Kamis, 03 Desember 2015

Hindari Menjadi Golongan Putih

Tanggal 9 Desember 2015 besok akan diadakan Pilkada serentak. Ada 8 provinsi, 170 kabupaten, dan 26 kota yang akan menggelar pemilihan kepala daerah pada hari yang sama. tanggal 9 desember adalah hari rabu yang notabene adalah hari kerja, jadi wajar kalau kita memilih untuk bekerja dibanding meluangkan waktu untuk memilih kepala daerah, alias tidak memilih, alias golput. Apalagi kalau selama ini kita merasa bahwa pendapat kita tidak pernah didengar kepala daerah. Buat apa repot-repot memilih kalau hasilnya sama saja?
Add caption
Menurut pendapat Bruce Bueno DeMesquita dan Alastair Smith dalam The Dictator’s Handbook, influentials (orang yang memilih menggunakan hak pilihnya) dan essentials (pemilih partai atau kandidat tertentu) adalah dua kelompok yang sangat penting menentukan arah kebijakan seorang pemimpin atau partai. Influentials dan essentials bisa mengganti pemimpin yang tidak disukai, dan memilih pemimpin lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Orang yang memilih menjadi golongan putih, tidak menjadi bagian dari influentials ataupun essentials, tidak bisa mengkritik atau mengganti pemimpin yang tidak disukai, karena ia memilih tidak menggunakan hak pilihnya. Ia hanyalah interchangeables, seseorang yang punya hak memberi suara. Tidak lebih.
Jika kita memilih menggunakan hak pilih kita, maka kita termasuk influentials. Seorang influentials akan melakukan riset menyeluruh tentang kandidat pemimpin yang tersedia, mencari siapakah yang paling dapat memenuhi aspirasi dan kebutuhannya. Saat ini, seorang influentials bisa melakukan riset lewat situs www.kpu.go.id , Wikipedia, bahkan Youtube. Ia juga bisa melakukan riset langsung seperti menghadiri acara-acara kampanye, bahkan debat antar kandidat. Saat seorang influentials sudah menemukan kandidat mana yang paling sesuai, dan memutuskan memilih kandidat tersebut, saat itulah ia menjadi seorang essentials.
Seorang essentials bisa bertindak pasif maupun aktif. Essentials yang aktif akan mengajak seluruh kenalan atau anggota keluarganya memilih kandidat pilihannya. Saat pilkada/pemilu berakhir, essentials jenis ini bisa saja diberi saja diberi jabatan atau proyek atas jasa-jasanya. Ia pun bisa menjadi pengkritik paling logis dan paling keras bila ada kebijakan pemerintah terpilih yang tidak sesuai dengan aspirasinya. Essentials yang pasif, yang tidak suka pengumuman atau gembar-gembor, tetap mendapat keuntungan saat kandidatnya menang atau kalah, karena ia sudah memperoleh pendidikan politik.
Jika seseorang memilih menjadi golongan putih, memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya, itu berarti ia memperkecil jumlah essentials dan influentials. Semakin kecil jumlah essentials dan influentials, semakin kecil jumlah orang yang akan meminta tanggung jawab seorang pemimpin, sehingga semakin bebas ia menggunakan kekuasaannya. Kecilnya jumlah orang yang meminta tanggung jawab memungkinkan seorang pemimpin berubah menjadi diktator.
Jika kita memilih untuk tidak memilih, kita meningkatkan kemungkinan seorang pemimpin mejadi diktator yang memerintah semena-mena. Kita bisa membantu menciptakan Hitler gaya baru. Oleh karena itu, kita perlu menggunakan hak pilih kita.
Janganlah jumawa jika kandidat kita menag, karena kelak pasti ada kebijakannya yang tidak sesuai dengan aspirasi kita. Dan janganlah berkecil hati bila kandidat kita kalah, karena akan ada kesempatan lain yang datang. Suara kita menentukan siapa yang berkuasa. Janganlah menjadi golongan putih, karena suara kita akan sia-sia.

0 komentar: