Kamis, 06 Desember 2012

Metodologi Analisa Saham : Analisis Industri


Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di Dunia. Jumlah penduduk yang melebihi 200 juta orang merupakan berkah bagi sektor konsumsi yang harus memenuhi hajat hidup orang banyak. Sektor konsumsi mencakup produsen barang kebutuhan sehari-hari (sembako) seperti: beras, deterjen, sabun&shampoo(toilettries), mie, biskuit. Sektor otomotif, produsen mobil dan motor, kadang juga dimasukkan ke dalam sektor otomotif.
Jumlah penduduk lebih dari 200 juta adalah berkah sekaligus peluang bagi sektor konsumsi. Meningkatnya jumlah kelas menengah dan semakin meratanya distribusi uang meningkatkan penjualan dan keuntungan perusahaan konsumsi.
Sektor lain yang mendapat berkah dari jumlah penduduk besar dan meratanya kekayaan adalah sektor perbankan. Semakin makmur penduduk suatu negara, semakin besar kesadaran mereka untuk menabung di bank.
Perbankan di Indonesia semakin kaya karena mereka membebankan biaya pemeliharaan tabungan kepada nasabah dalam bentuk biaya bulanan dan biaya atm, sedangkan bunga kredit usaha yang diberikan sangat tinggi. Bunga tabungan maksimal 2.5% per tahun, biaya bulanan 5ribu-12ribu, biaya atm seribu per bulan, bunga kredit lebih dari 10% per tahun. Hitunglah besarnya keuntungan perbankan selama setahun. Sebagai informasi, keuntungan bank Niaga (yang tidak termasuk 5 bank besar di Indonesia) lebih dari 1trilyun rupiah per kuartal.
Walaupun perusahaan-perusahaan pertambangan dan sawit (atau sektor komoditas) berhasil membawa Indonesia masuk G20, tapi kontribusi mereka di dalam negeri relatif kecil dibanding sektor perbankan dan konsumsi. Perusahaan-perusahaan di sektor komoditas biasanya mengeruk Sumber Daya Alam Indonesia lalu menjualnya ke konsumen di Jepang, Amerika Serikat,China, India atau Eropa.
Untuk urusan distribusi, sektor sawit lebih adil daripada pertambangan. Perusahaan-perusahaan tambang lebih suka menjual batubara atau gas ke mancanegara sementara PLN menjerit-jerit minta pasokan gas dan batubara kalori tinggi. Sebagian produksi pabrik sawit disalurkan ke pasar-pasar tradisional lokal dan supermarket. Jarang sekali muncul di berita soal kelangkaan minyak goreng. Kalaupun langka di suatu daerah, biasanya karena masalah transportasi.
Produsen-produsen batubara seperti Bukit Asam atau Adaro lebih suka menjual batubara kalori tinggi ke China atau Eropa. Batubara kalori rendah yang beracun dan menyebabkan kanker dijual ke PLN. Distribusi gas dikuasai spekulan. PGN harus bernegosiasi dengan spekulan kalau ingin mendapatkan gas.
Menurut saya (dan analis-analis lain), industri yang relatif kebal krisis antara lain konsumer dengan emiten Unilever, Indofood Group (INDF,ICBP,ROTI), Tiga Pilar (AISA). Ritel ikut mendapatkan keuntungan dengan menjadi distributor produk-produk konsumsi (AMRT, MAPI,RALS,MPPA, HERO). Ditopang oleh besarnya jumlah penduduk dan kebutuhan yang terus meningkat membuat sektor ini terus maju. Unilever dan Indofood juga rajin melakukan inovasi terhadap produk-produknya untuk menghindari kemungkinan penjualan mereka disalip inovasi-inovasi pesaing.

0 komentar: