Jumat, 17 Mei 2013

Inflasi

Inflasi atau kenaikan harga adalah indikator kemakmuran yang merata atau peningkatan kesejahteraan warganya. Setiap awal bulan, Biro Pusat Statistik mengumumkan angka inflasi bulanan dan tahunan.

Inflasi rendah bisa berarti uang hanya dipegang kalangan tertentu saja yang tidak mau memutar uangnya, tidak ada inovasi berarti untuk membuat perekonomian makro maju yang membuat perputaran uang melambat sehingga tidak ada pertumbuhan pendapatan di masyarakat.
Inflasi tinggi bisa berarti perputaran uang tinggi, ada distribusi kekayaan yang lebih merata, inovasi dan kewirausahaan berkembang pesat sehingga ada pertumbuhan pendapatan di masyarakat. Karena barang yang beredar banyak, pendapatan naik dan masyarakat doyan belanja, harga-harga ikut naik.
Komponen utama dalam kenaikan harga adalah permintaan dan ketersediaan barang. Kalau barang tersedia banyak sementara permintaan tetap, harga barang bisa turun. Sedangkan kalau banyak membutuhkan suatu barang sementara produksi tetap, harga bisa naik. Untuk menjaga harga suatu barang, produsen (atau pemerintah) bisa menjaga jumlah barang yang beredar atau berinovasi dengan barang pengganti.
Contohnya daging sapi, produksi jelas tidak sebanding dengan permintaan. Jadi pilihannya ada dua: impor dengan jumlah tertentu atau konsumen yang tidak kebagian bergeser ke daging lainnya ( kambing, ayam, kuda, kerbau, ular, ikan, daging sintetis dari tofu). Paling murah dan mudah adalah bergeser ke daging ayam dan ikan. Impor ada di tangan petinggi partai yang memegang departemen pertanian, jadi tidak mungkin konsumen mendapatkan dengan cepat.  Permintaan ikan dan ayam yang naik (akibat langkanya sapi) mendorong harga ayam dan ikan juga naik. Jadi ada penyebaran kekayaan dari pedagang sapi (yang apes karena tidak dapat kuota dari partai) ke pedagang ayam dan ikan.
Tapi kalau harga naik terlalu cepat karena ketidak becusan pemerintah mengatur permintaan dan ketersediaan, inflasi yang memeratakan kesejahteraan patut dipertanyakan. Apalagi kalau urusan permintaan dan penawaran ini sampai jadi bancakan partai politik.
Contoh kasus harga naik terlalu cepat ini bisa dilihat pada harga apartemen-apartemen yang diiklankan di televisi. Disitu disebutkan harga naik tanggal sekian. Disini yang berpengaruh bukan lagi permintaan dan ketersediaan, tapi kerakusan pengembang dalam meraup keuntungan dan masyarakat yang tergiur keuntungan cepat. Harga memang naik, tetapi setelah harga apartemen naik, jarang ada orang yang bersedia membeli. Dan harga apartemen dijaga tetap di atas karena pengembang tidak ingin harga dagangannya jatuh.
Inflasi bisa dikendalikan dengan mengatur jumlah uang beredar. Tugas ini diemban oleh Bank Sentral, disini oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia bisa mengatur peredaran uang dengan menaik-turunkan suku bunga,atau mengatur Giro Wajib Minimum (minimal modal yang harus disetor bank komersial kepada bank sentral), atau membeli surat hutang dari pemerintah. Tugas mengatur peredaran uang ini disebut wewenang moneter.

0 komentar: