Rabu, 02 Maret 2016

Jalan Lain Ke Tulehu By Zen Rs

Novel kedua yang berkesan dan terus menghantui saya adalah Jalan Lain Ke Tulehu dari Zen RS. Novel yang diadaptasi menjadi film terbaik tahun 2014 dengan judul yang sama ini berkisah tentang konflik multi dimensional di Ambon dan kekuatan kenangan. Gentur, seorang wartawan feature yang ditugaskan di Ambon, menyaksikan dan mengalami sendiri kompleksnya situasi konflik di Ambon. Di tenga-tengah konflik, kenangan almarhum kekasihnya dan konflik 1998 berhamburan di ingatannya, mengungkit kembali pertentangan batin lama: berbohong untuk menyelamatkan nyawa versus jujur tapi tewas. Novel ini secara mengejutkan berhasil menggambarkan konflik tanpa tendensi menghakimi. Ada sejarah yang bertaut prasangka, ingatan yang dibelokkan, adu kuat kepentingan, dan dialog yang gagal. Ada pula peran “pendakwah” dari luar Ambon yang justru memperkeruh suasana dengan memaksakan nilai moral mereka sendiri.

Walau tidak terlalu tebal, Jalan Lain Ke Tulehu cukup sulit diselesaikan karena sebagian besar dialog menggunakan bahasa Ambon. Kemampuan Zen RS merangkai  kata dan alinea yang membuat pembaca berempati. Membuat saya harus berhenti tiap beberapa lembar untuk menenangkan diri dan mengulang halaman-halaman depan. Kemampuan penulis merangkai plot dan alur yang mengalir tapi tetap membuat pembacanya enggan melepaskan buku patut diacungi jempol. Jalan Lain ke Tulehu mungkin tidak menghanyutkan seperti Supernova, tapi novel ini sanggup membuat kita bertanya-tanya: kenapa konflik agama terus-menerus hadir dan memakan korban orang yang tidak tahu apa-apa?

Berbeda dengan versi layar peraknya, porsi sepakbola dalam versi novel ini lebih sedikit. Sepakbola, dan sejarah pemain-pemain sepakbola Indonesia asal Tulehu, hanya memakan porsi 20% dari keseluruhan cerita, berbeda dengan versi filmnya yang mencapai 70%. Porsi konflik jauh lebih besar. Bagi pembaca yang baru tertarik membaca novelnya sesudah menonton versi film, buku ini seolah melengkapi  dan memberi penjelasan tentang konflik Ambon. Kekuatan dialog, penggunaan alur kilas-balik yang tidak biasa, dan penuturan konflik yang tidak menghakimi membuat buku ini layak mendapat 4 dari 5 bintang.

0 komentar: