersebut bergerak di sektor yang terus tumbuh. Pembangunan infrastruktur di Indonesia belum maksimal dan masih banyak daerah yang tertinggal. Mereka akan terus menerus membangun infrastruktur di daerah-daerah.
Karena fundamentalnya bagus, perusahaannya sudah banyak dikenal dan punya manajemen bagus, investor (yang berinvestasi jangka panjang) merasa lebih aman bila memegang big cap. Tidak hanya investor lokal yang berinvestasi di big cap. Sebagian investor asing dan perbankan investasi seperti Credit Suisse dan Morgan Stanley pun berinvestasi dalam jumlah besar di big cap. Mereka tidak hanya trading saja, mereka lebih suka berinvestasi untuk jangka panjang. Investor asing kelas kakap inilah yang menimbulkan perasaan ada yang menjaga suatu saham tidak sampai turun drastis.
Faktor lain yang (semoga jangan sampai ada) juga berpengaruh adalah kalau ternyata Manajer Investasi yang mengelola penakut dan mau yang aman-aman saja, dan tidak bisa menebak arah pasar. Jadi mereka cenderung menaruh big cap di portofolio reksadana kelolaan supaya tidak disalahkan Direktur atau Komisaris.

0 komentar: