Minggu, 22 Juni 2014

Jack Ryan Shadow Recruit : Kombinasi Teror Finansial dan Teror Klasik

image belongs to www.flavourmag.co.uk
Apa yang terlintas di pikiran kita jika mendengar kata teror? Biasanya ledakan bom atau tembakan senjata. Kebanyakan film dan tontonan menekankan pada dua hal itu. Tapi Jack Ryan: Shadow Recruit berbeda.
Perkenalkan teror finansial. Sebuah teror cara baru yang tidak melibatkan bakteri, virus, bom, senjata api ataupun senjata pemusnah massal. Jenis teror ini, dari namanya saja, dibutuhkan perencanaan, kecermatan, perhitungan dan tentunya dana finansial sangat besar. Tingkat kerusakan yang dihasilkan lebih besar dari senjata api. Orang-orang yang terkena akibatnya tidak akan mati, tapi hidup menderita seumur hayat.
Di Jack Ryan: Shadow Recruit kita diperkenalkan dengan teror finansial dalam bentuk kejatuhan mata uang dolar. Seperti halnya Batman: The Dark Knight Rises, Shadow Recruit menyajikan salah satu bentuk financial engineering. Kalau Batman menyajikannya lebih langsung dan brutal, Shadow Recruit menggambarkan financial engineering yang rapi, berisiko rendah, tapi rumit dan nyata.
Ya. Nyata. Di dunia nyata, bukan di film, sebuah kegiatan financial engineering membutuhkan otak yang cerdas, yang mampu membuat rencana rapi dengan dukungan dana luar biasa besar. Financial engineering tidak bisa dilakukan dalam sehari, melainkan berbulan-bulan hingga tahunan. Dibutuhkan alokasi aset dan akun sekuritas yang sangat terdiversifikasi dan tersebar di berbagai negara untuk menjatuhkan sebuah mata uang utama.
Berangkat dari ide teror finansial lah Tom Clancy membuat serial Jack Ryan. Dan dengan ide itulah Shadow Recruit dieksekusi. Dari segi aksi Shadow Recruit terasa kering. Sangat jarang aksi tembak-tembakan atau kejar-kejaran ala Transformers. Dua menu wajib aksi ini hanya menonjol di sepertiga cerita akhir. Dialognya juga tidak begitu menancap seperti Batman. Kekuatan utama Shadow Recruit terletak pada jalinan ceritanya yang membungkus terorisme, jaringan finansial dan intelijen menjadi satu cerita utuh yang nyata dan masuk akal.
Kelemahan cerita yang terasa begitu nyata ini adalah: karena tingkat risikonya yang sangat tinggi, tidak ada negara waras di manapun yang mau mencoba menjatuhkan mata uang negara lain. Perdagangan dan kepercayaan antar negara menjadi taruhannya.

Akting Keira Knightley, Chris Pine dan Kevin Costner tampak biasa saja di film ini. Mereka seolah tidak mengerahkan kemampuan akting terbaiknya. Atau mungkin memang hal itu yang diharapkan sutradara Kenneth Branagh dari film ini. Yaitu cerita yang kering drama tapi nyata dan bisa ditemui di keseharian. Ia ingin membuat ancaman teror itu seolah nyata. Dan ia berhasil.

0 komentar: