Rabu, 02 Desember 2015

Bekisar Merah By Ahmad Tohari

Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu karya sastra wajib siswa sekolah dasar tahun 90an, termasuk saya. Cerita tentang kehidupan seorang penari ronggeng antara 1960-1970an itu memotret interaksi birokrat, tentara, dan rakyat jelata. Sebagaimana Ronggeng Dukuh Paruk, Bekisar Merah juga mengambil latar waktu yang sama dengan lokasi berbeda. Jika novel pertama berlatarkan Karesidenan Banyumas, novel kedua mengambil tempat di suatu desa perbatasan Sunda dan Banyumas, yaitu desa Karangsoga, dan Jakarta.
Lasiyah, gadis peranakan Sunda-Tiongkok, kabur ke Jakarta setelah mendapati suaminya selingkuh dengan wanita lain. Di Jakarta ia terjerumus menjadi istri siri seorang birokrat. Ketika ia terseret dalam kehidupan pelobi kekuasaan dan berjumpa dengan teman masa kecilnya, kegelisahan melanda. Ia bingung menghadapi cinta pertamanya, resah dengan status pernikahannya, dan gelisah menghadapi orang-orang berpengaruh.


Bekisar Merah membawa pembacanya kepada realita hidup pedesaan dan mengkontraskannya dengan kehidupan Jakarta. Perjuangan penderes nira dibenturkan dengan kehidupan juru lobi. Daya tarik kedua hal yang berbeda ini membawa Bekisar Merah menjadi novel yang layak dibaca dan dikoleksi, sebagai potret gelap Indonesia di awal Orde Baru. 

0 komentar: