Selasa, 04 Desember 2012

Metodologi Analisa Saham : Outlook Ekonomi


Kemarin-kemarin saya sudah bercerita tentang bagaimana memilih investasi berdasarkan jangka waktu dan tujuan berkali-kali. Jangan bosan ya teman-teman J . Kali ini saya akan berbagi pengalaman memilih investasi saham berdasarkan pendekatan top down. Top down berarti memilih berdasar pendekatan umum lalu mengerucut ke pendekatan khusus.
Di harian kontan atau investor sering sekali dibahas pilihan saham-saham per sektor tiap bulan desember atau januari. Biasanya diawali dengan edisi Outlook Ekonomi tahun xxxx , prediksi naik turun tiap industri, diakhiri dengan edisi calon Top Performers tiap emiten saham.
Urut-urutan mereka menyesuaikan pakem analisa pemilihan saham perusahaan dari makro ke mikro. Diawali dengan analisa ekonomi, lalu analisa industri dan diakhiri dengan analisa saham. Bisa saja langsung lompat ke analisa saham, tapi sebagus-bagusnya finansial dan teknikal analisis kalo penjualan jeblok karena kondisi makro ekonomi turun tetap saja membuat harga saham meluncur jatuh.
Analisa ekonomi yang sering diberi judul Outlook Ekonomi memuat pendapat dan analisa kondisi ekonomi selama setahun yang akan datang dari pihak pemerintah (Kepala BKPM, Menteri Keuangan, Wakil Presiden), CEO perusahaan terkemuka, analis perbankan dan pasar modal, serta redaktur senior media ekonomi ternama.
Untuk versi optimis dari Outlook Ekonomi saya condong ke Globe Asia dan anak-anaknya(Investor, The Jakarta Globe). Versi pesimisnya paling bagus Majalah Tempo. Globe Asia condong memberi harapan luar biasa tinggi dengan pandangan sangat positif dan nyaris tanpa kekurangan. Tempo memberi argumentasi yang dilengkapi data-data statistik dan opini pihak pemerintah, redaktur dan analisa perbankan.
Dalam Outlook Ekonomi, para ahli tersebut memprediksi kondisi ekonomi, hambatan dan peluang Indonesia.  Hambatan dan rintangan apa saja yang mungkin muncul, potensi kemajuan Indonesia dan bagaimana memanfaatkannya, serta prediksi sektor mana saja yang mungkin tumbuh.
Prediksi mereka juga belum tentu betul. Desember 2011 mereka memprediksi komoditas batubara dan sawit akan terus naik. Ternyata Mei 2012 pemerintah mengeluarkan aturan larangan ekspor mentah 25 bahan tambang disusul melambatnya ekonomi China di bulan Juni. Sejak saat itu harga saham-saham pertambangan dan sawit meluncur turun.
Sebagian prediksi mereka benar karena contohnya terlihat jelas sekali di manapun. Sektor otomotif, konsumer, perbankan dan ritel tetap naik walau krisis Eropa dan China mengancam. 

0 komentar: