Sabtu, 18 Mei 2013

Pride and Prejudice oleh Jane Austen


Cerita klasik dari Jane Austen ini mengingatkan saya dengan Little Womennya Louisa May Alcott. Perbedaan mendasarnya adalah latar belakang cerita (Pride and Prejudice lokasinya di Inggris) dan saat terjadinya cerita (Little Women lebih modern dari Pride and Prejudice). Perwatakan tokoh utamanya mirip. Elizabeth dan Jo sama-sama berwatak bebas dan tidak mau diatur. Walau menurut deskripsi dan film adaptasinya, Elizabeth lebih cantik dan kurus daripada Jo. Versi film adaptasi Pride and Prejudice diperankan oleh Keira Knightley dan Matthew McFadyen. Versi film adaptasi Little Women diperankan oleh Winona Ryder dan Claire Danes.
Pride and Prejudice bercerita tentang kisah hidup dan cinta Elizabeth Bennett dan Fitzwilliam Darcy. Elizabeth yang berwatak penuh prasangka (prejudice) dan Darcy yang angkuh harus melalui sekian waktu, dialog, pertemuan, pergaulan dan lika-liku hidup sampai bisa bersama. Awalnya Elizabeth menolak lamaran Darcy karena tidak menyukai sifat angkuh dan terpengaruh persepsi orang lain.

Versi Pride and Prejudice yang saya baca adalah versi asli dari Project Gutenberg. Akibatnya, saya agak kesulitas mencerna kata-kata penyusun cerita. Novel aslinya dipenuhi kata-kata sulit yang jarang sekali bisa ditemukan di bacaan atau buku karya penulis Britania abad 20-21. Tapi versi terjemahan yang bisa ditemukan di Gramedia lebih mudah dimengerti. Versi originalnya butuh waktu sekitar satu minggu sampai tamat. Kalau lebih tidak mau buang waktu, filmnya bisa dipinjam di persewaan terdekat dengan hanya 3ribu J
Jane Austen dengan cerdas meramu berbagai macam karakter ke dalam cerita utuh. Bervariasinya karakter manusia membuat alur cerita Pride and Prejudice menarik diikuti. Ada Mrs. Bennett yang materialistis, Mr.Bennett yang acuh, Jane Bennett yang tidak pernah menilai buruk orang lain dan kaku, Charles Bingley yang tidak punya pendirian, Wickham yang pemalas dan matre, atau Georgiana Darcy yang pemalu.
Melalui Pride and Prejudice, Austen mengajak kita berpetualang ke dunia Inggris abad 19. Kita jadi tahu kehidupan dan struktur masyarakat saat itu. Kebanyakan kalangan menengah saat itu hidup dari uang sewa tanah dan rumah (properti). Jarang sekali orang berdagang atau jadi investor, kecuali di London. Kaum wanitanya cenderung berdiam di rumah, entah memasak, merajut atau menjahit. Beberapa diantaranya membaca dan belajar, seperti Mary Bennett. Struktur masyarakat lebih cenderung komunal. Sopan santun sangat dijunjung tinggi dan kaum bangsawannya berpikiran picik (disimbolkan oleh Lady Catherine deBorgh), seperti kaum keraton Solo.
Kekurangannya, sedikit sekali humor atau penyegar yang diselipkan Austen. Mulai dari awal sampai akhir nyaris tidak ada lelucon yang diselipkan. Sedikit penyegar muncul ketika Elizabeth dan Darcy bercengkrama di Derbyshire dan Pemberley, tapi sesudah itu nyaris tidak ada. Bahkan pesta makan malam pun terasa kaku dan suram.
Setelah membaca 4 halaman pdf atau 36 halaman epub, saya mudah sekali mengantuk. Kata-kata yang sulit dicerna butuh kerja otak ekstra untuk dicerna. Solusinya: setelah membaca 10 menit, saya berjalan-jalan selama 2 menit supaya otak dan mata tetap segar.
Secara keseluruhan, Pride and Prejudice adalah novel klasik yang wajib dibaca. Romannya tidak cengeng dan tragis seperti Romeo&Juliet. Protagonis wanitanya kuat dan bisa menentukan nasibnya sendiri, protagonis prianya gentleman yang menghormati pendapat kekasihnya. Seusai tamat membaca saya sering membuka dan membaca ulang bab-babnya untuk mengingatkan diri bagaimana cerita bagus disusun.

0 komentar: