Selasa, 01 Maret 2016

Animal Farm by George Orwell

Ada dua novel luar biasa yang saya baca di sepanjang bulan Januari 2016, yaitu novel legendaris George Orwell: Animal Farm, dan Jalan Lain Ke Tulehu karya Zen RS. Novel pertama berkisah tentang kekuasaan, yang kedua tentang pertikaian dan kenangan. Keduanya terlihat menonjol dibandingkan fiksi-fiksi lain karena berani mengangkat tema yang dekat dengan keseharian tapi diabaikan, ditakuti, dan dipandang sinis.
Animal Farm berkisah tentang kekuasaan dalam metafora sekelompok hewan di peternakan. Novel ini seolah menggambarkan kondisi bangsa Indonesia di rentang waktu perjuangan kemerdekaan hingga puncak kekuasaan Soeharto, dari tahun 1925-1990. 

Sekelompok hewan di peternakan terpesona pidato seekor tetua babi bergerak mengorganisasi diri untuk memberontak melawan manusia pemilik lahan peternakan. Pasca berhasil mengusir manusia, dua babi paling cerdas: Snowfall dan Napoleon, mengangkat diri menjadi pemimpin. Snowfall yang pandai bicara, cerdas, berorientasi pendidikan dan pemerataan kesejahteraan segera menjadi pemimpin peternakan tersebut. Kekuasaannya berlangsung sangat singkat karena ia segera diusir Napoleon yang militeris dan tiran. Hewan-hewan lain yang tidak secerdas kedua babi tersebut, cuma menurut saja. Mereka menurut saat disuruh-suruh, dipaksa kerja rodi, dan dibuat kelaparan demi kelangsungan hidup babi-babi yang lebih cerdas.
Dalam konteks Indonesia, Snowfall adalah Soekarno: pandai bicara dan merencanakan tapi lemah berstrategi, hingga ia bisa diusir anjing-anjing Napoleon. Napoleon adalah Soeharto, kejam dan militeris, lebih peduli kelangsungan hidup diri sendiri dan kroni-kroninya, tega membantai rakyatnya, dan memelihara anjing penjanga yang kejam dan haus darah. Squealer, babi ketiga, adalah Harmoko: cerewet, pandai memelintir berita, tapi hanya peduli pada perutnya.
Walau tipis dan bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam, Animal Farm menggambarkan suksesi kekuasaan negara yang baru merdeka dengan tepat. Saya dibuat merinding saat membacanya. Ada rasa berkecamuk saat membaca nasib Boxer si kuda dan kesembilan induk ayam yang dibantai, serasa sedang membaca berita pembantaian warga Talangsari atau penindasan oleh tentara di Urutsewu. Gambaran Napoleon yang minum-minum dengan manusia saat menjual hasil kerja keras hewan-hewan lainnya mengingatkan saya akan pesta-pesta pak harto dan kroni-kroninya saat berhasil menjual Gunung Grasberg.

Animal Farm adalah novel legendaris yang wajib dibaca siapapun. Orwell mengingatkan pembacanya untuk meningkatkan kemampuan diri, terutama kemampuan menganalisis, dan dokumentasi yang akurat, dan mengasah kemampuan berorganisasi agar tidak mudah ditindas. 

0 komentar: